Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

Sepakbola dan HIV/AIDS : Catatan Hari AIDS Sedunia 1 Desember

Sepakbola merupakan olahraga rakyat Indonesia yang memiliki paling banyak digemari. Meski prestasi sepakbola Indonesia tidaklah menyolok, namun tidak menyurutkan animo masyarakat untuk mencintai cabang olahraga ini. Prestasi sepakbola Indonesia diajang internasional hanya sampai semifinal pada Asian Games pada tahun 1996 dan keberhasilan menahan imbang tim nasional Rusia pada ajang Olimpiade di Australia pada era 1950-an untuk kategori tim nasional, sedang untuk kategori klub sepakbola hanya sampai babak perempatfinal Liga Champion Asia (LCA) yang pernah ditorehkan Klub PSM Makassar dan Klub Bandung Raya.
Seiring membaiknya pengelolaan sepakbola di Indonesia dengan diselenggarakannya kompetisi secara regular mulai dari Liga Super sebagai tahta tertinggi kompetisi klub-klub sepakbola di Indonesia, Divisi Utama hingga Divisi III Liga Indonesia menempatkan sepakbola sebagai olahraga yang paling banyak ditonton baik secara langsung hadir di stadion maupun secara tidak langsung melalui media massa elektronik.
Kondisi itulah yang mungkin mengilhami salah satu funding internasional dibidang penanggulangan HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome) yang menggunakan sepakbola sebagai medium kampanye bahaya HIV/AIDS. Pemandangan tersebut bisa dilihat pada saat klub Persipura, Jayapura melakukan latihan. Pada kaus latihan klub yang pernah menjuarai kompetisi tertinggi Liga Indonesia ke 11 pada tahun 2005 itu tertuliskan slogan anti HIV/AIDS: “Persipura : 5, HIV/AIDS : 0” ditambah gambar kondom saat menggelar latihan menjelang perhelatan Semifinal Copa Indonesia melawan Persija, Jakarta pada Rabu, 9 Januari 2008 lalu.
Tulisan “Persipura : 5, HIV/AIDS : 0” menunjukkan sarat makna seperti Persipura harus menjuarai setiap ajang pertandingan yang diikutinya dan juga harus menang terhadap bahaya penyebaran HIV/AIDS. Semangat anti HIV/AIDS yang dilakukan klub Persipura juga memiliki banyak sasaran, seperti penggemar sepakbola Papua dan penggemar sepakbola nasional juga untuk internal pengurus Persipura sendiri. Sebagaimana diketahui, beberapa pemain Persipura gemar melakukan mabuk-mabukan minuman beralkohol yang dekat kehidupan seks bebas sehingga rentan terhadap penyebaran HIV/AIDS.
Perilaku pemain yang sering mabuk-mabukan tergambar dari pernyataan Pelatih Persipura, Raja Issa ketika itu. Pelatih berkebangsaan Malaysia tersebut menyatakan bahwa perilaku punggawa Mutiara Hitam semakin menunjukkan trend positif. Para pemain tidak lagi mabuk-mabukan dan menunjukkan kedisiplinan tinggi menjalani latihan. Perubahan lainnya, tumbuh kebersamaan yang cukup tinggi diantara sesama pemain (Seputar Indonesia, 11/01/08).
Persipura, Jayapura layak menjadi klub sepakbola pertama di Indonesia yang dapat menggabungkan antara misi kemanusiaan, bisnis dan olahraga. Kampanye HIV/AIDS yang telah dilakukannya melalui kaus latihan tim tersebut akan dicatat dalam sejarah pembangunan kesehatan di Indonesia. Fakta ini mestinya bisa dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) yang dipimpin Jaya Suprana.
Meski ada tiga klub sepakbola dari Papua yang berkompetisi di Liga Indonesia yang disponsori perusahaan rokok Djarum tersebut, nampaknya Persipura merupakan klub yang memiliki banyak penggemar. Klub sepakblola lainnya adalah Persiwa, Wamena dan Perseman, Manokwari di Divisi Utama. Tim “Mutiara Hitam”, julukan Persipura memang lebih menonjol prestasinya dibanding dengan dua klub lainnya di Papua – 2005 juara Liga Indonesia, 2006 finalis Copa Indonesia, 2007-2008 finalis Copa Indonesia, 2008 masuk semifinalis Liga Indonesia – sehingga Persipura lebih memiliki magnet perhatian publik untuk menyaksikan setiap laga yang dilakoninya di lapangan hijau. Perhatian publik yang besar merupakan potensi untuk melakukan promosi kesehatan, seperti bahaya HIV/AIDS.

Ancaman AIDS di Papua
Wilayah Papua memang dikenal sebagai daerah tertinggi penyebaran HIV/AIDS di Indonesia. Data Dinas Kesehatan Provinsi Papua 2006-2007 menyebutkan adanya 3.377 warga Papua yang mengidap penyakit yang belum ditemukan obatnya itu. Perbandingan rata-rata (case rate) kasus HIV/AIDS di Papua mencapai 60,93 per 100.000 penduduk atau 15,39 kali dibandingkan dengan Jakarta yang memiliki rating kasus HIV/AIDS 3,96 per 100.000 penduduk.
Secara nasional berdasarkan data dari Departemen Kesehatan, estimasi pada 2006 jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sebanyak 171.000 – 219.000 orang, jumlah estimasi IDU (kelompok pengguna jarum suntik) 191.000 – 248.000 dan diperkirakan memberikan resiko pada pasangan seksualnya yang berjumlah 85.700 orang. Kelompok umur 20-29 tahun yang terinfeksi sebanyak 54,77 persen disusul kelompok umur 30-39 tahun 26,56 persen. Hal ini mengindikasikan mayoritas penduduk usia muda sangat gampang terserang virus dan menderita AIDS. Dominasi cara penularan (mode of transmission) terjadi melalui darah atau lewat jarum suntik yang tercemar virus HIV (Depkes RI, 2006).
Tahun 1987 tercatat sebagai tahun pertama kalinya ditemukan kasus AIDS di Indonesia. Hingga akhir bulan Desember 2002 telah tercatat 3.568 kasus AIDS dan diperkirakan akan terus mengalami peningkatan dengan perkiraan 90.000 hingga 120.000 penduduk yang tertular HIV, sedang 12-19 juta orang lainnya masih kategori rawan terkena virus HIV. Pada bulan September 2004, Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular (PPM) Depkes melaporkan bahwa total prevalensi HIV/AIDS sudah mencapai sekitar 5.701 orang. Dari jumlah tersbeut, 2.363 diantaranya merupakan kasus AIDS, sedang 3.338 merupakan positif terinveksi HIV. Pada Desember 2004 secara kumulatif tercatat 3.368 kasus HIV dari 30 propinsi dan 2.682 kasus AIDS dari 19 Propinsi.
Pada tingkat Asia berdasarkan catatan UNAIDS, sebuah badan PBB yang mengurusi soal AIDS menyebutkan bahwa penderita HIV/AIDS diperkirakan mencapai 8,2 juta orang. 2,3 juta orang diantaranya diderita oleh perempuan. Tercatat 1 dari 4 kasus HIV/AIDS yang terjadi di Asia telah menyebabkan 1500 orang meinggal dunia akibat visi mematikan tersebut.
Sedang pada tingkat dunia, diperkirakan sekitar 60 juta orang telah terinfeksi virus HIV. Dari jumlah tersebut, 20 juta orang telah meninggal karena menderita virus HIV dan sebanyak 40 juta orang hidup dengan HIV (ODHA). Prediksi UNAIDS menyebutkan terdapat peningkatan jumlah orang dengan HIV/AIDS sebanyak 36,6 juta orang pada 2002 menjadi 39,4 juta orang pada 2004.
Sebagai rekomendasi penulis memberi catatan beberapa hal sebagai berikut : bahwa perlu dibangun secara terus menerus kerjasama antara pihak pemerintah, lembaga pendidikan, media massa, dan lembaga-lembaga yang menangani masalah HIV/AIDS untuk menyediakan tempat-tempat konsultasi yang dapat memberikan pemahaman tentang seks yang benar pada kalangan remaja. Peran keluarga juga dituntut untuk membekali anak-anak dengan informasi tentang seks dan bahaya HIV/AIDS, disamping juga diharapkan kepada lembaga-lembaga yang menangani masalah perempuan agar memberikan pengetahuan kepada perempuan tentang bahaya HIV/AIDS dan apa saja yang dapat mereka lakukan untuk melindungi diri sendiri. Bagi lembaga pendidikan, diusulkan juga perlunya memasukkan pendidikan seks yang sehat ke dalam mata pelajaran biologi khususnya tingkat SMU dan secara simultan dibarengi dengan pendidikan agama agar proprosional antara kognitif (pengetahuan) dan afektif (sikap/perilaku).
Segmentasi promosi kesehatan pada kalangan remaja sangat pas dilakukan melalui media olahraga sepakbola karena supporter sepakbola yang terbesar adalah kalangan remaja (pemuda). Maka tak salah bila Persipura dipilih menjadi media kampanye bahaya HIV/AIDS oleh funding agency, dan juga perlu dilakukan oleh pemerintah (Depkes/Dinkes).

(Copyright @ Fatmah Afrianty Gobel, penulis adalah Ketua Program Studi Kesmas, FKM UMI, Makassar)

2 Juni 2009 - Posted by | Uncategorized | ,

1 Komentar »

  1. Moralitas dan pendidikan agama adalah kunci pemberantasan penyakit AIDS ini.

    Komentar oleh Kaimun | 8 Oktober 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: