Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

Sumpah Pemuda Anti-Rokok

Dalam momentum menjelang peringatan Hari Soempah Pemoeda, pada Minggu (11/10) lalu di Gedung Kebangkitan Nasional STOVIA, Jakarta, sejumlah pemuda Indonesia yang tergabung dalam Jaringan Pengendalian Dampak Tembakau mendeklarasikan komitmen untuk melepaskan diri dari bahaya buruk dari kebiasaan merokok sebagai bentuk penjajahan oleh industri rokok. Deklarasi tersebut didukung oleh Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, dan sejumlah organisasi pelajar, kemahasiswaan dan kepemudaan.
Sebenarnya deklarasi ini dilatarbelakangi oleh kekecewaan terhadap pemerintahan pro-neoliberal pimpinan SBY yang membiarkan generasi muda Indonesia terbenam dalam jerat kapitalisme industri rokok dan secara individu merusak kesehatan masyarakat Indonesia pada umumnya. Dibawah pemerintahan neoliberal, Indonesia menjadi sampah nikotin dan jajahan industri rokok asing melalui penanaman modal asing produk rokok seperti yang dilakukan BAT dan Philip Morris. Industri rokok yang sejatinya ibarat “monster pencabut nyawa” saat ini berhasil menampilkan dirinya sebagai malaikat penebar kebaikan dengan menjadi sponsor beasiswa pendidikan, event olahraga dan berbagai pertunjukan kesenian. Produsen rokok seakan-akan menjadikan pemuda sebagai target pasar dengan berani dan agresif menjadi penyandang dana pendidikan untuk menggenjot prestasi dan kreasi pemuda. Padahal dibalik semua itu, justru para remaja dan pemuda itu adalah target penjajahan nonfisik dengan membawa dampak merebaknya kesakitan, kemiskinan dan kebodohan akibat penjajahan adiksi nikotin rokok.
Bila mengacu pada data Susenas 2006, pengeluaran untuk pembelian rokok adalah 2 kali lipat pengeluaran pengeluaran untuk ikan (6,8 persen), 5 kali lebih besar dari pengeluaran telur dan susu (2,3 persen), dan 17 kali lipat pengeluaran membeli daging (0,7 persen). Bahkan konsumsi rokok semakin hari semakin meningkat, terutama dikalangan pemuda peningkatan tertinggi perokok di Indonesia terjadi pada kelompok remaja umur 15-19 tahun, yaitu dari 7,1, persen pada 1995 menjadi 17,3 persen pada 2004.
Berdasarkan prediksi tahun 2008, sebanyak 658 juta batang rokok per hari atau 240 miliar batang per tahun dihisap rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Bila dikapitalisasi diperkirakan sekitar Rp 330 miliar per hari peredaran uang hanya pada transaksi rokok. Angka Rp 330 miliar yang “dibakar” setiap hari oleh para perokok di Indonesia yang tingkat kemiskinannya masih relatif tinggi merupakan angka yang sangat fantastis. Di Indonesia, 70 persen dari 60 juta perokok adalah mereka yang berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah. Fakta ini menunjukkan bahwa penyumbang penghasilan bulanan kepada industri rokok berasal dari sekitar 63 persen laki-laki dari 20 persen penduduk termiskin di Indonesia melalui konsumsi rokoknya. Selain itu, sekitar 65,6 juta perempuan dan 43 juta anak-anak di Indonesia yang terpapar asap rokok dan rentan terhadap ancaman penyakit akibat rokok seperti penyakit paru-paru, kanker hati, kanker usus, bronchitis, stroke dan penyakit lainnya.
Peneliti senior Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Sri Moertiningsih Adioetomo, pernah menyatakan bahwa dari sebuah studi ditemukan bahwa biaya rawat inap pengidap penyakit akibat merokok mencapai Rp 2,9 triliun per tahun. Faktanya memang setiap tahun sekitar 200.000 kematian di Indonesia diakibatkan kebiasaan merokok. Sebanyak 25.000 korban adalah perokok pasif. Memang akibat rokok tak akan langsung muncul seketika. Dampaknya baru tampak setelah 25 tahun sejak seseorang pertama kali merokok.
Laris manisnya konsumsi rokok karena harga yang sangat terjangkau alias super murah. Dengan bermodal Rp 1000 pun, rokok sebatang sudah bisa berada di tangan perokok dari warung-warung pinggir jalan. Bandingkan dengan di Swedia yang mematok harga mahal untuk rokok dengan harga jual sebungkus rokok mencapai Rp 75 ribu atau setara dengan sekali sarapan pagi di negeri Skandinavia tersebut. Akibat harga rokok yang mahal, masyarakat Swedia jarang membeli rokok sedang bagi para pencandu rokok mereka mengonsumsi permen tembakau yang harganya relatif murah sekitar Rp 25 ribu dengan isi yang lumayan banyak.
