Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

Kebijakan Pembangunan Kesehatan Di Kawasan Timur Indonesia

Ada lima isu utama dalam platform pembangunan manusia Indonesia yang dicanangkan pemerintahan SBY-JK. Salah satu dari lima isu tersebut adalah isu peningkatan pembangunan kesehatan. Keempat isu lainnya adalah isu peningkatan ketahanan dan kecukupan pangan, peningkatan pembangunan pendidikan, peningkatan pemenuhan atas rasa aman dan penguatan wawasan kebangsaan, kebudayaan, keagamaan dan etika. Kelima isu tersebut sebagai implementasi dari pemenuhan hak-hak dasar rakyat Indonesia berdasarkan konstitusi Undang-Undang Dasar 1945 yakni hak atas pangan, kesehatan, pendidikan dan rasa aman. Program tersebut dibawah koordinasi Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Kantor Menkokesra).
Dalam rangka pembangunan kesehatan, pemerintah nampaknya mengutamakan peningkatan kualitas kesehatan dengan cara mengoptimalkan dukungan kepada 33 kabupaten percontohan dalam penanganan kesehatan masyarakat. Ke-33 kabupaten tersebut kemudian ditambah menjadi 100 kabupaten percontohan. Salah satu program utama dalam pembangunan kesehatan adalah program desa siaga dengan mengadakan penambahan bidan desa dan 15 ribu petugas lapangan KB.
Pada tingkat implementasi, pemerintah melalui Kementerian Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) telah mendesain kebijakan pembangunan kesehatan di daerah tertinggal untuk mewujudkan Indonesia Sehat 2010. Kawasan Timur Indonesia dikenal sebagai wilayah yang masih memiliki banyak daerah tertinggal tentunya tercakup didalam program Kementerian PDT tersebut.
Setidaknya ada tujuh kebijakan strategis Kementerian PDT dalam bidang kesehatan: pertama, melakukan kerjasama lintas sektoral dalam arti meningkatnya secara bermakna kerjasama lintas sektor dalam pembangunan kesehatan, kontribusi positif sektor lain terhadap kesehatan, upaya penanggulangan dampak negatif pembangunan terhadap kesehatan, serta membaiknya perilaku dan lingkungan hidup yang kondusif bagi terwujudnya masyarakat sehat.
Kedua, kemandirian masayrakat dan kemitraan swasta, dalam arti meningkatnya secara bermakna kemampuan masyarakat untuk memelihara dan memperbaiki keadaan kesehatannya, serta menjangkau pelayanan pelayanan kesehatan yang layak sesuai kebutuhan, meningkatnya secara bermaksa daya swasta serta jumlah anggota masyarakat yang memanfaatkan upaya kesehatan swasta. Ketiga, mempromosikan perilaku hidup sehat, dalam arti meningkatnya secara bermakna jumlah ibu hamil yang memeriksakan diri dan melahirkan yang ditolong oleh tenaga kesehatan, jumlah bayi yang memperoleh imunisasi lengkap, jumlah bayi yang memperoleh air susu ibu (ASI) eksklusif, jumlah anak balita ditimbang setiap bulan, jumlah pasangan usia subur (PUS) peserta keluarga berencana (KB), jumlah penduduk dengan gizi seimbang, jumlah penduduk buang air besar di jamban saniter, jumlah penduduk yang memperoleh air bersih, jumlah pemukiman bebas vektor dan rodent, jumlah rumah yang memenuhi syarat kesehatan, jumlah penduduk berolahraga dan istirahat teratur, jumlah keluarga dengan komunikasi internal dan eksternal, jumlah keluarga yang menjalankan ajaran agama dengan baik, jumlah penduduk yang tidak berhubungan seks diluar nikah, serta jumlah penduduk yang menjadi peserta JPKM (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat).
Keempat, mewujudkan lingkungan sehat, dalam arti meningkatnya secara bermakna jumlah wilayah/kawasan sehat, tempat-tempat umum sehat, tempat pariwisata sehat, tempat kerja sehat, rumah dan bangunan sehat, sarana sanitasi, sarana air minuman, sarana pembuangan limbah, lingkungan sosial termasuk pergaulan sehat dan keamanan lingkungan serta berbagai standar dan peratura perundang-undangan yang mendukung terwujudnya lingkungan sehat. Kelima, upaya kesehatan, dalam arti meningkatnya secara bermakna jumlah sarana kesehatan yang bermutu, jangkauan dan pelayanan kesehatan, penggunaan obat generik dalam pelayanan kesehatan, penggunaan obat secara rasional, pemanfaatan pelayanan promotif dan preventif, biaya kesehatan yang dikelola secara efisien dan ketersediaan pelayan kesehatan sesuai kebutuhan.
Keenam, manajemen pembangunan kesehatan, dalam arti meningkatnya secara bermakna sistem informasi pembangunan kesehatan, kemampuan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi pembangunan kesehatan, kepemimpinan dan manajemen kesehatan, serta peraturan perundang-undangan yang mendukung pembangunan kesehatan. Ketujuh, derajat kesehatan, dalam arti meningkatnya secara bermakna umur harapan hidup, menurunnya angka kematian ibu dan bayi, menurunnya angka kesakitan beberapa penyakit penting, menurunnya angka kecacatan dan ketergantungan, meningkatnya status gizi masyarakat, dan menurunnya angka fertilitas.
Dalam rangka akuntabilitas program kesehatan, maka peran perguruan tinggi, termasuk Jaringan Peneliti Kawasan Timur Indonesia dapat menjadi partner pemerintah dalam mengawasi implementasi di lapangan atas kebijakan strategis tersebut. Bentuk-bentuk pengawasan berupa penelitian lapangan untuk mengetahui sejauh mana kebijakan tersebut dilakasanakan sesuai desain kebijakan yang telah ditetapkan sebelumnya. Apalagi cita-cita mewujudkan Indonesia Sehat 2010 tinggal dua tahun lagi. Sedang bila mengacu pada Millenium Development Goals, tinggal tujuh tahun lagi pada tahun 2015.
Untuk mengukur hasil program pembangunan kesehatan sebagaimana ditetapkan Kantor Menkokesra dan Kementerian PDT diatas, salah satunya dengan melihat indeks pembangunan manusia (Human Development Indeks) yang didalamnya tercakup ukuran angka harapan hidup, tingkat pendidikan dan standar hidup. Angka harapan hidup adalah unsur dari kesehatan masyarakat. Saat ini peringkat Indonesia dalam HDI yang ditetapkan UNDP pada tahun 2006 berada pada peringkat 108 dari 177 negara-negara di dunia. Bila program pemerintah berhasil, semestinya ada perbaikan peringkat ke tingkat yang lebih baik tentunya dibarengi dengan tingkat kesejahteraan masyarakat secara nyata, bukan hanya dilihat dengan angka-angka agregat.

(Fatmah Afrianty Gobel, penulis adalah Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Artikel ini pernah dimuat dalam Majalah BAKTINEWS Vol. III Edisi 30, Januari 2008).

6 Juli 2009 - Posted by | Uncategorized | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: