Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

Nobel untuk Penemu Virus HIV

Penemu virus HIV (human immunodeficiency virus) Francoise Barre-Sinoussi dan Luc Montagnier dari Prancis berhasil mendapatkan Hadiah Nobel bidang kesehatan dan kedokteran tahun 2008. Keduanya harus berbagi dengan penemu virus HPV (human papillioma virus) yang menyebabkan kanker leher rahim, Harold zur Hausen, peneliti dari Jerman. Pemenang nobel di bidang kesehatan tahun ini mendapat hadiah 10 juta Swedish kronor yang setara dengan 1,42 juta dollar US atau setara Rp 13,4 miliar. Harald zur Hausen mendapatkan separuh dari jumlah tersebut. Selebihnya, Francoise dan Montaigner mendapatkan masing-masing seperempat bagian. Pengumumannya dibacakan Jan Andersson, seorang anggota Komite Nobel pada 6 Oktober beberapa waktu lalu di Stockholm, Swedia. Nobel di bidang kesehatan merupakan Nobel pertama yang diumumkan tahun ini. Seremoni penyerahan penghargaan akan dilaksanakan di Stockholm, Swedia, 10 Desember mendatang.
Francoise Barre-Sinoussi lahir dan berkewarganegaraan Perancis, bergelar doktor di bidang virologi dari Institut Pasteur, Garches, Perancis. Dia sekarang menjabat sebagai professor dan Direktur Regulation of Retroviral Infections Unit, Virology Department, Institut Pasteur. Luc Montagnier juga lahir dan berkewarganegaraan Perancis. Dia mendapatkan gelar doktor di bidang virologi dari University of Paris. Montagnier menjabat sebagai Direktur World Foundation for AIDS Research and Prevention, Paris, Perancis. Harald zur Hausen (71) lahir dan berkewarganegaraan Jerman. Saat ini menjadi profesor emeritus dan mantan Chairman and Scientific Director, German Cancer Research Center di Heidelberg, Jerman.
Francoise Barre-Sinoussi dan Luc Montagnier mengawali penelitian mereka dengan mengisolasi dan mengembangkan kultur jaringan sel kelenjar getah bening dari pasien pada tahap awal AIDS. Hasil penelitian Francoise Barre-Sinoussi dan Luc Montagnier pada awal 1980-an menjadi penelitian dasar dalam memahami sifat dan karakteristik penyakit AIDS dan cara pengobatannya. Kombinasi antara penemuan dan pengobatan berhasil menurunkan penyebaran penyakit AIDS dan meningkatkan harapan hidup penderitanya. Temuan virus HIV oleh pasangan ilmuwan Perancis tersebut membuka harapan baru pemahaman biologis dan penanganan penyakit secara antiretroviral (ARV). Dalam dunia akademis, penemuan keduanya membuat penelitian virus semakin berkembang pesat dan memberikan arah kepada pengembangan metode diagnosa pasien yang terinfeksi dan produk penyeleksian darah guna mencegah penyebaran lebih lanjut.
Hingga kini, penyakit HIV/AIDS belum dapat disembuhkan secara total. Berkat penelitian dasar yang dilakukan Francoise Barre-Sinoussi dan Luc Montagnier, penyakit ini tidak lagi menjadi hukuman mati bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) berkat kemajuan pesat riset dan pengembangan pengobatan beberapa tahun terakhir . Dengan penanganan yang tepat, ODHA memiliki peluang untuk hidup lebih lama. Keberhasilan hasil terapi anti-retroviral (ARV) membuat harapan hidup orang dengan HIV/AIDS sekarang mencapai tahap yang sama dengan orang-orang yang tidak terinfeksi virus ini. Kelebihan penelitian keduanya adalah demikian cepatnya waktu antara penemuan virus, identifikasi asal-usul penyakit, dan ketersediaan pengobatan untuk sebuah entitas penyakit baru. Kondisi demikian belum pernah terjadi di dunia sains dan dunia pengobatan.
Sementara itu, Harold zur Hausen, peneliti berusia 71 tahun bekerja selama puluhan tahun untuk meneliti penyebab kanker leher rahim. Jenis penyakit kanker ini adalah paling sering terjadi di negara berkembang dan jenis kedua yang paling sering diderita wanita di seluruh dunia. Sekitar setengah juta kasus baru didiagnosa setiap tahun. Zur Hausen meneliti virus jenis papilloma pada manusia, (HPV) dan mengidentifikasi dua jenis utama yang ditemukan di banyak kasus kanker leher rahim. Temuannya mendorong pengembangan vaksin-vaksin yang dapat melindungi wanita muda agar tidak mendapat kanker rahim. Penelitiannya itu berlawanan dengan dugaan pada saat itu namun kemudian terbukti menjadi sebuah terobosan.
Sebagaimana diberitakan ANTARA dan BBC, Harold zur Hausen berhasil melawan dogma bahwa human papilloma virus (HPV) adalah penyebab kanker leher rahim, jenis kanker kedua yang paling sering ditemukan pada perempuan. Hausen berpandangan, HPV-DNA seharusnya dideteksi dengan pencarian secara spesifik karena merupakan virus yang heterogen. Hanya beberapa tipe HPV yang menyebabkan kanker. Hausen bekerja keras membuktikan pandangannya tersebut dengan lebih dari 10 tahun meneliti berbagai tipe HPV. Dia menemukan tipe HPV 16 yang menyebabkan tumor pada tahun 1983 dan setahun kemudian mengklon HPV 16 dan 18 dari pasien yang terkena kanker. HPV tipe 16 dan 18 secara konsisten ditemukan pada sekitar 70 persen biopsi kanker rahim di seluruh dunia.
Penemuan Hausen memberi landasan kepada karakterisasi sejarah alami
infeksi HPV. Penemuan itu juga membuka pemahaman kepada kanker yang
disebabkan HPV. Saat ini, HPV sudah dapat dideteksi dengan pap smear
sederhana dan telah ada vaksin HPV. Perhatian masyarakat global terhadap HPV sangat besar. Terlebih lagi infeksi HPV ini dengan mudah terjadi melalui hubungan seksual. Virus tersebut juga terdeteksi di 99,7 persen perempuan yang mempunyai sejarah kanker rahim dan berefek kepada 500.000 perempuan per tahun. Vaksin juga telah dikembangkan dengan perlindungan di atas 95 persen terhadap risiko HPV 16 dan 18. Berkat vaksin tersebut, risiko kanker leher rahim berkurang.
Kontroversi Nobel
Pemilihan peraih Nobel Prize (Hadiah Nobel) dilakukan oleh beberapa lembaga yang ditunjuk langsung oleh Nobel Foundation. Lembaga tersebut adalah Karolinska Institute untuk Kedokteran, Royal Swedish Academy of Sciences (KVA) bertanggung jawab untuk Hadiah Fisika, Kimia dan Ekonomi, dan Swedish Academy menangani bidang Sastra. Khusus untuk Perdamaian oleh Komite yang ditunjuk oleh Parlemen Norwegia, bukan oleh sebuah institusi Swedia. Institusi tersebut kemudian menunjuk beberapa orang untuk menjadi anggota komite yang bertugas menyeleksi calon penerima Nobel. Hasil seleksi Komite Nobel diberikan kepada lembaga yang ditunjuk Nobel Foundation untuk ditetapkan penerimanya. Hadiah Nobel untuk tiga bidang ilmu pengetahuan (Fisika, Kimia dan Ekonomi) umumnya bisa diterima oleh masyarakat dunia, berbeda dengan bidang lain yang kadang kontroversial.
Seperti pada kasus pemilihan Emil von Behring, seorang ahli bakteri dari Jerman, sebagai penerima Hadiah Nobel Kedokteran pertama (1901) menimbulkan dugaan diskriminasi terhadap peneliti Asia. Menurut catatan sejarah, Kitasato adalah penemu pertama imunisasi dengan keberhasilannya mengisolasi bakteri penyebab tetanus. Behring tak lebih dari sekedar menggunakan metoda yang sama untuk penyakit diphtheria. Shibasaburo Kitasato dari Jepang ketika itu bekerja bersama Behring di laboratorium Robert Koch di Berlin, Jerman.
Demikian halnya dengan kasus Rosalind Franklin, peneliti perempuan di King’s College-London yang membuat dan mengambil data sinar-X kristal DNA. Rosalind Franklin meninggal pada tahun 1957 dalam usia 37 tahun karena kanker. Data sinar-X kristal DNA yang ditinggalkan Rosalind Franklin diberikan kepada Watson dan Crick oleh Maurice Wilkins (atasan Rosalind Franklin) dan berhasil menyimpulkan idenya mengenai struktur double-helix DNA. Ketiga orang inilah (Maurice Hugh Frederick Wilkins, James Dewey Watson dan Francis Harry Compton Crick) yang menerima Hadiah Nobel Kedokteran, 1962, karena Rosalind Franklin sudah meninggal. Atas kasus tersebut, semestinya Hadiah Nobel dapat diberikan kepada orang yang telah meninggal atas jasanya dalam ilmu pengetahuan.
Contoh kontroversial lainnya dan terbaru adalah tersisihnya Salvador Moncada sebagai calon penerima Hadiah Nobel Kedokteran pada 1998. Para peneliti dari El Salvador, negara tempat Moncada berasal, bersama dengan para ilmuwan dari Spanyol dimana Moncada sekarang bekerja, menggalang protes keras terhadap keputusan yang diduga bersifat diskriminatif terhadap ilmuwan asal negara berkembang. Atas kasus Moncada, Cesar Milstein, penerima Hadiah Nobel Kedokteran tahun 1984, mengeluarkan statementnya bahwa seharusnya kontribusi Moncada sama besar dengan tiga penerima terpilih lainnya yakni Robert F. Furchgott, Luis J. Ignarro dan Farid Muradz. Farid Muradz sendiri adalah seorang dokter muslim Albania
Burton Feldman, pengarang buku The Nobel Prize: A History of Genius, Controversy and Prestige (2000) melakukan penelitian mengenai sejarah penghargaan Nobel dan para penerimanya, Feldman memberikan catatan berikut ini bagi siapa saja yang ingin meningkatkan peluangnya meraih penghargaan Nobel di bidang sains (Fisika, Kimia atau Kedokteran).
Kalau bukan berasal dari ketiga negara berikut, maka datanglah atau berimigrasi ke negara: AS, Inggris dan Jerman. Peraih Nobel asal ketiga negara ini atau yang melakukan penelitian di ketiga negara ini masih mendominasi hadiah Nobel. Kebetulan dari sekitar 88 pemenang hadiah Nobel itu kebanyakan dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Swiss, Jerman, Italia, Belanda, Belgia adalah negara-negara paling maju di dunia. Tampak ada korelasi positif semakin banyak menerima Nobel, maka negara itu semakin maju dan makmur dan menjadi penguasa industri. Kemudian kuliah di perguruan tinggi yang prestisius karena mahasiswa-mahasiswanya di stimulasi dari dini untuk berlomba menuju Stockholm.
Untuk tingkat Asia, pemenang Nobel Laureate di bidang kesehatan baru Jepang yakni Susumu Tonegawa yang menjadi pemenang pada tahun 1987. Bila peneliti kesehatan dari Indonesia ingin mendapatkan Nobel Prize, tidak perlu belajar jauh ke Eropa dan AS karena beberapa kampus di Australia sukses menelorkan Nobel Laureate di bidang kesehatan, seperti Dr Barry Marshall adalah (lulusan University of Western Australia) dan Dr J Robin Warren (lulusan dari University of Adelaide) pada 2005, keduanya menemukan bakterium Helicobacter dan perannya dalam penyakit radang lambung dan peptik; serta Dr Peter Charles Doherty (lulusan Universitas Queensland) Nobel Laureate 1996 untuk penelitian tentang “specificity of the cell mediated immune defence” (kekhususan pertahanan imunitas melalui sel perantara).

22 Februari 2009 - Posted by | Uncategorized | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: