Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

Puasa Itu Sehat

Bagi umat Islam, berpuasa adalah kewajiban pada bulan Ramadhan dalam kalender hijriyah. Berpuasa berarti menahan lapar dan haus pada siang hari dengan tidak mengonsumsi apapun ke dalam tubuh. Disamping mengandung manfaat bagi rohani, berpuasa juga berfaedah secara jasmaniah. Sabda Nabi Muhammad SAW, ”Berpuasalah kamu, maka kamu akan menjadi sehat.”
Dalam perspektif kesehatan, puasa mengandung banyak manfaat. Di negara-negara maju, puasa dijadikan salah satu bentuk terapi (fasting therapy) untuk penyembuhan beberapa jenis penyakit, utamanya yang terkait dengan kelebihan makan. A. Setiono Mangoenprasodjo dalam bukunya “Detoksifikasi – Terapi Puasa Menuju Sehat”, puasa merupakan metode detoksifikasi dan penyembuhan paling tua dalam sejarah pengobatan manusia. Pada tahap awal puasa, tubuh membuang sejumlah besar ampas dan sisa-sisa pencernaan. Tahap kedua, tubuh akan membersihkan kerak (mukus/lendir yang mengeras), lemak, sel-sel sakit dan haus, dan zat-zat bersifat racun lainnya. Puasa berlanjut, proses pembersihan akan terjadi lebih menyeluruh. Proses detoksifikasi efektif jika puasa dilakukan dengan cara yang benar, dengan pola makan seimbang dan banyak mengonsumsi buah dan sayur.
Dalam jurnal Islamic Medical Asosociation of South Africa, Dr. Farouk Haffejee memperkenalkan petunjuk berpuasa yang sehat dan nyaman. Karena perut dibiarkan kosong selama beberapa jam, akan lebih baik jika mengkonsumsi makanan yang lunak dan mudah dicerna termasuk makanan yang kaya serat saat sahur dibanding mengkonsumsi makanan keras. Makanan lunak akan bertahan lama di perut sampai delapan jam sementara makanan keras hanya mampu bertahan sekitar tiga sampai empat jam. Makanan yang bisa dicerna lambat oleh pencernaan sehingga kadar gula dalam tubuh naik secara perlahan selain lebih banyak mengandung serat dan vitamin.
Menurut Haffejee, jenis makanan yang termasuk karbohidrat kompleks bisa kita dapatkan dari jenis biji-bijian seperti gandum, buncis, tepung kaya protein, beras, semolina (gandum yang banyak digunakan untuk membuat pasta). Sedangkan makanan yang cepat dicerna tubuh adalah makanan yang termasuk jenis karbohidrat simpleks yang merupakan karbohidrat yang cepat diserap tubuh, karena banyak mengandung glukosa dan siap diserap. Yang termasuk didalamnya antara lain gula, susu, permen, dan cookies. Makanan kaya serat terdiri dari gandum utuh, butir dan bibit yang berisi bekatul, sayur seperti buncis hijau, kacang polong, sumsum, mealies, bayam, daun umbi bit (kaya zat besi), buah-buahan yang bisa dimakan beserta kulitnya, buah-buahan kering terutama aprikot, ara dan buah prem kering dan kacang almon. Seperti halnya makanan yang kita konsumsi setiap hari, selama bulan puasa usahakan tetap mengkonsumsi makanan dengan komposisi seimbang, karbohidrat, daging/ayam/ikan, roti/sereal serta produk olahan susu. Batasi konsumsi makanan yang digoreng, karena makanan yang digoreng menyebabkan gangguan pencernaan, problem jantung, serta masalah berat badan.
Temuan Ilmiah
Berdasarkan data penelitian, berpuasa bisa meningkatkan kolesterol baik (HDL) sebanyak 25 titik dan menurunkan lemak trigliserol sekitar 20 titik. Lemak trigliserol merupakan bahan pembentuk kolesterol jahat (LDL). Sehingga berpuasa sangat baik dilakukan bagi penderita stroke dan jantung karena penderita penyakit ini kadar kolesterolnya dalam darah sangat tinggi yang dalam jangka panjang mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah, penyumbutan pada otak (stoke) maupun penyumbatan pada jantung (penyakit jantung).
Puasa juga dapat mengurangi produksi senyawa oksigen yang mengandung racun (radikal bebas oksigen). Bila radikal bebas oksigen berlebihan dalam tubuh, maka akan mengurangi aktifitas kerja enzim, kerusakan dinding sel dan menyebabkan terjadinya mutasi. Senyawa radikal bebas dapat memperparah sekitar 50 penyakit degeratif, termasuk penyakit stroke, penyakit jantung dan kanker.
Penderita penyakit diabetes pun akan sangat merasakan manfaat bila melakukan puasa. Pada saat berpuasa, konsumsi kalori akan berkurang sehingga mengurangi sirkulasi hormon insulin dan kadar gula darah. Sebaliknya, berpuasa akan meningkatkan sensitifitas hormon insulin dalam menormalkan kadar gula darah. Dengan gula darah yang terkontrol dengan baik akan mencegah datangnya penyakit diabetes tipe-2.
Meski puasa menyehatkan, gangguan penyakit dapat saja terjadi bila makan berlebihan yang menyebabkan terjadi gangguan pencernaan. Biasanya, saat berbuka puasa terlalu banyak mengonsumsi makanan berlemak dan gorengan, makanan pedas, dan makanan yang memicu produksi gas buangan, seperti telur dan kubis. Untuk mencegahnya, seharusnya banyak mengkonsumsi jus buah dan air mineral serta mengurangi minuman mengandung soda. Selain gangguan pencernaan, konstipasi (sembelit) juga sering dialami ketika berpuasa. Sembelit (susah buang air besar) dapat menyebabkan ambein, rasa nyeri pada saluran anal dan perut terasa kembung. Untuk mencegahnya, sebaiknya mengkonsumsi makanan tinggi serat (biji-bijian dan buah-buahan), makanan yang mengandung karbohidrat seperti roti atau gandum yang mengandung bekatul serta minum air putih yang banyak.
Salah Kaprah
Dalam menjalankan amalan di bulan puasa, sebagian umat Islam di Indonesia masih menganggap berbuka puasa dengan mengonsumsi makanan yang manis dianggap “sunnah”, bertolak dari kebiasaan Rasulullah Muhammad ketika berbuka puasa dengan kurma yang mengandung rasa manis. Sementara kurma yang dikonsumsi orang Indonesia bukanlah kurma segar seperti yang dikonsumsi Rasulullah karena sudah diberi gula agar dapat bertahan selama pengiriman dari wilayah Timur Tengah ke Indonesia. Nabi Muhammad Saw berkata : “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.”
Kurma mengandung karbohidrat kompleks (complex carbohydrate), sedang makanan atau minuman yang mengandung gula adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate) sehingga jelas berbeda kandungan gizinya. Menurut ahli gizi, berbuka puasa dengan makanan/minuman manis yang mengandung gula (karbohidrat sederhana) justru dapat merusak kesehatan. Mengapa demikian? Ketika menjalankan puasa, kadar gula darah dalam tubuh menurun. Apabila mengonsumsi makanan/minuman yang manis, kadar gula darah akan melonjak naik secara langsung, sementara bila mengonsumsi kurma (utamanya dalam kemasan yang masih segar) maka naiknya berlangsung perlahan. Untuk menjadi glikogen, kurma yang mengandung karbohidrat kompleks perlu proses yang memakan waktu.
Berbicara tentang gula dalam darah maka kita akan menyinggung tentang glycemix index (GI). GI secara sederhana dipahami sebagai laju perubahan makanan diubah menjadi gula dalam tubuh. Bila dalam makanan makin tinggi glikemik indeks maka makin cepat makanan itu diubah menjadi gula menyebabkan makin cepat menghasilkan respons insulin. Sementara itu makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin banyak menimbun lemak. Sementara penimbunan lemak dalam tubuh tidak baik bagi kesehatan.
Bagi yang berpuasa, bila seharian perut kosong dan langsung mengisi perut dengan makanan/minuman yang mengandung glikemiks indeks tinggi, maka respon insulin dalam tubuh melonjak naik. Respon insulin dalam tubuh akan cepat merespon untuk menimbun lemak. Mengonsumsi kurma pun perlu dibatasi karena kurma yang sampai ke Indonesia adalah jenis “manisan kurma”, bukan kurma asli sebagaimana yang biasa dikonsumsi Rasulullah.
Cara sehat untuk berbuka puasa adalah dengan cara meneguk segelas air putih sebelum menunaikan shalat maghrib. Setelah shalat maghrib, kemudian makan nasi. Nasi mengandung karbohidrat kompleks yang memakan waktu untuk diproses dalam tubuh sehingga respon insulin dalam tubuh tidak melonjak naik. Respon insulin yang rendah menyebabkan tubuh menabung lemak dalam kadar rendah pula. Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud).
Tidak mengherankan bila pada sebagaian masyarakat Muslim pada saat usai Ramadhan justru mengalami bentuk tubuh yang lebih berisi karena ketika berpuasa dijejali makanan/minuman manis yang mengandung korbohidrat sederhana. Bentuk tubuh yang berisi karena terjadi penimbunan lemak pada daerah-daerah tertentu pada tubuh seperti pada perut, pinggang, pipi, paha, bokong, dan belakang lengan. Penimbunan lemak terjadi karena otot yang mengecil akibat berpuasa justru dibanjiri dengan insulin melalui konsumsi makanan yang mengandung kadar gula yang tinggi. Sehingga tidak mengherankan bila pada orang yang berpuasa tubuhnya lemas, sering mengantuk atau tubuh bertambah gemuk karena kebanyakan konsumsi makanan yang manis-manis.
(Tulisan ini telah dimuat di harian Fajar, 09 September 2009. Penulis, Fatmah Afrianty Gobel adalah Ketua Prodi Kesmas FKM UMI Makassar)

6 September 2009 Posted by | Uncategorized | , | Tinggalkan komentar

Puasa Agar Sehat

Hidup sehat dan sejahtera adalah dambaan semua manusia. Kategori hidup sehat bila seseorang dapat hidup secara produktif, sehat secara fisik, mental dan sosial. Sejahtera berarti merasa cukup apa yang dimiliki (qonaah). Bila seseorang sehat maka setiap waktu digunakan untuk berproduksi. Seseorang yang merugi adalah seseorang yang membiarkan waktu berlalu tanpa melakukan suatu kegiatan produktif sehingga amalnya tidak juga bertambah. Rugi waktu lebih buruk ketimbang rugi uang; bila kehilangan uang maka bisa dicari, tetapi bila waktu yang hilang tidak akan mungkin diganti.
Apalagi waktu dalam bulan suci Ramadhan setiap detik sangat berarti karena tiap detik waktu dinilai sebagai ibadah. Umat Islam sangat dianjurkan bekerja dalam bulan Ramadhan karena sehat meski tidak makan dan minum pada siang hari. Berbagai peristiwa bersejarah terjadi dalam bulan Ramadhan seperti Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan, penobatan Nabi Muhammad sebagai Rasul pada bulan Ramadhan, perang badar dilakukan pada bulan Ramadhan, bahkan Proklamasi kemerdekaan RI terjadi dalam bulan Ramadhan.
Anjuran bekerja dalam bulan Ramadhan mencari reski dimuka bumi mendapatkan justifikasi dalam ilmu kesehatan dan kedokteran. Bila tidak ada pergerakan tubuh (tangan dan kaki) darah akan mengambil kalsium yang terdapat dalam tulang untuk dibuang melalui saluran kencing. Efeknya, tulang akan kekurangan kalsium sehingga menjadi rapuh dan keropos yang menyebabkan mudah patah. Sebelum mengalami resiko patah tulang, didahului dengan patahan kecil-kecil yang mengakibatkan pegal, sakit pinggang dan sakit dalam tulang.
Kebiasaan sebagian orang Islam sesudah makan sahur dan shalat subuh kembali melanjutkan tidurnya. Padahal dianjurkan setelah shalat subuh dianjukan mulai melakukan pekerjaan yang bermanfaat. Apabila selesai melakukan satu pekerjaan, maka kerjakanlah pekerjaan yang lain. Cara ini akan mendatangkan banyak pahala, badan selalu sehat, dan puasa memiliki makna sosial. Allah dalam Al-Qur’an pada surat Al ‘Araf ayat 179 menyatakan bahwa: “Sesungguhnya telah Kami jadikan isi nereka jahannam kebanyakkan dari Jin dan manusia Yang mempunyai hati tapi tak digunakan untuk mengerti, dan punya mata tak digunakan untuk melihat,punya telimga tapi tak digunakan untuk mendengar. Mereka bagaikan ternak, bahkan lebih sesat. Maka mereka itulah orang-orang yang lalai”.
Kebanyakan orang yang sakit adalah orang-orang yang tidak banyak melakukan gerakan tubuh (bekerja), bermalas-malasan, tidak mengasah otak, tidak membuka mata dan telinga untuk mencari rezki yang halal. Golongan orang seperti disebut diatas didunia sudah merasakan sakitnya hidup, lebih-lebih di akhirat kelak.
Puasa bagi orang Islam adalah kewajiban yang harus ditunaikan dan termasuk dari rukun ketiga setelah syahadat dan shalat. Namun bagi orang-orang yang berusia lanjut dan menderita penyakit maag dan diabetes memerlukan syarat-syarat khusus untuk bisa menjalankan ibadah puasa agar sehat. Syarat yang penting pada orang usia lanjut adalah kecukupan asupan cairan selama berpuasa sekitar 1,5-2 liter per hari. Bila asupan cairan terpenuhi maka puasanya akan aman karena fungsi ginjal tidak mengalami gangguan.
Untuk mencegah tidak terjadi kekurangan cairan selama berpuasa, pada saat berbuka puasa sebaiknya meminum 2 gelas air, kemudian setelah tarawih kembali meminum 3-4 gelas air, saat bangun tidur sebelum sahur 1 gelas dan saat sahur meminum 1-2 gelas. Syarat lainnya bagi usia lanjut berpuasa bila penyakitnya terkontrol, tidak terdapat infeksi akut dan kondisi badannya stabil.
Asupan gizi perlu mendapat perhatian dengan proporsi gizi yang seimbang, tidak memakan makanan gorengan dan tinggi lemak, mengurangi minum the/kopi, membatasi makanan yang lebih cepat dicerna seperti gula serta disarankan mengonsumsi makanan yang lamat dicerna dan berserat tinggi. Karena itu pada saat berbuka puasa disarankan mengonsumsi kurma yang mengandung karbohidrat, kalium, kalsium, magnesium, fosfor, zat besi dan gula serat.
Bagi penderita penyakit maag, bila 6-8 jam menahan makan dan minum maka terjadi peningkatan asam lambung yang dapat menyebabkan gejala penyakit maag sehingga memperberat kondisi sakit lambungnya bila tidak berobat secara tepat. Penderita penyakit maag yang dapat berpuasa bila sakitnya hanya gangguan fungsional saja. Tetapi bila penderita penyakit maag kronis, perlu dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu atau menjalankan puasa dengan disertai rutin meminum obat. Sangat dianjurkan untuk tidak makan secara berlebihan ketika berbuka puasa atau pada saat makan sahur.
Demikian halnya dengan penderita diabetes, melaksanakan puasa dapat menyebabkan gula darah menjadi turun. Karena itu, untuk kategori tertentu seperti penderita diabetes tipe 1, pasien dengan insulin dosis tinggi,pasien diabetes yang sakit berat, pasien diabetes pada penderita kehamilan, pasien yang pernah mengalami konflikasi berat tidak diperbolehkan berpuasa.
Selama menjalankan puasa, sistem kerja organ pencernaan akan berubah. Pada siang hari organ pencernaan beristirahat sedang pada malam hari baru beroperasi. Bila pada hari di luar Ramadhan bebas mengonsumsi makanan selama 24 jam, maka pada bulan puasa dibatasi hanya selama dua kali di malam hari, saat berbuka puasa/makan malam dan saat makan sahur.
Masalah makan dan minum dalam Al-Quran sudah diatur pedomannya. “Dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (QS 7: 31). Makna ayat tersebut mengandung implikasi pada kesehatan tubuh manusia karena orang yang kelebihan makan-minum akan mudah terkena macam-macam jenis penyakit. Rasulullah SAW bersabda: “Kami (adalah umat) yang makan hanya bila kami merasa lapar, dan bila kami makan maka kami tiadalah sampai kenyang” (Al Hadits). Dalam kesempatan lain, Nabi juga bersabda: “Perut itu rumah segala penyakit, dan penjagaan atas makanan adalah permulaan pengobatan. Permulaan segala penyakit adalah mengisi perut secara berlebihan” (Al Hadits).
Makna dibalik puasa dan melaksanan shalat sunah tarawih dan witir adalah badan dianjurkan melakukan gerak olahraga secara rutin sekitar 2 jam saban hari selama sebulan. Gerakan tubuh tersebut menyebabkan tubuh terasa fit, bugar dan relaks. Puasa Ramadhan mampu membersihkan racun dalam tubuh baik pada ginjal, paru-paru, usus besar, kelenjar limfa dan kulit. Puasa akan mengurangi asupan zat gizi sekitar 20 sampi 30 persen, utamanya kalori. Kurangnya masukan gizi dan energi orang yang berpuasa justru membuat tubuh harus mencari sumber energi yang tersimpan didalam tubuh yang disebut fungsi autolisis. Pengertian autolisis sendiri adalh terpakainya simpanan lemak tubuh untuk dijadikan sumber energi tubuh. Sebuah data penelitian pernah menyebutkan setelah berpuasa rata-rata terjadi penurunan berat badan antara 1-4 kg.
Beberapa sarjana telah melakukan penelitian hubungan puasa dengan kesehatan jasmaniah manusia. Di Amerika seorang peneliti bernama Dr Alan Colt dan Dr Subki Abdul Kadir menemukan hasil penelitiannya bahwa mejalankan puasa akan dapat membuat kemampuan seseorang menjadi lebih muda secara fisik. Temuan yang sama dihasilkan seorang sarjana dari Rusia bernama Dr Yuri Nicolayev. Penelitian dengan topik yang sama juga pernah dilakukan sarjana Indonesia Dr A.A. Yusuf bersama rekan-rekannya. Mereka menyimpulkan bahwa pada akhir puasa diupayakan mengembalikan peranan mekanisme otoregulasi sistem andrenergik yang pada keadaan sebelumnya selama berpuasa Ramadan, mungkin telah mengalami penurunan aktivitas pada sistem simpatis.
Fakta lain bahwa puasa dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan memperbaiki kolesterol darah. Penjelasan akademisnya: dengan pengurangan konsumsi kalori akan membuat berkurangnya laju metabolisme energi. Sebagai bukti adalah suhu tubuh orang berpuasa akan menurun. Suhu tubuh yang turun menunjukkan adanya pengurangan konsumsi oksigen. Demikian halnya dengan kolesterol darah, puasa dapat meningkatkan kolesterol darah HDL (yang sehat) 25 mg persen, dan menurunkan lemak trigliserol sekitar 20 mg persen. Lemak trigliserol merupakan bahan pembentuk kolesterol LDL (yang merusak kesehatan). Dalam jangka panjang, kadar kolesterol darah yang tinggi akan menyumbat saluran pembuluh darah dalam bentuk aterosklerosis (pengapuran atau pengerasan pembuluh darah). Bagi penderita tekanan darah tinggi sangat dianjurkan berpuasa agar sehat.
(Artikel ini pernah dimuat pada Harian Tribun Timur, 24 September 2008.Penulis, Fatmah Afrianty Gobel adalah Ketua Prodi Kesmas FKM UMI, Makassar)

6 September 2009 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar