Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

Manohara, Perempuan dan Kekerasan Seksual

Kasus yang menimpa Manohara Odelia Pinot mendominasi tayangan media televisi akhir-akhir ini setelah berhasil melarikan diri dari cengkeram Tengku Fahry (Pangeran Kerajaan Kelantan, Malaysia yang telah menikahinya), selain isu pemilu presiden dan kasus Antasari Azhar. Meski awalnya hanya kasus individu, namun secara perlahan kasus Manohara menjelma menjadi kasus besar karena melibatkan sentimen dua negara yang sedang berseteru dalam kasus Ambalat. Selain itu, kasus Manohara adalah kasus tipikal perempuan yakni kekerasan seksual yang masuk dalam domain kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Bukti-bukti awal kekerasan seksual yang dialami Manohara telah didapatkan setelah menjalani visum et reperteum oleh dokter spesialis forensik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Untuk memperkuat penuntutan hukum atas kekerasan seksual, Manohara dibantu oleh delapan kuasa hukum dari delapan kantor pengacara berbeda, antara lain kantor pengacara Hotman Paris Hutapea, Elza Syarief, Farhat Abbas, Ahmad Alwi dan Vera Tobing.
Menurut pengacara Manohara, Hotman Paris Hutapea SH, secara pribadi telah meminta visum kepada dr Abdul Mun’in Idries dari RSCM untuk memperkuat dugaan kekerasan seksual dari Tengku Fahry, sang suami. Pemeriksaan visum kepada RSCM bukan untuk kepentingan penyelidikan tapi hanya untuk memuaskan keingintahuan publik dan memperkuat fakta telah terjadinya penyiksaan. Sebab sempat merebak dugaan public bahwa Manohara berbohong karena setelah tiba di Indonesia hanya sibuk melakukan safari infotainment pada sejumlah stasiun televisi dan mengesampingkan kasus hukum yang semestinya diprioritaskan.
Sementara bila untuk kepentingan penyelidikan, pemeriksaan visum haruslah penyidik yang menunjuk seorang dokter tertentu dan harus dicatat dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Dokter yang memeriksanya juga harus bersedia bersaksi di pengadilan.
Kekerasan Terhadap Perempuan
Setelah dilakukan visum pada tubuh Manohara, dr Mun’im Idris menyabutkan ada bekas luka sayatan pada 11 bagian tubuhnya. Pernyataan tersebut memperkuat dugaan bahwa Manohara benar telah diperlakukan tidak semestinya oleh sang suami Tengku Fahri, putra Mahkota Kerajaan Kelantan, Malaysia. Dengan demikian, tudingan Ratna Sarumpaet yang menuduh Manohara berbohong tidak benar. Ratna Sarumpaet Crisis Center sebelumnya adalah organisasi yang melakukan pembelaan hukum kasus Manohara, tetapi kemudian mengundurkan diri karena menilai Manohara dan Ibunya, Daisy Fajarina hanya menyebar kebohongan.
Sejak awal merebaknya kasus Manohara pada bulan April 2009 lalu, sebuah LSM peduli kekerasan terhadap perempuan (LBH APIK) telah menaruh perhatian dan meminta pemerintah untuk melakukan tindakan nyata. Dalam sebuah suratnya kepada Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Meneg PP) tertanggal 22 April 2009, LBH APIK menyatakan bahwa pemerintah wajib melindungi hak-hak dan menyelamatkan korban melalui loby kepada Pemerintah Malaysia untuk memberi perlindungan terhadap Manohara. LBH APIK juga menyampaikan bahwa kasus semacam ini banyak diderita perempuan Indonesia dan sering menerima pengaduan kekerasan semacam itu, seperti WNA yang mengawini perempuan WNI dan melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Indonesia kemudian WNA tersebut meninggalkan Indonesia.
Meski UU KDRT sudah diundangkan, perempuan masih sering mendapatkan tindakan kekerasan didalam rumah tangga. Bahkan dokumen CEDAW (Convention on the Elimination of All Form of Discirmination) yang sudah diratifikasi kedalam peraturan perundangan negara kita sejak dekade 1980-an (UU No. 7/1984) tidak menyurutkan perlakuan kekerasan dan tindakan diskrimatif terhadap perempuan. Dalam dokumen CEDAW disebutkan bahwa negara wajib mengutuk diskrimasi terhadap perempuan dalam segala bentuknya dengan segala cara yang tepat dan tanpa ditunda-tunda dengan berusaha tidak melakukan suatu tindakan atau praktek diskriminasi terhadap perempuan, dan untuk menjamin bahwa pejabat-pejabat pemerintah dan lembaga-lembaga negara akan bertindak sesuai dengan kewajiban tersebut (Pasal 2 CEDAW).
Dasar-dasar normatif perlindungan terhadap perempuan dan seluruh warga negara bisa ditelusuri dalam konstitusi tertinggi UUD 1945 pada Pasal 28D, Pasal 28G dan Pasal 28I. Dalam pasal 28D ayat (1) disebutkan bahwa setiap orang berhak atas perlakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum. Pasal 28G ayat (1) juga disebutkan bahwa setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. Pasal 28I ayat (4) termaktub bahwa perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah.
Kekerasan Seksual
Diantara sekian banyak kekerasan terhadap perempuan adalah kekerasan seksual. Kasus Manohara adalah salah satu bentuk kekerasan seksual yang terjadi dalam wilayah rumah tangga. Bentuk-bentuk kekerasan seksual yang sering terjadi seperti pelecehan seksual (perlakuan tidak sopan terhadap lawan jenis), perkosaan, kekerasan seksual pada anak, kekerasan berbasis jender dan perdagangan perempuan untuk prostitusi.
Pelecehan seksual kerap terjadi didalam lingkungan kerja maupun rumah tangga, namun kasus seperti ini sangat sedikit yang dilaporkan kepada pihak kepolisian. Disbanding di negara-negara lain, kasus pelecehan seksual dalam lingkungan kerja di Indonesia masih sedikit karena persoalan keengganan melaporkan kasusnya. Bagi sebagian besar pekerja perempuan memandang pelecehan seksual bukanlah kasus serius yang harus ditanggapi serius bahkan sudah menjadi sesuatu yang biasa terjadi di kantor-kantor.
Perkosaan adalah salah satu jenis kekerasan seksual yang banyak terjadi di sekitar kita. Diperkirakan sebanyak 22 persen korban perkosaan adalah perempuan, sementara laki-laki hanya 2 persen. Para korban perkosaan sebagian besar dilakukan oleh orang yang mengenal korban atau orang dekat korban. Sementara diperkirakan satu dari enam kasus perkosaan yang dilaporkan ke polisi. Data perkosaan paling ektrim terjadi di Amerika Serikat dimana setiap 2 menit terjadi satu orang diperkosa.
Kekerasan seksual terhadap anak-anak merupakan kasus lainnya yang kian marak. pada beberapa studi dari seluruh dunia dilaporkan 11 persen sampai 32 persen perempuan telah mengalami kekerasan seksual pada masa kanak-kanaknya. Pada banyak kasus, pelaku kekerasan adalah anggota keluarga sendiri, atau orang-orang yang memiliki hubungan dekat dalam kehidupan sehari-harinya. Sedang pelaku kekerasan seksual terhadap anak umumnya adalah korban kekerasan seksual juga pada masa kanak-kanak sehingga kekerasan model ini adalah kekerasan berantai dan berkelanjutan.
Kekerasan berbasis jender adalah kekerasan seksual terhadap pasangannya masing-masing. Diperkirakan 95 persen korban kekerasan berbasis jender adalah perempuan. Kasus kekerasan seksual yang dialami Manohara adalah kategori kekerasan jenis ini. Penelitian yang pernah dilakukan oleh Rifka Annisa kerjasama dengan UGM, UMEA University dan Women’s Health Exchange USA di Purworejo, Jawa Tengah pada tahun 2000 menunjukkan bahwa 22 persen perempuan mengalami kekerasan seksual kategori ini. Sejumlah 1 dari 5 korban perempuan (19 persen) melaporkan bahwa biasanya mereka dipaksa untuk melakukan hubungan seksual dengan pasangannya sambil mendapat perlakuan kekerasan, baik berupa kekerasan fisik (dipukuli, ditampar, ditendang, dicambuk, dll), kekerasan emosional (memaki, menghina, dll), mengisolasi sosial (membatasi gerak pasangan dalam pergaulan, dll), dan kekerasan seks (sadomasokisme, dll).
Perdagangan perempuan untuk prostitusi adalah jenis kekerasan seksual. Berdasarkan laporan Trafficking in Persons Report (Juli 2001) yang diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat bekerja sama dengan ESCAP (Economy Social Commission on Asia Pacific) menempatkan Indonesia pada peringkat Tier III. Negara yang dikategorikan Tier III adalah negara yang memiliki korban perdagangan orang dalam jumlah besar, Sebagai wilayah pengirim perdagangan orang, pemerintahnya belum menerapkan standar minimum dan melakukan usaha-usaha yang berarti dalam mencegah dan menanggulangi trafiking. Pemerintah Indonesia telah menyetujui berbagai kesepakatan dan instrumen internasional di bidang trafiking seperti meratifikasi Konvensi Internasional tahun 1949 tentang Larangan Perdagangan Perempuan (Convention for the Suppression of the Traffic in Persons and of the Exploitation of the Prostitution of Others ), membentuk badan/lembaga atau gugus tugas untuk memberantas perdagangan perempuan dan anak. Pemerintah melalui Keppres No. 88 Tahun 2002 telah menetapkan Rencana Aksi Nasional Penghapusan Trafiking Perempuan dan Anak serta menetapkan Gugus Tugas untuk memerangi dan menghapus kejahatan trafiking.
Melihat ragam praktek kekerasan seksual terhadap perempuan dan berbagai regulasi pemerintah, rasanya ragam kekerasan tersebut sudah saatnya diminimalisir. Namun kenyataannya, praktek kekerasan seksual terhadap perempuan terus berlangsung tanpa henti. Kepedulian pemerintah hanya nampak pada menjelang pemilu presiden, setelah even pemilu berlalu, maka berlalu pula kepedulian itu. Menjelang pilpres 8 Juli 2009, mendadak presiden SBY seolah-olah sangat peduli terhadap ragam kasus yang menimpa perempuan, seperti kasus Manohara, Siti Hajar dan bahkan Prita Mulyasari. Bahkan kasus Manohara mendapat perhatian serius, sekalipun SBY berada diluar negeri ketika menghadiri pertemuan ASEAN-Korsel di Jeju Island, Korea Selatan. Apakah SBY hanya peduli kepada “perempuan jelita” atau juga peduli pada “perempuan jelata”?

5 November 2009 - Posted by | Uncategorized | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: