Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

Isu Khitan Perempuan dalam Muktamar NU

Muktamar Nahdatul Ulama (NU) ke-32 sedang berlangsung di Makassar, Sulawesi Selatan dari tanggal 22-28 Maret 2009. Diantara sekian banyak spanduk berisi ucapan selamat atas pelaksanaan muktamar dan spanduk dukungan kepada calon ketua umum PB NU, terselip spanduk tertuliskan halaqoh ulama tentang khitan bagi perempuan.
Diskursus tentang khitan bagi perempuan masih dianggap kontroversi hingga awal abad 21 ini. Baik dalam skala internasional maupun domestik, persoalan khitan bagi perempuan senantiasa menuai kontroversi. Bagi perempuan, anjuran khitan oleh sebagian pegiat gerakan perempuan dianggap melanggar HAM. Namun sebaliknya, bagi pegiat gerakan Islam anjuran khitan adalah perintah agama yang harus ditunaikan.
Khitanan Massal
Beberapa tahun lalu, sebuah yayasan di Bandung melaksanakan khitanan massal bagi perempuan yang dilakukan Yayasan Assalam Bandung. Pada acara rutin tersebut, sekitar ratusan peserta khitanan memadati halaman sekolah dasar Assalam untuk memenuhi undangan sekaligus menunaikan ibadah sebagai tuntutan keyakinan sebagaimana diajarkan agama Islam. Tim dokter yang melakukan khitan cuma membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk menyelesaikan tugasnya melayani 144 anak perempuan ditambah satu orang perempuan dewasa.
Isu khitan bagi perempuan sebenarnya merupakan agenda yang belum tuntas dalam wacana gerakan perempuan. Berbagai polemik masih bertebaran tentang hal tersebut, seperti indikasi pelanggaran HAM karena berkorelasi pada tingkat kesehatan perempuan, khususnya kesehatan seksual perempuan. Namun masalahnya tak kunjung selesai karena masalah khitan merupakan tuntutan agama yang harus dilaksanakan bagi para pemeluk Islam. Bagi kalangan internal Islam, khitan bagi perempuan juga masih diperdebatkan.
Isu HAM
WHO mencatat ada empat tipe female genital mutilation. Tindakan memotong kulit di sekitar klitoris merupakan tipe yang paling ringan. Pemotongan atau pengirisan kulit sekitar klitoris tidak dikenal sama sekali dalam dunia medis atau tidak ada indikasi medis yang mendasarinya.
Indikasi pelanggaran HAM dalam isu khitan bagi perempaun relatif lebih mengemuka. Pelanggaran HAM dalam konteks ini karena khitan bagi perempuan berpotensi mengurangi kenikmatan seks bagi perempuan. Praktek khitan bagi perempuan memang berbeda secara teknikal dibanding khitan bagi laki-laki. Bila laki-laki, dengan berkhitan dapat berpotensi meningkatkan kesehatannya, karena dilakukan pada bagian area kelamin yang berada pada bagian luar alat seks laki-laki, dengan cara menggunting kulit luar (kulup) yang menonjol pada alat kelamin tersebut. Bagi perempuan, praktek khitan berlangsung dengan cara memotong bagian klitoris perempuan. Pada bagian alat kelamin ini, terdapat saraf yang bisa merasakan kenikmatan dalam melakukan hubungan seks. Pada beberapa kasus, khitan bagi perempuan dilakukan dengan memangkas habis bagian klitoris termasuk bibis kecil vagina (labia minora). Praktek khitangan demikian dapat mengganggu kesehatan seksual perempuan.
Kontroversi tentang khitan bagi perempuan sebenarnya telah dilangsir oleh organisasi kesehatan sedunia (WHO). Khitan bagi perempuan menurut WHO adalah jenis pelanggaran HAM karena menyangkut hak hidup sehat bagi perempuan. Dengan mengurangi hak menikmati kehidupan seks berarti dapat melanggar hak hidup sehat perempuan. Sebagai bagian dari WHO, Indonesia dituntut untuk dapat mengakomodasi larangan WHO tersebut dengan cara membuat regulasi tentang praktek khitan bagi perempuan.
Teknik khitan bagi perempuan di Indonesia relatif lebih lunak dibanding beberapa negara Islam lainnya. Dalam tradisi khitan suku Bugis dan Makassar, khitan bagi perempuan cukup dengan mengeruk lembut klitoris menggunakan pisau tumpul yang diolesi darah jengger ayam sehingga tidak menimbulkan luka. Negara Islam yang dikenal melakukan praktek khitan yang tergolong “brutal” terjadi di Sudan. Khitan bagi perempuan di negara tersebut dilakukan dengan memangkas habis bagian klitoris perempuan. Sementara pada bagian inilah salah satu kenikmatan seks bagi perempuan, selain G-Spot.
Namun dalam konteks Indonesia, dengan penduduk mayoritas beragama Islam, larangan WHO dapat berpotensi mengundang kecaman karena khitan bagi perempuan dalam pandangan Islam merupakan tergolong suatu ibadah. Dalam prakteknya telah berlangsung berabad-abad mengikuti tradisi agama. Dengan kata lain, secara sosiologis khitan sebagai anjuran agama telah membentuk suatu tradisi bagi masyarakat Muslim. Keberadaannya inherent dengan perilaku bermasyarakat yang mengandung nilai transendental. Sebagai bentuk ibadah, khitan bagi perempuan Muslim berarti suatu kewajiban untuk melaksanakannya, meskipun dalam beberapa pemikir Islam masalah khitan bagi perbempuan masih debateble.
Dalam perspektif Islam, khitan bagi perempuan banyak berpijak pada Al-Quran surah An-Nisa ayat 125 yang mewajibkan khitan bagi laki-laki dan perempuan. Pada beberapa hadis juga meriwayatkan hal serupa, seperti dalam hadis Bukhari, Muslim, Turmudzi dan Abu Dawud. Dalam hadis tersebut disebutkan adanya lima perkara yang merupakan fitrah manusia yaitu khitan, istihdad (mencukur bulu kemaluan), mencukur bulu ketiak, menggunting kuku dan memendekkan kumis.
Dalam Islam juga masih berlangsung perdebatan yang belum usai tentang masalah khitan bagi perempuan. Sebagian pemikir Islam memandang khitan adalah mubah, namun bisa berubah jadi sunah dan wajib. Dan sebaliknya, bisa makruh dan haram bila cara melakukannya tidak benar.
Agar dapat menjalankan ajaran agama namun tidak mengganggu hak hidup sehat bagi perempuan, ada beberapa jalan tengah dapat ditempuh. Jalan tengah yang dimaksud adalah perlunya dilakukan standarisasi praktek khitan bagi perempuan yang sehat dengan tidak melupakan syariat agama (Islam). Departemen kesehatan dan departemen agama – dua lembaga pemerintah yang secara teknis bertanggung jawab – dapat menjalin informasi dengan Majelis Ulama Indonesia untuk menentukan syarat sahnya khitan bagi perempuan dengan mensinergikan syarat dan standar kesehatannya. Secara teknikal, seperti misalnya kulup pada klitoris tidak perlu dipotong agar tidak terjadi pelukaan melainkan cukup dengan digesek. Toh praktek demikian telah dijalankan oleh masyarakat etnik Bugis dan Makassar, dan itu telah berlangsung lama dan berurat akar dalam tradisi etnik tersebut yang dilandasi motif agama.
Bila Indonesia dapat mengatasi kontroversi khitan bagi perempuan dengan mensinergikan dimensi kesehatan dengan dimensi agama, siapa sangka dapat menjadi contoh empirik bagi masyarakat Muslim di belahan dunia lain, termasuk diantaranya untuk organisasi kesehatan se-dunia (WHO) sebagai bahan studi dan input.

(Artikel ini dimuat Harian Tribun Timur, 27 Maret 2010. Penulis, Ketua Jurusan/Prodi Kesmas FKM UMI, Makassar)

Iklan

14 April 2010 Posted by | Uncategorized | , , , | 4 Komentar

Mario Teguh, Twitter dan Wanita Perokok

Para pengguna twitter kembali dihebohkan dengan postingan seorang motivator terkenal, Mario Teguh. Sebelumnya komunitas twitter pernah mempermasalahkan pada postingan Luna Maya pada akun twitter yang menghujat wartawan infotainment sehingga mendorong para wartawan yang dihujat dan asosiasinya menuntut Luna Maya secara hukum.
Isi posting Mario Teguh yang dipermasalahkan berbunyi, “Wanita yang pas untuk teman, pesta, clubbing, bergadang sampai pagi, chitchat yang snob, merokok n kadang mabuk – tidak mungkin direncanakan jadi istri”. Akibat postingan tersebut, terjadi pro-kontra di dunia maya atas isi postingan tersebut, utamanya berasal dari para perempuan yang merasa tersudutkan. Salah satu pihak yang kontra adalah Jaleswari Pramodhawardani Peneliti studi Gender LIPI. Menurutnya, Mario Teguh terlalu gegabah mengatakan seperti itu dan tidak ada hubungannya perempuan yang tak layak dikawini dengan perokok dan suka dugem (detikcom, Minggu, 21/2/2010).
Akibat postingan tersebut, Mario Teguh memberikan catatan klarifikasi berjudul ‘Klarifikasi Penutupan Twitter Account Mario Teguh MTGW’ di Facebooknya. Meski banyak yang kontra dengan isi posting kontroversial itu, ribuan pendukung Mario Teguh memberikan dukungannya pada akun facebook. Pada minggu (22/2/2010) pukul 17.40, tercatat 1.567 pengguna akun facebook memberikan dukungan dengan meng-klik simbol “like this” di note Mario Teguh.
Maraknya polemik postingan tersebut dijawab secara langsung oleh Mario Teguh pada acara Metro Pagi pada media MetroTV, (23/02/2010) dengan menyatakan bahwa postingan tersebut bukan dilakukannya sendiri tapi oleh moderatornya. Moderator yang dimaksud oleh Mario Teguh mungkin semacam ghost writer. Meski diposting oleh ghost writer, Mario Teguh langsung mengambil tanggungjawab dengan mengatakan bahwa semua postingan di twitter tersebut merupakan hasil buah pikirannya dan untuk segala hal yang ditimbulkan akan menjadi tanggung jawab dirinya. Bila Mario Teguh memiliki ghost writer, mungkinkah Mario Teguh juga memiliki ghost motivator?
Sementara itu pada wawancaranya dalam acara “Bincang-bincang” di TV One, Kamis (25/02/2010) Mario Teguh mengaku memiliki alasan kenapa membuat pernyataan tersebut di twitter, tidak lain adalah nasihat yang ditujukan untuk keluarga dan terutama untuk putrinya yang suatu saat nanti akan memiliki suami. Mario Teguh khawatir terhadap putrinya akan memasuki pergaulan bebas.
Mario Teguh mulai aktif menggunakan twitter dengan nama account MarioTeguhMTGW pada 1 Februari 2010. Sejak itu hanya dalam waktu 20 hari telah menerima lebih dari 23,000 followers. MTOF (MT Open Forum) adalah trending topic yang dirancang MT Management sebagai koleksi mata diskusi akhir minggu (Sabtu dan Minggu, 20-21 Februari 2010). MTOF 6. adalah mata diskusi yang menasehatkan anak putri kita untuk tidak mempersulit masa depan kehidupan pribadi dan pernikahan mereka sendiri.
Aspek Kesehatan
Dilihat dari sudut kesehatan, isi postingan Mario Teguh tidaklah salah karena rokok bagi kesehatan tidak berdampak positif. Bukan saja pada pria, perempuan pun kini sangat buruk bila melakukan kebiasaan merokok karena dapat berpengaruh negatif pada rahim dan anak yang dikandungnya. Ada beberapa penyakit yang dapat diakibatkan oleh rokok seperti: paru-paru, kanker usus, kanker hati, bronkitis, stroke, dan berbagai penyakit lain.
Sementara aktifitas dugem dan clubbing secara moral agama sangat dilarang karena dekat dengan kehidupan maksiat dan dekat dengan minuman keras dan narkoba yang juga berpengaruh buruk bagi kesehatan. Fenomena perempuan perokok memang sedang marak di kota-kota besar di kalangan kelas sosial menengah-atas. Bahkan beberapa komunitas perempuan menjadikannya sebagai simbol kebebasan, kemoderenan dan emansipasi. Padahal simbol kemodernan sekarang ini berorientasi kepedulian pada isu global warning dan pembangunan berkelanjutan, dimana kedua isu tersebut bermuara pada aspek kesehatan.
Angka pasti tentang populasi perempuan perokok belum ditemukan, namun yang pasti prevalensi perokok di Indonesia semakin meningkat. Peningkatan tertinggi perokok berada pada usia remaja antara 15 hingga 19 tahun. Pada kelompok ini, data menyebutkan bahwa dari seluruh populasi perokok, terdapat 7,1 persen pada 1995 sementara pada tahun 2004 menjadi 17,3 persen. Jadi selama rentang waktu sepuluh tahun terjadi peningkatan mencapai 144 persen perokok remaja.
Diperkirakan ada sekitar 65,6 juta perempuan dan 43 juta anak-anak terpapar asap rokok. Kedua kelompok ini adalah perokok pasif dan rentan pula terkena bermacam penyakit. Dari sekitar 200 ribu kematian di Indonesia diakibatkan kebiasaan merokok, ternyata sebanyak 25.000 korban tersebut adalah perokok pasif. Selain itu, 70 persen dari sekitar 60 juta perokok berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah terjerat kebiasaan buruk itu.
Data lain menyebutkan bahwa tingkat konsumsi rokok perharinya sekitar 658 juta batang rokok pada tahun 2008. Hal ini berarti terdapat sekitar Rp 330 miliar digunakan hanya untuk membeli rokok yang merusak kesehatan. Data Susenas 2006 menunjukkan bahwa pengeluaran untuk sekedar membeli rokok 5 kali lebih besar dari pengeluaran untuk telur dan susu (2,3 persen), 17 kali lipat pengeluaran membeli daging (0,7 persen) dan 2 kali lipat pengeluaran untuk ikan (6,8 persen). Bahkan tercatat 63 persen laki-laki dewasa dari 20 persen penduduk termiskin menyumbang 12 persen penghasilan bulanannya kepada industri rokok. Mungkin inilah yang melatarbelakangi Pemerintah Daerah DKI Jakarta tidak memberikan Jamkesmas pada masyarakat miskin yang perokok.
Dalam hal konsumsi rokok, Indonesia memang menempati urutan ketiga tertinggi di dunia setelah Cina dan India. Apalagi rakyat Indonesia telah menjadi target pasar industry rokok dunia dan lokal. Dalam Road Map Industri Rokok, tahun 2015 ditargetkan konsumsi rokok meningkat hingga mencapai 260 miliar batang. Pada tahun 2005 silam, tercatat 220 miliar batang rokok dikonsumsi penduduk yang berdiam di wilayah Indonesia. Dengan demikian, kalangan industry rokok menargetkan terjadi peningkatan 40 miliar batang selama 10 tahun atau 10 juta perokok baru.
Bahaya Rokok
Merokok meningkatkan risiko penyakit cerebrovascular, merusak otak dan bahkan bisa sakit jiwa. APOE4 atau apolipoprotein E4 adalah satu jenis gen yang sudah diketahui dapat meningkatkan risiko sakit jiwa. Namun orang yang tak memiliki gen tersebut, kalau merokok maka 70 persen terkena risiko Alzheimer.
Pada sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 8.000 orang yang telah dipublikasikan dalam jurnal Annals of Internal Medicine, merokok juga dapat memperburuk fungsi ginjal. Dibandingkan dengan penderita diabetes yang tidak merokok, perokok yang menderita diabetes akan lebih cepat mengalami penyakit ginjal.
Para peneliti menemukan bahwa perokok ringan maupun perokok berat akan lebih mungkin memiliki kandungan albumin dalam air seninya dibandingkan mereka yang tidak merokok. Albumin merupakan suatu protein yang menunjukkan fungsi ginjal yang buruk. Mereka yang merokok relatif ringan (kurang dari satu pak rokok per hari) mempunyai kemungkinan dua kali lebih besar untuk memiliki kandungan protein albumin dalam air seni-nya dibandingkan mereka yang tidak merokok. Sedangkan pada perokok berat (lebih dari satu pak rokok per hari) akan mempunyai peluang lebih dari dua kali lebih besar untuk memiliki masalah tersebut.
Melihat dampak buruk rokok bagi manusia, termasuk pada perempuan perokok, postingan Mario Teguh di akun twitter-nya sebenarnya telah membantu para aktifis anti-rokok di Indonesia dalam mengkampanyekan bahaya rokok. Selama ini kampanye anti-rokok melalui peringatan dengan gambar di bungkus rokok (pictorial graphic warning) sepertinya kurang efektif. Maju terus Mario Teguh untuk kampanye anti-rokok.
(Artikel ini pernah dimuat Harian Fajar, Sabtu, 20 Maret 2010. Penulis Fatmah Afrianty Gobel, Ketua Jurusan/Prodi Kesmas FKM UMI, Makassar)

3 April 2010 Posted by | Uncategorized | , , , | 2 Komentar