Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

Ketersediaan Obat HIV/AIDS

Peringatan Hari AIDS se-dunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember tahun ini beredar kabar bahwa obat ARV (Anti-Retroviral) langka. ARV merupakan obat khusus bagi para penderita HIV/AIDS atau ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Akibatnya beberapa daerah memberikan obat ARV yang sudah kedaluarsa kepada pasien.
Misalnya Rumah Sakit Zainal Abidin, Banda Aceh yang merawat 17 pasien HIV/AIDS yang secara rutin datang memeriksakan diri ke RS tersebut. Ke 17 pasien tetap itu setiap bulannya menghabiskan Duviral 790 butir tablet, Neviral 545 butir, Hiviral 16 butir, Efavirenz 187 butir, Reviral 90 butir dan Coviro 120 butir tablet. Tablet yang banyak digunakan jenis Duviral dan stok tersedia hanya 676 butir tablet. Bulan September jumlah yang habis terpakai mencapai 790 tablet sehingga untuk bulan Oktober persediannya menipis apalagi bulan November. Sementara pada RSUP Pirngadi Medan mengantisipasi kelangkaan obat ARV dengan cara meracik sendiri obat-obatan ARV untuk diberikan kepada dua bocah penderita HIV/AIDS yang menjadi pasien tetapnya. Para tim dokter meracik sendiri obatnya karena persediaan obat ARV di RS tersebut sudah habis sama sekali.
Persoalan kelangkaan obat ARV diangkat oleh JOTHI (Jaringan Orang Terinfeksi HIV/AIDS) yang dipimpin Faiz Muhammad terjadi pada beberapa daerah tetapi tidak seluruhnya. Sebelumnya JOTHI pernah merilis penahanan obat ARV pada bulan Maret 2009 lalu oleh pihak Bea Cukai Bandara Soekarno Hatta karena kelambatan pihak-pihak berwenang seperti Depkes dan BPOM dalam mengurusnya. Bahkan pada April 2008 silam situasi yang sama terjadi yakni kesulitan mendapatkan obat-obatan anti-retroviral. Ketika itu dikemukakan oleh Ketua Komite PDPAI (Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia) dalam sebuat Clinical Research Meeting di FK-UI.
Meski disinyalir obat ARV langka di sejumlah rumah sakit, Menteri Kesehatan Endang Rahayu membantahnya. Menurutnya, Depkes setiap awal tahun melakukan pembelian obat-obatan. Sementara obat yang kedaluarsa dianggapnya tidak ada dan semua obat yang dari luar dialokasikan ke daerah yang terjangkit (Tribun Timur, 27/11).
Hingga saat ini penanggulangan penderita HIV/AIDS dengan menggunakan Anti-Retroviral sangat efektif meskipun tidak efisien karena harganya mahal. Efektifitasnya berupa angka kunjungan ke rumah sakit bagi penderita HIV/AIDS bisa dikurangi, angka kematiannya dapat ditekan, kualitas hidupnya dapat ditingkatkan sehingga dapat berproduksi bagi para penderita HIV/AIDS usia angkatan kerja.
Obat ARV
Meski HIV/AIDS sering disebut sebagai penyakit yang belum ada obatnya, namun dalam upaya penanggulangannya sudah memiliki kemajuan sejak ditemukan obat ARV. Obat ini menjadi obat vital dalam menunjang keberlanjutan kehidupan pada ODHA. Meski tidak menyembuhkan secara total para ODHA, namun keberadaan obat ini setidaknya dapat memperlambat proses penyebarannya di dalam tubuh penderita disamping dapat diproduksi secara generik.
Namun kendalanya, obat Anti-Retroviral ini masih diimpor dari India. Negara India adalah salah satu dari enam negara didunia yang mampu memproduksi obat generik Anti-Retroviral yakni Thailand, Vietnam, China, Brasil dan Kuba. Padahal pada September 2008 silam pemerintah Indonesia pernah menandatangani perjanjian kerjasama dengan Thailand dalam rangka pengembangan produksi ARV. Thailand bersedia melakukan transfer teknologi pembuatan obat generik ARV kepada perusahaan farmasi milik pemerintah (BUMN), PT Indo Farma.
Saat ini obat ARV masih sangat mahal dalam pasar obat-obatan dunia. Diperkirakan sekitar US 10.000 dollar setiap tahun dihabiskan untuk pembelian obat sementara 90 persen penderita HIV/AIDS di seluruh dunia berada di negara-negara miskin yang mencapai 40 juta orang. Bila pemerintah Indonesia mampu memproduksi obat ARV sendiri, maka harga obat ini bisa didapatkan dengan kisaran US 300 dollar setahun atau setara dengan US 25 dollar per bulan.
Saat ini dikenal obat-obatan ARV dalam dua lini: lini pertama AZT, d4T, 3TC, Nevirapine dan Efavirenz yang sudah diproduksi di Indonesia oleh PT. Kimia Farma, sedangkan Tenofir, ddl dan Liponavir/Ri digunakan untuk line kedua. Harga ARV bervariasi antara Rp 400 ribu sampai 800 ribu. Penggunaan ARV untuk ODHA masih disubsidi pemerintah dengan pemakaian sekitar satu botol per bulan dengan total penderita HIV sebagai 193 ribu jiwa pada tahun 2006.
Sebelum adanya obat ARV, para penderita HIV/AIDS diharuskan meminum antara 20 hingga 30 butir obat setiap harinya untuk kelanjutan hidupnya. Bahkan kadang pasien diharuskan meminum obat tepat waktu dengan bersamaan dengan mengonsumsi makanan. Akibatnya bila pasien lupa meminum obat maka virusnya kian kebal terhadap obat sehingga sangat menyulitkan pasien ODHA. Dengan adanya obat ARV, maka konsumsi obat cukup dua sampai empat pil obat setiap hari dan memudahkan pasien usia muda untuk melakukan kegiatan-kegiatan produktif.
Berdasarkan data ILO, sekitar 80 persen penderita HIV/AIDS masih berusia produktif antara 20 hingga 49 tahun. Sedang perusahaan Indonesia dari 60 ribu sudah sebanyak 37 perusahaan yang memiliki program dan kebijakan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Artinya ke 37 perusahaan tersebut dapat mempertimbangkan Orang dengan HIV/AIDS melaksanakan aktifitas produktif pada perusahaan tersebut. Selebihnya ada sekitar 170 perusahaan yang mulai mensosialisasikan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS tanpa membuat kebijakan didalam perusahaannya.
Cara kerja obat-obatan ARV berfungsi memperlambat replikasi sel-sel sehingga penyebaran virus dapat diperlambat di dalam tubuh. Bila suatu sel yang terinfeksi, virus HIV akan mereplikasi diri kemudian menginfeksi sel-sel lain didalam bagian tubuh yang masih sehat. Semakin banyak sel yang sehat diinfeksi virus HIV, maka semakin besar dampaknya terhadap tingkat kekebalan tubuh penderita.
Dengan mengonsumsi obat-obatan ARV, ada tiga penghambatan yang dilakukan yakni: pertama, penghambat Nucleoside Reverse Transcriptase (NRTI); HIV memerlukan enzim yang disebut reverse transcriptase untuk mereplikasi diri. Jenis obat-obatan ini memperlambat kerja reverse transcriptase dengan cara mencegah proses pengembangbiakkan materi genetik virus tersebut. Kedua, penghambat Non-Nucleoside Reverse Transcriptase (NNRTI); Jenis obat-obatan ini juga mengacaukan replikasi HIV dengan mengikat enzim reverse transcriptase itu sendiri. Hal ini mencegah agar enzim ini tidak bekerja dan menghentikan produksi partikel virus baru dalam sel-sel yang terinfeksi. Ketiga, penghambat Protease (PI); Protease merupakan enzim pencernaan yang diperlukan dalam replikasi HIV untuk membentuk partikel-partikel virus baru. Protease memecah belah protein dan enzim dalam sel-sel yang terinfeksi, yang kemudian dapat menginfeksi sel yang lain. Penghambat protease mencegah pemecah-belahan protein dan karenanya memperlambat produksi partikel virus baru.
Harapan baru bagi penderita HIV/AIDS ketika sebuah perusahaan dari Amerika Serikat memproduksi obat anti-HIV/AIDS lainnya yang disebut Obat Prezista. US Food and Drug Administration (Badan obat-obatan dan makanan Amerika) telah menyatakan persetujuannya pada Obat Prezista setelah dilakukan penelitian yang membuktikan bahwa 45 persen penderita HIV/AIDS yang mengonsumsi Obat Prezista selama 11 bulan mengalami penurunan jumlah virus didalam tubuh mereka. Bahkan pada beberapa penderita HIV/AIDS yang menjadi sampel penelitian hasilnya tidak terdeteksi virus HIV. Sementara pada umumnya obat anti-HIV/AIDS hanya mampu menurunkan konsentrasi virus sekitar 10 persen dari sejumlah orang yang meminumnya.
Namun harapan itu akan berlalu bila ketersediaan obat selalu langka sehingga mengancam program penanggulangan HIV/AIDS. Kasus HIV/AIDS di Indonesia merupakan persoalan serius karena kecerungannnya terus meningkat dengan penularan utama melalui penggunaan jarum suntik yang tidak steril dan hubungan seksual yang tidak sehat.
(Artikel ini dimuat di Harian Tribun Timur, Rabu, 02 Desember 2009. Penulis Fatmah Afrianty Gobel, Ketua Prodi Kesmas FKM UMI)

2 Desember 2009 - Posted by | Uncategorized | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: