Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

Dampak Video Mesum Bagi Kesehatan Masyarakat

Video mesum yang melibatkan seseorang yang mirip dengan Ariel Peterpan, Luna Maya dan Cut Tary beredar secara massif ditengah masyarakat. Peredarannya melalui ponsel pribadi dan internet sehingga menjadi tontonan masyarakat mulai dari anak remaja hingga nenek, dari pencukur rambut hingga pegawai di kampus. Demam pornografi pun merebak di tengah masyarakat akibat ulah pembuat dan peng-upload pertama video itu di facebook.
Demam pornografi sangat besar dampak negatifnya bagi kesehatan masyarakat. Para penikmat pornografi akan cenderung berperilaku seksual menyimpang atau memperbesar praktek kekerasan seksual. Akibatnya pelecehan seksual mudah terjadi di tempat-tempat umum seperti yang terjadi di dalam bus Transjakarta baru-baru ini, dan banyak tempat lainnya yang tidak terungkap oleh media. Bahan-bahan pornografi sekarang relatif mudah diakses seperti melalui internet, video, film dan buku-buku.
Selain pelecehan seksual, hamil diluar nikah pada sebagian remaja putri adalah bentuk lain dari efek negatif pornografi. Usia remaja adalah masa awal kematangan organ reproduksi. Bila remaja usia didik hamil diluar nikah, maka pendidikannyapun akan terancam karena banyak sekolah tidak mentolerir adanya siswi hamil dalam masa sekolah. Resikonya, remaja putri yang hamil diluar nikah akibat demam pornografi akan terganggu masa depannya akibat pemutusan masa pendidikan di sekolah. Belum lagi sanksi sosial berupa cemoohan masyarakat hingga pengucilan dari pergaulan dilingkungan sekitar.
Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan Kanada, remaja pengkonsumsi pornografi sangat permisif terhadap seks bebas dan kegiatan ekstra marital (hubungan diluar nikah). Sebuah studi di AS menyebutkan bahwa remaja yang mengonsumsi pornografi menyebutkan bahwa 31 persen dari laki-laki dan 18 persen dari perempuan mengaku meniru beberapa adegan seksual yang mereka lihat dari pornografi dalam beberapa hari setelah melihat. Sementara itu, dua pertiga dari laki-laki dan 40 persen perempuan ingin mencoba beberapa perilaku yang mereka saksikan.
Demikian halnya di Kanada yang memfokuskan penelitian dampak pornografi bagi anak-anak. Peter Stock dari Canadian Institute for Education on the Family, pada 2004, melakukan penelitian mengenai pornografi anak mengatakan bahwa masyarakat Kanada telah menjadi masyarakat yang semakin pornografi dalam beberapa dekade terakhir yang berimplikasi mengganggu anak-anak yang dibesarkan di dalamnya. Sejumlah studi ilmiah telah menunjukkan korelasi kuat antara paparan pornografi dan perilaku seksual yang menyimpang oleh anak-anak. Ada pula penelitian yang menyatakan bahwa pornografi merugikan anak-anak. Alasannya perkembangan seksual seorang anak terjadi secara bertahap dari masa kanak-kanak. Paparan terhadap pornografi membentuk perspektif seksual anak dengan menyediakan informasi mengenai aktivitas seksual. Namun, jenis informasi yang diberikan oleh pornografi tidak dengan perspektif seksual yang normal (tempointeraktif.com).
Seorang dosen di School of Social Work Université de Montréal, Kanada bernama Simon Louis Lajeunesse pernah melakukan penelitian pada akhir 2009 mengenai pengaruh pornografi pada pria usia dua puluhan tahun. Lajeunesse memulai penelitian dengan mencari sampel pria usia dua puluhan yang tidak pernah mengkonsumsi pornografi. Setelah itu kandidat doctor itu mewawancarai 20 mahasiswa laki-laki heteroseksual yang mengkonsumsi pornografi. Hasil riset Lajeunesse menyimpulkan bahwa 90 persen pornografi dikonsumsi di Internet, sedangkan 10 persen berasal dari toko video. Rata-rata, pria lajang menonton pornografi tiga kali seminggu selama 40 menit. Lajeunesse menemukan kebanyakan anak laki-laki mencari materi pornografi pada usia 10 tahun (ScienceDaily, 1 Desember 2009).
Jenis Penyimpangan Seksual
Serbuan pornografi secara massif akan mendatangkan efek massal pada kesehatan masyarakat berupa praktek penyimpangan seksual di tengah masyarakat. Penyimpangan seksual dapat terjadi pada semua orang yang demam pornografi meski secara ragawi terlihat seperti orang-orang normal pada umunya. Perbedaannya terletak pada aspek kejiwaan yang tidak wajar dalam menjalani kebutuhan biologisnya.
Penyimpangan seksual menurut Dr. A.N. Farag dalam bukunya “Dasar-dasar Seksologi” (Galeri Wacana, 2003) ada beberapa macam atau bentuk. Diantaranya yang popular adalah perilaku homoseksual, sadomasokisme, dan ekshibisionisme. Homoseksual adalah perilaku seksual menyimpang akibat kelainan kejiwaan dengan menyukai sesama jenis kelamin (gay untuk laki-laki, lesbian untuk perempuan). Sementara sadomasokisme adalah perilaku seksual menyimpang yang memperlakukan pasangan seksual dengan cara menyakiti secara fisik untuk mendapatkan kenikmatan seks. Berbeda dengan sadomasokisme, ekshibisionisme adalah perilaku seksual menyimpang yang mendapatkan kenikmatan seksual dengan mempertontonkan alat kelamin kepada orang lain dengan harapan orang lain meresponnya dengan rasa takjub, jijik, takut atau terkejut.
Perilaku seksual menyimpang lainnya adalah sodomi, pedophilia dan incest. Sodomi adalah kelainan seksual khusus bagi pria yang suka melakukan kegiatan seks melalui dubur pasangan seks baik pasangan sesama jenis (homo) maupun dengan pasangan perempuan. Sementara pedophilia adalah kelainan seksual orang dewasa yang menyukai anak-anak dibawah umur untuk dijadikan sasaran kontak seksual. Lain halnya dengan incest yakni suatu hubungan seksual yang dilakukan oleh sesama anggota keluarga sendiri seperti antara ayah dan anak perempuan dan ibu dengan anak laki-lakinya.
Bentuk-bentuk seks menyimpang lainnya yang jarang diberitakan terjadi di Indonesia adalah Fetishisme, Voyeurisme, dan Frotteurisme. Fetishisme adalah suatu penyimpangan seksual yang gemar menyalurkan hasrat libido seksnya pada benda-benda mati seperti celana dalam, BH, pakaian, bando, selendang sutra, handuk, kaus kaki, dan sebagainya sambil melakukan masturbasi/onani. Sedangkan Voyeurisme adalah perilaku kelainan seks untuk mencari kepuasan seks dengan cara melihat atau mengintip orang lain yang sedang melakukan hubungan suami isteri, sedang mandi, sedang telanjang, dan seterusnya. Frotteurisme adalah penyimpangan seksual khusus laki-laki kepada tubuh perempuan dengan jalan menggesek-gesek/menggosok-gosok alat kelaminnya untuk mendapatkan kenikmatan seks di area publik seperti di dalam bis, kereta, diatas pesawat, dan tempat umum lainnya.
Demikian halnya dengan bentuk seksual menyimpang seperti Necrophilia, Zoophilia, dan Bestially. Necrophilia adalah seseorang yang mendapatkan kenikmatan seksual dengan cara melakukan hubungan seks dengan orang yang sudah mati (mayat). Zoophilia adalah seseorang yang terangsang organ seksualnya ketika melihat hewan melakukan kontak seks dengan sesama hewan. Sedang Bestially adalah suatu penyimpangan seksual yang gemar melakukan hubungan seks dengan binatang seperti anjing, ayam, bebek, kambing, kerbau, kucing, kuda, sapi, dan sebagainya.
Pencegahan dan Pengobatan
Salah satu cara mencegah penyimpangan seksual secara massal adalah dengan cara membendung arus deras pornografi, sedangkan secara individu adalah cara pendidikan seks dengan pendekatan agama. Pendidikan seks yang benar didalam lingkungan keluarga dilakukan sejak anak masih kecil. Ketika beranjak remaja, anak-anak diberi informasi tentang seks seperti kebiasaan masturbasi yang diharamkan oleh agama.
Sementara pengobatan bagi anak-anak yang terlanjur suka melakukan masturbasi dengan gejala-gejala abnormal. Gejala abnormal biasanya menyebabkan munculnya gangguan jiwa seperti gangguan kepribadian neurosa, perversi maupun psikosa. Pendekatan psikoterapi terhadap penderita penyimpangan seksual untuk menciptakan suasana agar penderita dapat menumpahkan semua masalahnya tanpa ditutup-tutupi. Pendekatan Hypnoterapi diterapkan pada penderita dengan kelainan seksual kompulsif dengan mengekspose pikiran bawah sadar penderita.
Terakhir adalah pendekatan farmakoterapi terhadap penderita penyimpangan seksual berupa pengobatan dengan estrogen (eastration), pengobatan dengan neuroleptik, dan pengobatan dengan transquilizer. Pengobatan Estrogen dapat mengontrol dorongan-dorongan seksual yang tadinya tidak terkontrol menjadi lebih terkontrol. Pengobatan dengan neuroleptik untuk memperkecil dorongan seksual dan mengurangi kecemasan. Pengobatan Diazepam dan Lorazepam berguna untuk mengurangi gejala-gejalan kecemasan dan rasa takut dengan diberikan secara hati-hati karena dalam dosis besar dapat menghambat fungsi seksual secara menyeluruh.

(Dimuat di Tribun Timur, Jumat, 16 Juli 2010)

17 Juli 2010 - Posted by | Uncategorized | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: