Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

Limbah Mercury Ancam Kesehatan Masyarakat Aceh

Sebuah media online memberitakan bahwa PT Exxon Mobil membuang limbah mercury (Hg) atau logam raksa ke sawah dan sungai di Cluster I Syamtalira Aron, di Desa Hueng, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara. Akibatnya areal sawah warga rusak dan sungai tercemar. Bagi warga yang menggunakan air sungai untuk mandi dan mencuci atau sebagianya, mengalami gatal-gatal. Bukan itu saja, bahkan didapati banyak ikan yang mati karena limbah mercury milik PT Exxon Mobil. Kini masih berada di PPLI Bogor untuk diteliti terkait kadar zat berbahaya terkandung di lokasi pemboran minyak tersebut (www.rakyataceh.com, 19/10/2010).
Kejadiannya, menurut mantan pekerja Exxon Terpiadi A Majid, saat itu sedang terjadi hujan besar sehingga penampungan air di dalam Cluster I meluap. Kemudian penutup dibuka oleh petugas Exxon sehingga mengalir ke sawah dan irigasi. Warga pun mengadakan protes dan meminta Exxon menghentikan pembuangan. Pihak PT Exxon Mobil mengadakan aksi peduli dengan membersihkan lokasi temuan mercury. Menurut media tersebut, dalam rentang waktu mulai tahun 1977 sampai sekarang perusahaan itu telah memproduksi bahan B3 alias zat kimia berbahaya termasuk mercury dalam jumlah besar. Namun sampai saat ini, perusahaan Amerika itu masih merahasiakan keberadaan limbah kimia yang diproduksinya, apakah ditanam dalam tanah atau dibuang ke daerah lain.
Menurut Direktur Walhi Aceh, TM Zulfikar, merkuri adalah produk sampingan dalam proses pemurnian gas alam seperti ExxonMobile. Merkuri bersama zat-zat pengotor lainnya, seperti sulfur dan air dipisahkan dari fraksi-fraksi gas alam lain. Ciri merkuri adalah cairan berwarna kuning keemasan, cairan tersebut bisa mematahkan logam apabila dimasukkan ke dalam cairan. Sesuai dengan Permen LH No 18/2009 tentang Tata Cara Perizinan Pengelolaan Limbah B3 pasal 2 ayat (2) disebutkan, penghasil limbah B3 tidak dapat melakukan kegiatan penggumpalan limbah B3 sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) huruf c. Dengan demikian, pihak ExxonMobile sebagai penghasil limbah tidak diperkenankan mengelola limbah merkurinya sendiri, tetapi harus menyerahkannya kepada pihak lain. Namun, sejauh ini belum terdengar siapa pengelola limbah ini.
Tidak hanya di Aceh Utara, di Kabupaten Aceh Selatan pun limbah mercury banyak bertebaran pada areal pengolahan emas tradisional di Gunung Alue Buloh, Desa Panton Luas, Kecamatan Sawang. Tambang emas di kawasan Gunung Alue Buloh, Sawang itu sendiri adalah milik daerah sehingga merupakan asset pemerintah kabupaten Aceh Selatan. Tempat pengolahan emas gelondongan di Sawang sudah mencapai 114 unit (Serambinews.com).
Pada penambangan emas tradisional, merkuri digunakan untuk memisahkan butiran emas dari tanah, pasir atau bebatuan. Para penambang emas tradisional demi mendapatkan butiran emas, setiap hari mengguyurkan merkuri ke pasir, tanah, dan bebatuan. Di Kecamatan Sawang terdapat sungai Krueng Sawang yang airnya diperkirakan sudah terkontaminasi limbah merkuri karena bagian terbesar dari limbah merkuri itu hanyut ke sungai selain terserap oleh tanah. Penambang emas juga kadang menggunakan Tromol, sebuah alat berat pengolahan biji dan pasir menjadi emas dengan menggunakan air keras.
Pemerintah Aceh Selatan berada pada situasi dilematis antara kepentingan ekonomi, dan ekologi. Apabila penambangan emas tradisional itu dihentikan dan ditutup maka akan berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar, sementara bila dibiarkan akan mengancam keselamatan dan kesehatan masyarakat sebagai dampak negatif dari bahan berbahaya dan beracun (B3) limbah merkuri. Solusi yang dipertimbangkan adalah menggunakan zat lain yang ramah lingkungan untuk memisahkan emas sebagai logam mulia dari tanah, pasir, atau bebatuan.
Kasus pencemaran merkuri di Aceh Selatan mirip dengan kasus pencemaran merkuri di Gorontalo akibat aktivitas penambangan emas tradisional. Berdasarkan informasi dari Djamaludin Nento, Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Bone Bolango, Rabu (9/6), ada empat aliran sungai yang ada di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, yakni Sungai Tulabolo, Mohutango, Bone, dan Sungai Tapa Daa telah tercemar limbah merkuri pada delapan titik dengan perincian: di Sungai Tulabolo, ada tiga titik yang tercemar limbah merkuri, Sungai Mohutango satu titik, sungai Bone tiga titik, dan Sungai Tapa Daa satu titik. Keempat sungai besar itu merupakan penyangga kehidupan masyarakat Gorontalo, baik untuk kebutuhan air minum dari PDAM, mandi, serta untuk kebutuhan pertanian. Air di sungai itu untuk sementara masih bisa dikonsumsi karena masih berada di bawah ambang batas rata-rata baku mutu air yakni di bawah 0,02 miligram per liter air (tempointeraktif.com).
Ancaman Penyakit
Dari aspek kesehatan masyarakat, limbah merkuri dapat menimbulkan penyakit berbahaya yang dapat menyerang sistem saraf dan otak manusia melalui aliran darah yang disebut Minamata Disease (Penyakit Minamata). Bahaya merkuri akan terlihat lima hingga 20 tahun mendatang. Gejala klinis seseorang yang menderita Penyakit Minamata adalah kerusakan pada otak, gagap bicara, hilangnya kesadaran, sulit tidur, kaki dan tangan terasa dingin, gangguan penciuman, bayi-bayi yang lahir cacat hingga menyebabkan kematian. Penyakit Minamata dapat juga menyerang hewan yang menghirup udara yang mengandung merkuri atau memakan bahan makanan yang tercemar merkuri.
Sejarah munculnya Minamata Disease, pada 1956 sekitar 2.000-3.000 jiwa penduduk kota Minamata, Jepang di dera penyakit aneh akibat pencemaran limbah mercury atau juga disebut air raksa di teluk Minamata. Saat itu terjadi gelombang pasien dengan gejala sama, yakni kerusakan sistem syaraf yang dilaporkan Direktur Rumah Sakit Ciso kepada Pusat Kesehatan Masyarakat Minamata. Limbah merkuri di Perairan Minamata berasal dari perusahaan Nippon Mitrogen Vertilaser (Ciso Go LTD) yang memproduksi pupuk urea. Minamata adalah kota nelayan kecil pada sebuah teluk menghadap ke laut Siranul, Jepang.
Setelah 12 tahun epidemi penyakit yakni pada tahun 1968, barulah pemerintah Jepang mengakui bahwa penyakit aneh tersebut bersumber dari limbah perusahaan Nippon Mitrogen Vertilaser yang dibuang ke Perairan Minamata. Pada 22 Juli 1959, Kelompok Penelitian Penyakit Minamata mengambil kesimpulan di akhir penemuan: ”Penyakit Minamata merupakan suatu penyakit neurologis yang disebabkan oleh konsumsi ikan dan kerang-kerangan lokal, dan merkuri telah menarik perhatian besar sebagai racun yang telah mencemari ikan dan kerang-kerangan.”
Di wilayah Indonesia pun pernah terjadi Penyakit Minamata menimpa penduduk di Teluk Buyat, Sulawesi Utara akibat pencemaran merkuri oleh perusahaan pertambangan PT Newmont Minahasa Raya (NMR) pada Agustus 2004 silam. Koordinator Masyarakat Korban Pencemaran Desa Buyat Pantai, Mansyur L menyebutkan bahwa hampir 50 persen dari sekitar 270 warga Desa Buyat Pantai terjangkit penyakit berupa kepala pusing terus menerus, kram pada sejumlah bagian tubuh, serta munculnya benjolan disejumlah bagian tubuh. Pemeriksaan sampel darah empat warga Buyat Minahasa, oleh Pusat Kajian Resiko dan Keselamatan Lingkungan, Fakultas MIPA UI menegaskan, kandungan merkuri didalam darah warga tersebut berada diatas batas normal yaitu 8 mikrogram perliter.
Hasil penelitian Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) ketika itu, menyebutkan bahwa kadar merkuri di hati ikan 9,1 mg/g. Merkuri dari tambang terbuang setiap kali proses 14,5%, sedangkan gas sebesar 2,5%. Kadar pada sedimen dan ikan mencapai 0,116-13,87 ppm. Yang paling lebih berbahaya adalah limbah dalam bentuk senyawa organik (metal merkuri) yang larut dalam air, lemak dan dapat terakumulasi pada biota air termasuk ikan. Metil merkuri sangat berbahaya karena mampu diserap tubuh hingga 95% dan bisa tertimbun dalam ginjal, otak, janin, otot, dan hati manusia.
Pengalaman pencemaran limbah merkuri di Minamata, Jepang dan di Teluk Buyat, Sulawesi Utara seyogyanya dapat menjadi pelajaran pada pemerintah dan masyarakat Aceh betapa berbahayanya limbah merkuri pada aspek kesehatan masyarakat. Pendekatan ekologi dan kesehatan masyarakat jauh lebih penting ketimbang pajak dan royalty dari penambangan ExxonMobile di Aceh Utara serta pertimbangan ekonomi dari pertambangan emas tradisional di Aceh Selatan.

4 Februari 2011 Posted by | Uncategorized | , , , | Tinggalkan komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.