Sebenarnya kondisi Indonesia lebih parah daripada Cina. Harga rokok termurah di Cina minimal Rp 50 ribu, tingkat konsumsi rokok juga sangat tinggi mencapai 5 persen dari total penduduknya sebanyak 1,5 milyar. China Tobacco adalah produsen rokok terbesar di China sekaligus terbesar di dunia. Sementara konsumsi rokok per kapita Indonesia sekitar 1 persen dari total penduduk yang berjumlah sekitar 240 juta penduduk. Bila dampak buruk rokok ingin diminimalisir maka pemerintah seharusnya menaikkan pajak cukai rokok hingga harga sebungkus rokok bisa mencapai Rp 50 ribu per bungkus. Bila harganya mahal, maka konsumsi rokok akan terbatas hanya pada kalangan orang kaya, dan sebagian pemuda saja.
Dengan kenyataan ini, industri rokok semakin menguatkan cengkramannya dalam ekonomi politik di negeri ini dalam memperkuat daya tawarnya dalam perumusan kebijakan publik. Salah satunya adalah diendapkannya RUU Pengendalian Dampak Tembakau dibahas di DPR sehingga membuat industri rokok dapat bernafas lega, meski aturan tentang rokok tetap tercantum dalam UU Kesehatan 2009 yang baru yang dicoba untuk dihilangkan oleh pihak-pihak tertentu pada Pasal 113 ayat 2.
Pemerintah tampaknya ambivalen terhadap rokok karena terkait dengan pemasukan negara dengan adanya cukai rokok, iklan rokok/billboard di jalan-jalan utama serta lapangan kerja bagi sebagian orang. Meski fatwa MUI pun menganjurkan untuk meninggalkan rokok, jumlah perokok tidak berkurang signifikan, termasuk di kalangan umat Islam. Candu rokok telah mampu membuat ketergantungan yang sangat tinggi dan sulit untuk ditinggalkan bagi para perokok.
Bila dibandingkan antara pemerintahan SBY dengan pemerintahan Barack Obama, maka Obama relatif lebih peduli terhadap bahaya rokok dan tembakau kepada kesehatan masyarakat. Meskipun industriawan rokok lebih kuat lobinya di AS, namun Obama berani menandatangani UU Pencegahan Merokok dalam Keluarga dan Pengendalian Tembakau pada 22 Juni 2009 silam. UU ini telah memberikan kekuatan baru bagi Badan Pengawasan Obat dan Makanan (FDA) dan pemerintah federal AS untuk membuat regulasi produksi, promosi dan pemasaran rokok serta produk-produk tembakau lainnya.
Sebuah hasil penelitian yang dilakukan terhadap 8.000 orang yang telah dipublikasikan dalam jurnal Annal of Internal Medicine menyimpulkan bahwa merokok dapat dikaitkan dengan tingkat albumin yang lebih tinggi dan fungsi ginjal yang abnormal. Albumin merupakan suatu protein yang menunjukkan fungsi ginjal yang buruk. Perokok ringan maupun perokok berat akan lebih mungkin memiliki kandungan albumin dalam air seninya dibandingkan mereka yang tidak merokok. Sedang mereka yang merokok relatif sedikit kurang dari satu bungkus rokok per hari mempunyai kemungkinan dua kali lebih besar untuk memiliki kandungan protein albumin dalam air seninya dibandingkan mereka yang tidak merokok. Bagi perokok berat akan mempunyai peluang lebih dari dua kali lebih besar untuk memiliki masalah tersebut.
Publikasi ilmiah lainnya dilakukan Dr. Monique Breteler dan rekannya dari Erasmus Medical Center di Rotterdam, Belanda didalam jurnal Neurology. Dalam penelitiaannya terhadap 7.000 orang yang berusia 55 tahun dan lebih selama rata-rata tujuh tahun, selama rentang waktu penelitian, 705 diantara orang-orang yang menjadi sasaran penelitian terserang sakit jiwa (dementia). Perokok yang berusia diatas 55 tahun menghadapi kemungkinan 50 persen untuk terserang sakit jiwa dibandingkana dengan orang yang tidak merokok.
Pada tahun 1964, sebuah laporan penting tentang dampak negatif rokok terhadap kesehatan dikeluarkan oleh The Surgeon General’s Advisory Committee on Smoking and Health di Amerika Serikat. Di Inggris telah pula mengeluarkan laporan penelitian penting yang mengungkapkan bahwa merokok menyebabkan penyakit kanker paru-paru, bronchitis dan berbagai penyakit lainnya, dipublikasikan oleh The Royal College of Physician of London. Hingga tahun 1985, sudah sekitar 30.000 paper ilmiah yang mempublikasikan rokok dan kesehatan. Nah, bukti-bukti ilmiah ini semakin memperjelas bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan.
Maka tak salah bila momentum Hari Soempah Pemoeda tahun 2009 dapat pula menjadi tonggak baru bagi pemuda sebagai masa depan bangsa untuk melepaskan diri dari bahaya rokok. Saatnya para Pemuda Indonesia mengucapkan SOEMPAH PEMOEDA ANTI-ROKOK dan katakan “Tidak” pada rokok.

4 November 2009 - Posted by | Uncategorized | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: