Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

Menimbang Endang Rahayu Sedyaningsih Sebagai Menteri Kesehatan

Presiden SBY membuat kejutan bagi dunia kesehatan di Indonesia ketika mengumumkan susunan kabinetnya pada Rabu malam (21/10/09) kemarin. Sebelumnya santer beredar di media massa nama Nila A. Moeloek yang akan menggantikan Siti Fadilah Supari karena keberadaannya di Cikeas dalam rangka fit and profer test ala SBY. Nila adalah dokter ahli mata dan saat ini menjabat sebagai Ketua Dharma Wanita Pusat dan Ketua Medical Research Unit FKUI sejak 2007 lalu. Secara pribadi Nila adalah istri Farid Anfasa Moeloek, mantan Menteri Kesehatan pada Kabinet B.J Habibie. Rupanya media massa luput meliput undangan wawancara Endang Rahayu ke Cikeas pada Rabu (21/10) sore.
Endang adalah alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1979 dan bergelar dokter. Sedang gelar master dan doktor didapatkannya dari Harvard School of Public Health, Boston, masing-masing tahun 1992 dan 1997. Karirnya diawali di NTT sebagai dokter puskesmas sampai pernah menjadi dokter di RS bergengsi di Jakarta, RSPP milik Pertamina. Endang Rahayu juga memiliki pengalaman sebagai birokrat ketika berkantor di Kanwil Departemen Kesehatan DKI Jakarta hingga menjadi Kepala Litbang Biomedik dan Farmasi, Departemen Kesehatan dengan jabatan Eselon II pada 2007. Munculnya kasus bisnis virus dan vaksin yang melibatkan Endang membuat Menkes Fadilah ketika itu memutasinya hingga akhirnya SBY mengangkatnya menjadi Menteri Kesehatan.
Sosok Endang Rahayu merupakan sosok dibalik proyek Naval Medical Research Unit 2 (Namru-2) yang sempat dibongkar praktek-praktek intelijennya oleh Menkes sebelumnya, Siti Fadillah. Menkes ketika itu Siti Fadilah Supari melarang seluruh rumah sakit mengirimkan sampel ke Namru-2 untuk diteliti karena kontrak kerjasama sudah berakhir sejak tahun 2000 silam namun pada prakteknya masih berlangsung hingga 2005.
Dalam Factsheet (Lembar Fakta) tentang NAMRU-2 yang ada di situs kedubes Amerika Serikat dinyatakan bahwa Naval Medical Research Unit No. 2 (NAMRU-2) adalah sebuah laboratorium penelitian biomedis yang meneliti penyakit menular demi kepentingan bersama Amerika Serikat, Departemen Kesehatan RI, dan komunitas kesehatan umum internasional. Kegiatan penelitian bersama ini menitikberatkan pada malaria, penyakit akibat virus seperti demam berdarah, infeksi usus yang mengakibatkan diare dan penyakit menular lainnya termasuk flu burung. Penelitian NAMRU-2 hanya berhubungan dengan penyakit-penyakit tropis yang terjadi secara alamiah.
Namru-2 hadir pertama kali di Indonesia pada tahun 1970 untuk tujuan meneliti virus-virus penyakit menular bagi kepentingan Angkatan Laut dan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS). Banyak pihak mencurigai keberadaan Namru menjadi sarana kegiatan intelijen AS dengan berkedok riset. Pakar intelijen Laksamana Muda (Purn) Subardo tetap meyakini keberadaan laboratorium medis milik angkatan laut AS, The U.S. Naval Medical Research Unit Two (NAMRU-2) merupakan alat intelijen AS. Hal ini diyakini Subardo berdasarkan penilaiannya selama lebih dari 30 tahun bekerja di bidang intelijen serta pernah menjabat sebagai Kepala Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) tahun 1986-1998.
Bahkan pada 2007, Balitbangkes, Depkes melalui Endang Rahayu masih tercatat mengirim spesimen virus H5N1 ke Centers for Disease Control and Prevention, Atlanta, (CDC Atlanta), Amerika Serikat pada Kamis, 16 Agustus 2007 atas permintaan WHO. Pengiriman dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Departemen Kesehatan, melalui NAMRU-2 (Naval Medical Research Unit-2 = Unit Riset Kesehatan Angkatan Laut Amerika Serikat yang berkantor di Gedung Balitbangkes Depkes, Jl. Percetakan Negara, Jakarta. Spesimen yang dikirimkan berupa spesimen usap tenggorok dan usap hidung dari kasus positif Flu Burung atas nama NLP (Perempuan, 29 th) warga Kabupaten Jembrana, Bali dan suspek Flu Burung (NKP, Perempuan, 2 th 9 bln), juga dari Bali, yang hasil laboratoriumnya terbukti negatif H5N1 (Flu Burung).
Atas jasa itulah, Asisten Direktur Jenderal WHO untuk Penyakit Menular, Dr. David Heymann, menyatakan penghargaan terhadap Indonesia atas pengiriman virus dari kasus Bali tersebut. WHO sepakat bahwa virus tersebut akan digunakan untuk keperluan risk assessment. WHO juga setuju untuk tidak menempatkan data sekuensing virus H5N1 asal Indonesia pada domain publik dan tidak akan mengirimkan virus Indonesia pada pihak ketiga tanpa seijin Pemerintah Indonesia sampai Standard Terms of Condition dan Terms of Reference ditetapkan.
Dalam bukunya yang berjudul ‘Saatnya Dunia Berubah’, Siti Fadilah Supari menyoroti WHO dan negara asing lainnya memanfaatkan sampel virus flu burung Indonesia untuk dibuat vaksin, yang selanjutnya dijual ke Indonesia dengan harga mahal. Rupanya pengalaman Siti Fadilah sebagai Menteri Kesehatan berinteraksi dengan WHO membawanya pada kesimpulan demikian.
Yang menjadi pertanyaan besar dibalik pengangkatan Endang Rahayu menggantikan Nila A. Moeloek yang lebih dahulu diseleksi sebagai calon Menkes adalah: Apakah Endang Rahayu mendapatkan dukungan AS untuk kepentingan bisnis virus dan industri vaksin? Dengan track record Endang Rahayu yang pernah melarikan virus keluar negeri (Vietnam), berdasarkan penuturan Siti Fadilah Supari di TVOne (22/10), maka kedepan perlu diawasi secara ketat bisnis virus dan vaksin yang keuntungannya bisa mencapai milyaran dollar dari hasil perekayasaan anti virus, dengan sampel yang berasal dari Indonesia.
Namun demikian, figur yang kontroversial dimata Siti Fadilah itu akan menggantikan posisinya di kursi nomor satu di Departemen Kesehatan dan bersiap-siap untuk berpindah dari kediamannya di Jalan Pendidikan Raya III, Blok J-55 Kompleks IKIP Duren Sawit, Jakarta Timur ke komplek perumahan pejabat tinggi negara di Jl Denpasar Raya no. 14, Jakarta
Agenda Kebijakan
Sebagaimana dikemukakan pada sebuah media massa ibukota, Endah Rahayu sebagai Menkes yang baru akan melakukan reformasi bidang kesehatan. Namun pertanyaan kemudian muncul, bentuk reformasi seperti apa yang akan dilakukan? Apakah reformasi yang dimaksud adalah meliberalisasi sistem kesehatan dan memprivatisasi pusat-pusat layanan kesehatan?
Dalam dunia kesehatan masyarakat, pendekatan yang mulai dipopulerkan adalah pendekatan promotif dan preventif, bukan lagi kuratif. Pelayanan kesehatan gratis itu cermin pendekatan kuratif yang lebih menonjol, dibanding pendekatan promotif. Jadi saatnya sekarang kita mempromosikan “Orang Sehat dilarang Sakit”. Selain itu dikenal pula Pendekatan struktural dengan penekanan pada determinan sosial-ekonomi kesehatan. Pada pendekatan ini yang ditekankan bukan hanya determinan biomedis tapi juga sosial-ekonomi dan politiknya.
Sebagai departemen yang mengurusi persoalan-persoalan kesehatan ditengah masyarakat, maka pendekatan yang populer dikembangkan sekarang ini adalah melihat masalah kesehatan masyarakat secara struktural. Blankesnship, et.al (2006) dalam Journal of Urban Health, 83(1), (hal. 59-72) dengan judul: Structual Intervention; Concepts, challenges and opportunities for research, menegaskan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat seharusnya bersifat struktural dan lebih melihat determinan sosial-ekonominya ketimbang hanya berkutat pada determinan biomedisnya. Pendekataran struktural dalam kesehatan masyarakat bukan sekedar pada alokasi anggaran dan struktur kekuasaan. Pendekatan strukutural yang dipelopori ilmuwan seperti Blankenship et al, Des Jarlais, Sumartodjo, Rhodes, dll. menekankan perlunya melihat secara multi-aspek antara ekonomi, politik dan determinan sosial kesehatan, terutama melihat besarnya peran ketidakmerataan ekonomi, kekerasan dan kemiskinan sebagai risiko kesehatan. Singkatnya, penyakit menjadi sebab sekaligus akibat (cause and consequence) kemiskinan. (Nasir, 2009).
Dengan demikian, seyogyanya reformasi kesehatan yang ingin dikembangkan Menkes yang baru diangkat presiden SBY adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar warga miskin akan pemeliharaan kesehatan, nutrisi yang baik (gizi), dan kesehatan lingkungan disamping pendidikan dan perumahan. Apalagi dengan hadirnya UU Kesehatan 2009 yang baru yang mengamanahkan alokasi anggaran yang proporsional antara pusat dan daerah untuk sektor kesehatan yang bermuara pada pemenuhan hak atas kesehatan dengan perluasan skema jaminan sosial, seperti Jamkesmas dan sistem jaminan sosial nasional lainnya.
(Artikel ini pernah dimuat Harian Tribun Timur, Rabu, 11 November 2009)

2 Desember 2009 - Posted by | Uncategorized | , ,

1 Komentar »

  1. Ulasan yang menarik

    4lifetransferfactorsurabaya.com , memberikan kekebalan tubuh hingga 473% sehingga anda tidak gampang sakit. transferfactor mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit(flu burung/babi, diabetes tipe 1&2, stroke, autis, jantung, HIV dll)

    Komentar oleh 4lifetransferfactorsurabaya.com | 19 Januari 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: