Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

EKSPEKTASI EKSISTENSI STROKE CENTER MAKASSAR

Pusat pelayanan penyakit stroke (stroke center) Rumah Sakit Dadi Makassar telah resmi beroperasi sejak 15 Agustus 2008 ditandai dengan soft opening oleh Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo. Sebagaimana pemberitaan media, Stroke Center ini akan digunakan sebagai pusat perawatan penderita penyakit jantung dengan melayani pemeriksaan saraf (neurologi), jantung, dan pembuluh darah (kardiovaskuler) serta dilengkapi pusat rehabilitasi, pusat kebugaran dan radiodiagnostik serta alat tercanggih bernama CT-Scan. CT adalah singkatan dari Computerized (Axial) Tomography, jadi CT-Scan adalah pemeriksaan/scan dengan menggunakan komputer seperti X-ray untuk melihat sel-sel kanker di bagian tubuh tertentu seperti paru-paru atau ginjal.
Pembangunan pusat layanan ini telah menghabiskan anggaran negara (APBN) sebesar Rp 15 milyar. Konon, salah satu komponen alat medis yang tergolong mahal adalah pembelian alat CT-Scan yang mencapai Rp 3 milyar. Pengelolaannya berada dibawah manajemen Badan Pengelola RS Dadi Makassar. Salah satu top manajemen RS tersebut yang baru diangkat setelah pergantian kepemimpinan tingkat propinsi adalah Ny Uli Ayunsri Harahap, istri Gubernur Syahrul Yasin Limpo yang menduduki posisi Wakil Kepala RS, dibawah dr. Dwi Joko sebagai Kepala RSUD Dadi.
Menurut informasi yang beredar, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel menyiapkan subsidi senilai Rp 90 ribu per orang atau sebesar Rp 23 miliar pertahun pada pasien RS Dadi sebanyak 600 orang. Sementara menurut catatan, indeks pertambahan pasien RS Dadi terbilang tinggi mencapai 20 orang per minggu. Bagi penderita penyakit stroke dari kalangan kurang mampu akan mendapatkan pelayanan kesehatan gratis asal dapat menunjukkan dokumen-dokumen resmi seperti surat rujukan dari puskesmas dan rumah sakit serta dilengkapi identitas diri (KTP dan Kartu Keluarga). Jenis layanan kesehatan yang didapatkannya menggunakan jasa Jamkesmas. Pengguna dana Jamkesmas dan Askes juga akan mendapatkan pemeriksaan medis dengan menggunakan CT-Scan secara gratis sesuai program kesehatan gratis ala Syahrul Yasin Limpo. Sementara layanan CT-Scan di Jakarta tidak ada yang gratis dan tarifnya bervariasi, misalnya di RS Dharmais memasang tarif Rp 3,4 juta, di RS Gading Pluit dan RS Pluit sebesar Rp 5,6 juta, RS Siloam Rp 6,1 juta dan RS Abdi Waluyo mencapai Rp 6,5 juta. Sedang di Radlink, Singapura senilai Sin$650 atau sekitar Rp 4 juta, berbeda jauh dengan tarif CT-Scan di National University Hospital (RS milik pemerintah setempat) yang mencapai Sin$1.000.

Eksistensi Stroke center
Bukan hanya di Makassar, sekarang sedang gencar pembangunan stroke center dimana-mana sebagai layanan tambahan sebuah RS. Di Kota Sukabumi, salah satu kota di Jawa Barat juga akan membuka pusat perawatan penderita stroke (stroke center) di RSUD R. Syamsuddin dan diperkirakan akan beroperasi pada tahun 2008. Pembangunannya menggunakan dana bantuan pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan biaya sekitar Rp 400 juta terdiri atas 12 ruangan, meliputi ruang perawatan khusus, tindak lanjut dan rahabilitasi pasien serta dokter khusus stroke dan perlengkapannya. Urgensi pembangunan stroke center di Sukabumi karena penyakit stroke menempati urutan ketiga dalam daftar penyakit yang paling banyak diderita pasien RSUD R. Syamsuddin, sementara RS tersebut belum memiliki unit khusus yang menangani penderita stroke sehingga lebih banyak dirawat di ruang gawat darurat. Karena ketiadaan sarana penunjang, penderita stroke yang parah terpaksa harus berobat ke kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Sementara diwilayah Jawa Barat, baru RSUD Hasan Sadikin yang memiliki stroke center.
Selain Kota Sukabumi, di Kota Depok Jawa Barat juga akan dibangun stroke center dengan standar international. Pembangunannya terkait dengan keberadaan kampus UI di Depok. Selain sebagai pusat penanganan stroke, Stroke Center tersebut akan dijadikan Brain and Neural Center atau pusat riset dan perawatan otak dan syaraf. Rencananya pembangunannya dimulai pada pertengahan 2008 diatas areal seluas 20 hektar dengan menelan dana sekitar 200 juta dolar AS dari bantuan Jepang.
Pembangunan stroke center diberbagai kota merupakan cermin kepekaan terhadap penderita penyakit mematikan nomor tiga di dunia ini, sementara di Indonesia adalah penyebab nomor satu. Stroke (GPDO) adalah gangguan pada darah otak, disebabkan oleh aterosklerosis atau mengerasnya pembuluh darah. Bila penderita stroke berusia muda, penyebabnya diakibatkan oleh cacat pembuluh darah bawaan. Namun sebagian besar penderita stroke berusia diatas 45 tahun.
Berdasarkan survei pada 2004, penyakit stroke merupakan pembunuh nomor satu di RS Pemerintah di seluruh Indonesia. Sedang secara umum, penyakit ini adalah penyakit mematikan nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit kanker. Saat ini diperkirakan sekitar 500 ribu penduduk Indonesia menderita penyakit stroke: sepertiganya dinyatakan bisa pulih kembali, sepertiga lainnya mengalami gangguan fungsional ringan serta sepertiga sisanya mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita rela menghabiskan waktunya diatas pembaringan.
Ada beberapa manfaat keberadaan stroke center. Bila penderita stroke pada gold periode (window of opportunity) yakni bila dalam ‘jendela kesempatan’ mendapatkan penanganan secara cepat, tepat dan cermat, maka kemungkinan penderita untuk pulih sempurna semakin besar. Untuk menghindari terkena stroke, dapat ditekan melalui faktor-faktor risiko stroke seperti pengendalian hipertensi, diabetes mellitus, kolesterol, obesitas, dan penyakit jantung serta menghindari rokok disamping menjalankan pola hidup sehat dengan melakukan olah raga teratur dan menghindari stress.
Stroke adalah jenis penyakit yang menyerang syaraf otak manusia yang dapat mengakibatkan kelumpuhan pada sebagian anggota tubuh dan susunan syaraf bagian tubuh yang terserang. Stroke juga bisa diartikan suatu kondisi berkurangnya pasokan darah ke suatu bagian otak sehingga menyebabkan adanya kerusakan atau bahkan matinya sel-sel otak. Kematian jaringan otak akan menyebabkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan tersebut. Seseorang yang terkena serangan stroke biasanya mengalami kelumpuhan pada anggota tubuhnya, kehilangan kemampuan berbicara dan kehilangan sebagian ingatan karena cabang pembuluh darah terhambat oleh emboli (bisa berupa kolesterol atau udara).
Penyakit ini biasanya menyerang orang berusia lanjut, namun tidak tertutup kemungkinan menyerang pula pada orang yang berusia muda. Seperti yang dialami suami penulis yang masih berusia muda (34 tahun) pernah terserang stroke ringan akibat pola hidup yang tidak sehat,seperti jarang berolahraga dan sedikit istirahat (sering begadang nonton bola) disamping penyakit hipertensi yang dideritanya karena faktor keturunan.

Jenis Stroke
Secara teoritis penyakit stroke dapat dibedakan atas dua macam yaitu stroke iskemik dan stroke hemorragik. Stroke iskemik adalah ketika aliran darah ke otak terhenti karena aterosklerosis (penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah) atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah ke otak. Penyumbatan bisa terjadi pada sepanjang jalur pembuluh darah arteri yang menuju ke otak. Darah yang mengalir ke otak disuplai oleh dua arteria karotis interna dan dua arteri vertebralis. Arteri-arteri ini merupakan cabang dari lengkung aorta jantung. Hampir sebagian besar penderita stroke (83 persen) mengalami stroke semacam ini. Sedang stroke hemorragik adalah ketika pembuluh darah pecah sehingga menghambat aliran darah normal dan merembes ke dalam suatu daerah otak dan merusaknya. Hampir 70 persen kasus stroke jenis ini terjadi pada penderita hipertensi.
Serangan stroke juga dapat disebabkan oleh berbagai penyebab, seperti peradangan, obat-obatan dan penurunan tekanan darah. Suatu peradangan atau adanya infeksi menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang menuju ke otak sehingga berpotensi terkena stroke. Bahkan obat-obatan pun dapat menyebabkan stroke, seperti kokain dan amfetamin karena obat tersebut dapat mempersempit pembuluh darah di otak. Sedang penurunan tekanan darah menyebabkan terjadinya stroke karena berkurangnya aliran darah ke otak dan penderita mengalami pingsan. Seseorang kehilangan darah bisa disebabkan karena cedera, pembedahan, serangan jantung atau irama jantung yang abnormal.
WHO mendefenisikan penyakit stroke sebagai gejala-gejala defisit fungsi susunan saraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak dan bukan oleh yang lain dari itu. Stroke dimasukkan sebagai penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi disebabkan berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak.
Para ahli memberikan saran pencegahan terjadinya stroke berdasarkan hasil riset yang dimuat jurnal Circulation. Salah satu hasil riset adalah yang dilakukan ilmuwan Harvard School of Public Health terhadap 43.685 pria dan 71.243 perempuan dengan rata-rata usia partisipan 54 tahun pada pria dan 50 tahun pada perempuan. Pada saat riset dilakukan, para partisipan tidak seorangpun menderita penyakit kardiovaskuler atau kanker. Para partisipan didata mengenai kebiasaan dan gaya hidup serta kondisi kesehatannya sejak 1986 sampai 2002. Selama berlangsungnya penelitian, tercatat 994 kasus stroke terjadi pada pria dan 1.559 kasus terjadi pada partisipan perempuan.
Berdasarkan riset tersebut terungkap bahwa para perempuan yang disiplin menjalani lima gaya hidup dibawah memiliki resiko 79 persen lebih rendah mengidap semua jenis stroke dan 81 persen lebih rendah resiko mengalami resiko stroke iskemik ketimbang perempuan yang tidak menjalani gaya hidup sehat. Sementara para pria yang menggunakan lima panduan gaya hidup tersebut tercatat 69 persen resiko lebih rendah daari semua jenis stroke dan 80 persen resiko lebih rendah mengidap stroke iskemik, dibandingkan dengan pria yang tidak menjalani lima pola gaya hidup sehat. Dari semua kasus stroke yang diteliti, 47 kasus pada perempuan dan 35 persen kasus pada pria dapat dicegah melalui pola gaya hidup sehat yang direkomendasikan.
Dari hasil riset inilah, para ahli merekomendasikan lima kebiasaan dan gaya hidup sehat yang harus dijalani secara disiplin untuk mencegah terjadinya stroke. Bila menerapkan lima kebiasaan dan gaya hidup ini, resiko terkena stroke akan menurun drastis hingga 80 persen. Kelima kebiasaan tersebut adalah: menghindari/tidak merokok, memelihara bobot ideal badan, melakukan olah raga atau gerakan fisik rutin, menjalani diet menu seimbang secara disiplin dan membatasi/menghentikan konsumsi alkohol. Kelima gaya hidup ini dapat menjadi panduan hidup sehat bila tidak ingin menjadi pasien stroke center.

(Copyright @ Fatmah Afrianty Gobel. Penulis adalah ketua Program Studi Kesmas FKM UMI, Makassar)

Iklan

2 Mei 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

FENOMENA PANDEMI FLU BABI

Flu babi telah menyita perhatian warga dunia setelah menyerang sejumlah warga Meksiko. Berdasarkan laporan Associated Press (AP), hingga 27 April telah meninggal dunia sebanyak 103 orang dari 1.614 orang di Meksiko. Laporan AP juga menyebutkan suspect flu babi telah menyebar pada sedikitnya delapan negara, diantaranya Kanada, Amerika Serikat, Prancis, dan Selandia Baru. Pemerintah Kanada telah mendapatkan kasus flu babi pertama pada 27 April lalu, sedang Amerika Serikat, Prancis dan Selandia Baru telah melaporkan kasus serupa beberapa hari sebelumnya.
Para pengidap flu babi di Kanada ternyata sebelumnya telah mengadakan kontak dengan sejumlah orang yang baru datang dari Mexico. Demikian halnya dengan kasus di Selandia Baru yang menimpa beberapa pelajar di Rangitoto College, sebelumnya melakukan aktifitas belajar (study tour) di Mexico dan telah dinyatakan positif flu babi. Kasus di Selandia Baru mirip dengan kasus di Amerika Serikat karena sama-sama menimpa para pelajar. Di AS, dari sekitar 100 pelajar di sekolah swasta Saint Francis di wilayah Queen, 11 kasus diantaranya positif flu babi.
Dari laporan pemerintah Meksiko, virus flu babi telah menyerang sedikitnya 1.300 orang, sedang 900 orang diantaranya dinyatakan sembuh. Sementara empat daerah pada Negara tersebut dinyatakan rawan flu babi, termasuk Meksiko City. Berdasarkan data KBRI di Meksiko, dari 90 orang WNI yang bermukim di Mexico, 70 orang diantaranya berada di Ibukota Meksiko itu.
Fenomena flu babi yang menyebar secara cepat ke berbagai negara dapat menyebabkan terjadinya pandemi yakni penyebaran virus flu babi secara global. Organisasi kesehatan dunia (WHO) pun menggelar pertemuan dengan ahli kesehatan guna membahas kasus flu babi yang telah menjadi ancaman baru kesehatan masyarakat dunia.

Histori Flu Babi
Flu Babi (swine flu) adalah penyakit saluran pernafasan akut pada babi yang disebabkan oleh virus influensa tipe A. Gejala klinis penyakit ini terlihat secara mendadak, yaitu berupa batuk, dispnu, demam dan sangat lemah. Penyakit ini dengan sangat cepat menyebar ke dalam kelompok ternak dalam waktu 1 minggu, umumnya penyakit ini dapat sembuh dengan cepat kecuali bila terjadi komplikasi dengan bronchopneumonia, akan berakibat pada kematian (Fenner et al., 1987). Penyakit virus flu babi pertama dikenal sejak tahun 1918, pada saat itu didunia sedang terdapat wabah penyakit influenza secara pandemik pada manusia yang menelan korban sekitar 21 juta orang meninggal dunia (Hampson, 1996).
Dilihat dari namanya, berarti sumber asal penyakit berasal dari babi, binatang yang banyak dikonsumsi kaum Non-Muslim. Flu babi mulai dikenal pada sebuah dari pertanian dan peternakan babi di wilayah Midwest, AS beberapa dekade silam. Babi juga merupakan jenis hewan mamalia yang menempati posisi penting dalam mata rantai penyebaran virus influenza pada jarak dekat.
Sebelum virus flu babi hinggap ke tubuh manusia, semua gen virus flu babi mempunyai tempat-tempat persinggahan sebagai vektor penyebarannya. Ciri -ciri orang yang menderita penyakit flu babi adalah mengalami demam lebih dari 39 derajat celcius, sakit kepala, mengalami pegal linu dan iritasi mata.
Cara penyebaran virus influenza dari babi ke babi dapat melalui kontak moncong babi dan melalui udara atau droplet. Faktor cuaca dapat mempercepat penularan virus meski virus tidak akan tahan lama di udara terbuka. Sub tipe H1N1 mempunyai kesanggupan menulari antara spesies terutama babi, bebek, kalkun dan manusia, demikian juga sub tipe H3N2 yang merupakan sub tipe lain dari influensa A. H1N1, H1N2 dan H3N2 merupakan ke 3 subtipe virus influenza yang umum ditemukan pada babi yang mewabah di Amerika Utara (Webby et al., 2000; Rota et al., 2000; Landolt et al., 2003), tetapi pernah juga sub tipe H4N6 diisolasi dari babi yang terkena pneumonia di Kanada (Karasin et al., 2000). Sejak tahun 1991, telah diidentifikasi subtype virus avian influaenza, yakni H3N2, H4N2, H6N6, H5N2, H5N9, H7N1, H7N3, H9N2, H10N4, dan H10N7. Kesemuanya adalah virus dengan patogenitas kategori rendah.
Babi sebagai karier penyakit telah lama diketahui di Denmark, Jepang, Italy dan Inggris. Manusia dapat terkena penyakit influenza secara klinis dan dapat menularkannya pula pada babi. Kasus infeksi sudah dilaporkan pada pekerja di kandang babi di Eropa dan di Amerika. Penyakit pada manusia umumnya terjadi pada kondisi musim dingin. Transmisi kepada babi yang dikandangkan atau hampir di ruangan terbuka dapat melalui udara seperti pada kejadian di Perancis dan beberapa wabah penyakit di Inggris.
Sejak tahun 1930 ketika pertama kali virus flu babi diisolasi, sudah banyak aspek dari penyakit tersebut yang diungkapkan, antara lain meliputi tanda klinis, lesi, imunitas, transmisi, adaptasi virus terhadap hewan percobaan dan hubungan antigenik dengan virus influensa lainnya serta kejadian penyakit di alam. Penyebab penyakit saluran pernafasan pada babi adalah virus influensa tipe A yang termasuk Famili Orthomyxoviridae. Virus ini erat kaitannya dengan penyebab swine influenza, equine influenza dan avian influenza (Palse & Young, 1992).
Influensa babi yang terjadi di Amerika Serikat disebabkan oleh influensa A H1N1, sedangkan di banyak negara Eropa termasuk Inggris, Jepang dan Asia Tenggara disebabkan oleh influensa A H3N2. Banyak isolat babi H3N2 dari Eropa yang mempunyai hubungan antigenik sangat dekat dengan A/Port Chalmers/1/73 strain asal manusia. Peristiwa rekombinan dapat terjadi, seperti H1N2 yang dilaporkan di Jepang (Hayashi et al., 1993).
Pencegahan penyebaran Flu babi dapat dilakukan dengan cara pemakaian masker, mencuci tangan dengan sabun dan menghindari berjabat tangan dengan suspect flu babi. Bila terlanjur terjangkit virus flu babi, langkah selanjutnya bisa dengan cara mengkarantina di rumah sakit untuk mendapatkan vaksinasi.

Langkah Antisipatif
Kecepatan penyebaran virus flu babi sangat tinggi sehingga pemerintah negara-negara di Asia, termasuk Indonesia menyiapkan langkah-langkah antisipatif. Beberapa negara mulai mengantisipasi dengan cara memperketat perdagangan/impor daging babi, melakukan tes kesehatan terhadap para penumpang dari Meksiko, penggunaan kamera termografik pengukur suhu penumpang pesawat udara, mengumumkan larangan perjalanan (travel warning) ke Meksiko, dan penggunaan masker wajah bagi penumpang dari Meksiko serta penggunaan alat body desinfectan health quarantine untuk mensterilkan hama/virus flu babi bagi penumpang terdeteksi alat thermal scanner.
Meski Menkes RI St. Fadilah Supari menyatakan bahwa rakyat Indonesia tidak perlu khawatir terhadap bahaya penularan flu babi karena Negara Indonesia merupakan negara tropis. Sedang negara yang telah positif tertular flu babi adalah negara-negara yang mempunyai empat musim. Namun beberapa langkah sedang ditempuh seperti penggunaan alat pemantau suhu badan (thermal scanner) pada beberapa bandara internasional di Indonesia.
Secara empirik, Case Fatality Rate (CFR) flu burung lebih tinggi yaitu antara 80 hingga 90 persen, sedang CFR flu babi hanya 6,2 persen. Namun tidak berarti flu babi dapat diabaikan, hal ini karena penyakit flu babi merupakan penyakit yang dapat ditularkan dari manusia ke manusia. Jika dibandingkan dengan flu burung yang untuk sementara ini hanya ditularkan dari unggas terinfeksi ke manusia. Mobilitas manusia yang tinggi dan cara pencegahannya yang relatif mudah (dengan cara menggunakan desinfektan kepada kasus suspek yang baru datang dari Negara yang terjangkit flu babi dapat dijadikan sebagai salah satu alasan.
Melihat data CFR diatas, mengindikasikan optimisme bahwa pemerintah dapat menangani flu babi berkat pengalaman dalam penanggulangan flu burung. Apalagi pemerintah dibawah koordinasi Menko Kesra telah menggelar rapat koordinasi lintas sektor pada Senin (27/04) lalu setelah mendapat peringatan dari kasus-kasus flu babi diberbagai negara. Pengalaman penanganan flu burung dapat pula diterapkan pada penanggulangan flu babi bila terjadi pandemi. Serangkaian pelatihan penanganan flu burung telah dilakukan, seperti tata cara evakuasi suspect ke rumah sakit, cara menyisihkan orang yang sudah terkena, cara melakukan pengobatan dan pencegahan, dan seterusnya.

(Copyright @ Fatmah Afrianty Global. Penulis adalah Ketua Program Studi Kesmas FKM UMI, Makassar.Artikel ini pernah dikirim ke Harian Seputar Indonesia pada 28 April 2009)

1 Mei 2009 Posted by | Uncategorized | , | Tinggalkan komentar