Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

Melanjutkan Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Dalam perspektif Islam, ayat Al-Quran yang pertama yang diturunkan bermuatan seruan pada dunia keilmuan yakni surah Al-’Alaq ayat 1-5. Karena itu, Ilmu merupakan salah satu wahana untuk memperkuat keimanan. Dengan kata lain, Iman akan bertambah kuat, jika disertai ilmu pengetahuan.
Istilah Islamisasi ilmu dalam bahasa Arab disebut “Islamiyyat al-Ma’rifat” atau “Islamization of Knowledge” dalam bahasa Inggeris. Pengislaman ilmu pengetahuan dalam zaman modern tidak bisa dilepaskan dari jasa-jasa besar peletak dasar-dasarnya yakni para tokoh ilmuwan Islam seperti Syed Hussein Nasr, Syed Muhammad Naquib al-Attas, Jaafar Syeikh Idris, Ismail Raji Al-Faruqi, Fazlur Rahman, dan beberapa ilmuwan Islam di Indonesia.
Syed Husein Nasr, seorang sarjana falsafah dan sarjana sains Islam adalah tokoh pertama dalam pembicaraan wacana baru tentang ilmu pengetahuan dan Islam di Teheran, Iran, tahun 1933. Pada tahun 1960-an mengutarakan perlunya usaha Islamisasi ilmu modern dan meletakkan asas untuk konsep sains Islam dalam aspek teori dan pratikal melalui karyanya “Science and Civilization in Islam” (1968) dan “Islamic Science” (1976).
Sementara Ismail Raji al-Faruqi pendiri International Institute of Islamic Thought (IIIT) di Washington tahun 1981 dalam bukunya yang terkenal, “Islamization of Knowledge”, (1982) menganjurkan pendekatan perbandingan antara sains modern dengan khazanah Islam. Lembaga yang didirikannya yakni IIIT aktif mempromosikan program-program Islamisasi pengetahuan ke berbagai belahan dunia.
Menurut Adi Junjunan Mustafa, rencana Islamisasi pengetahuan al-Faruqi bertujuan: Penguasaan disiplin ilmu modern, Penguaasaan warisan Islam, Penentuan relevansi khusus Islam bagi setiap bidang pengetahuan modern, Pencarian cara-cara untuk menciptakan perpaduan kreatif antara warisan Islam dan pengetahuan modern (melalui survey masalah umat Islam dan umat manusia seluruhnya), Pengarahan pemikiran Islam ke jalan yang menuntunnya menuju pemenuhan pola Ilahiyah dari Allah, dan Realisasi praktis islamisasi pengetahuan melalui: penulisan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam dan menyebarkan pengetahuan Islam.
Ide Al Faruqi dikritik oleh Ziauddin Sardar dalam bukunya: “Islamic Futures: The Shape of Ideas to Come” (1985). Sardar menganggap sains dan teknologilah yang menjaga struktur sosial, ekonomi dan politik yang menguasai dunia. Tidak ada kegiatan manusia yang dibagi-bagi dalam kotak-kotak: “psikologi”, “sosiologi”, dan ilmu politik. Menerima bagian-bagian disipliner pengetahuan yang dilahirkan dari epistimologi Barat berarti menganggap pandangan dunia Islam lebih rendah daripada peradaban Barat.
Penganjur Islamisasi ilmu pengetahuan lainnya yang terkenal adalah Syed Muhammad Naquib al-Attas. Al-Attas berkutat di International Institute of Islamic Thoughts and Civilization (ISTAC) yang berbasis di Malaysia. Menurut Al-Attas, Islamisasi ialah “pembebasan manusia, mulai dari magic, mitos, animisme dan tradisi kebudayaan kebangsaan, dan kemudian dari penguasaan sekuler atas akal dan dan bahasanya”. Al-Atas menegaskan bahwa Islamisasi diawali dengan Islamisasi bahasa dan ini dibuktikan oleh al-Qur’an ketika diturunkan kepada orang Arab. Dalam proses Islamisasi ilmu melibatkan dua langkah utama: Pertama, proses mengasingkan unsur-unsur dan konsep-konsep utama Barat dari ilmu tersebut; Kedua, menyerapkan unsur-unsur dan konsep-konsep utama Islam kedalamnya.
Maurice Bucaille juga memiliki andil dalam wacana Islamisasi ilmu pengetahuan dalam bukunya “La Bible, le Coran et la Science” (Bibel, Qur’an dan Sains Modern). Maurice Bucaille melakukan apa yang disebut I’jazul Qur’an yakni mencari kesesuaian penemuan ilmiah dengan ayat Al-Qur’an. Namun beberapa kritik terhadap cara Maurice Bucaille karena penemuan ilmiah tidak dapat dijamin tidak akan mengalami perubahan di masa depan. Bila terjadi perubahan berarti Al-Qur’an juga bisa berubah.
Hegemoni Ilmuwan Barat
Al-Quran sebagai sumber ilmu pengetahuan dinafikan oleh para ilmuwan Barat. Karena itu untuk membendung arus agar Al Quran tidak menjadi rujukan ilmu pengetahaun masyarakat dunia, maka ilmuwan Barat membudayakan gerakan intelektual sekularisasi ilmu pengetahuan sejak abad pertengahan. Sepanjang sejarah peradaban Barat modern masih berlangsung sekularisasi ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama pengajaran di kampus-kampus ilmuwan Barat.
Pada abad pertengahan (medieval times) banyak berkembang faham Barat yang mencoba memisahkan ilmu pengetahuan dengan agama. Sebut saja Nietzsche, dia berargumen bahwa agama tidak bisa disesuaikan dengan ilmu pengetahuan. Ia menambahkan, “seseorang tidak dapat mempercayai dogma-dogma agama dan metafisika jika seseorang memiliki metode-metode yang ketat untuk meraih kebenaran di dalam hati dan kepada seseorang. Antara ilmu pengetahuan dan agama masing-masing menempati bintang yang berbeda”. Nampaknya ada indikasi bahwa ia tidak menginginkan nilai-nilai Islam masuk ke dalam pembahasan ilmu pengetahuan modern (Ismail, 2009).
Metodologi ilmiah dalam tradisi berpikir orang Barat adalah dugaan dan keraguan serta menjadikan akal dan rasio sebagai basis keilmuan. Tujuannya adalah memisahkan jarak antara ilmu dengan agama dan dalam jangka panjang melenyapkan ayat-ayat Al Quran sebagai sumber ilmu pengetahuan. Para intelektual dari negeri-negeri Muslim diberi kesempatan menuntut ilmu ke kampus-kampus utama di negeri Barat untuk transfer metodologi ilmiah ala Barat sehingga memperkuat hegemoni westernisasi ilmu. Akibatnya, terjadi krisis epistemologi melanda para ilmuwan kampus di negeri-negeri Muslim. Semestinya epistemologi (teori pengetahuan, titik dari setiap pandangan dunia) sains Islam murni digali dari pandangan dunia dunia Islam sebagai fondasi bangunan teknologi dan peradaban Islam.
Agenda Kerja Perguruan Tinggi Islam
Dalam sebuah diskusi oleh ilmuwan Indonesia di Jepang, seorang pembicara bernama Adi Junjunan Mustafa (Direktur ISTECS 2002-2004) mengangkat tema “Islamisasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi”. Menurutnya, ilmuwan-ilmuwan Muslim masih sulit menghasilkan teknologi-teknologi eksak dan non-eksak untuk menopang kepentingan khusus umat Islam. Dampaknya, kini umat Islam hanya menjadi konsumen sains. Kalaupun ikut berperan, tetap dibawah kendali pencetus sains tersebut.
Dalam rangka melanjutkan program Islamisasi ilmu pengetahuan di Indonesia, perguruan tinggi Islam seperti UMI di Makassar dapat menggelorakan dengan mengadopsi strategi dan kerangka kerja dasar Islamisasi ilmu pengetahuan ala Al Faruqi. Ada dua belas model skematis yang telah disusunnya meliputi: penguasaan dan kemahiran disiplin ilmu modern: penguraian kategori; tinjauan disiplin ilmu; penguasaan warisan ilmu Islam: sebuah antologi; penguasaan warisan ilmu Islam: sebuah analisis; penentuan penyusuaian Islam yang khusus terhadap disiplin ilmu; penilaian kritikal terhadap disiplin ilmu modern: hakikat kedudukan pada masa kini; Penilaian kritikal terhadp warisan Islam: tahap perkembangan pada masa kini; kajian masalah utama umat Islam; kajian tentang masalah yang dihadapi oleh umat manusia; analisis kreatif dan sintesis; Membentuk semua disiplin ilmu modern kedalam rangka kerja Islam: buku teks universitas; dan pengagihan ilmu yang telah diislamkan.
Kemudian gagasan tersebut dijadikan lima landasan objek rencana kerja Islamisasi ilmu pengetahuan, yaitu: (1) Penguasaan disiplin-disiplin ilmu pengetahuan modern; (2) Penguasaan terhadap khazanah atau warisan keilmuan Islam; (3) Penerapan ajaran-ajaran tertentu dalam Islam yang relevan ke setiap wilayah ilmu pengetahuan modern; (4) Mencari sintesa kreatif antara khazanah atau tradisi Islam dengan ilmu pengetahuan modern; (5) Memberikan arah bagi pemikiran Islam pada jalur yang memandu pemikiran tersebut ke arah pemenuhan kehendak Ilahiyah. Dan juga dapat digunakan alat bantu lain guna mempercepat islamisasi ilmu pengetahuan adalah dengan mengadakan konferensi dan seminar-seminar serta melalui lokakarya untuk pembinaan intelektual.
Akhirul kalam, Albert Enstein, seorang ilmuwan Barat mengatakan bahwa “Science without Religion is blind, and Religion without science is lame”, (ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh). Apakah Albert Einstein menganut islamisasi ilmu pengetahuan? Wallahu a’lam bissawab.
(Dimuat di Harian Fajar, Jumat, 02 Juli 2010)

7 Juli 2010 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: