Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

Islam, Penyakit Hati dan Virus Hati

Dalam tubuh manusia terdapat organ yang sangat penting yakni hati. Bila hati seseorang sehat maka manusia dapat hidup, bila hatinya sakit maka bisa mendatangkan kematian. Bahkan seseorang mengatakan hati terkadang lebih penting dari pada tubuh. Seesorang yang memiliki hati yang sehat sekalipun ditawari kebatilan akan pasti menghindarinya. Berbeda dengan hati seseorang yang sudah mati, tidak dapat membedakan hal-hal yang baik dan yang buruk.
Syeikh Abdul Akhir Hammad Alghunaimi dalam bukunya “Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah” membagi atas dua macam penyakit hati yakni penyakit syahwat dan penyakit syubhat. Kategori penyakit syahwat mengacu pada Al-Quran yang artinya, “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya”. Sedangkan kategori penyakit subhat mengacu pada Al-Quran yang artinya, “Dan adapun orang yang didalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya.”
Perbandingan antaara penyakit syahwat dengan penyakit syubhat terletak pada tingkat penyembuhannya. Penyakit syahwat masih bisa diharapkan sembuh, terlebih bila syahwatnya sudah terlampiaskan. Sedangkan penyakit syubhat, tidak akan dapat sembuh kalau Allah Swt tidak menanggulanginya dengan limpahan rahmat-Nya. Berarti penyakit syubhat lebih parah dibanding dengan penyakit syahwat.
Gejala penyakit hati adalah ketika seseorang menghindari makanan-makanan yang bermanfaat bagi hatinya, lalu menggantinya dengan makanan-makanan yang tak sehat bagi hatinya. Makanan yang paling berguna bagi hatinya adalah makanan iman, sedang obat yang paling manjur adalah Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah: “Katakanlah: Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang dipanggil dari tempat jauh.”
Menurut Abdul Akhir Hammad Alghunaimi, semua penyakit rohani dan jasmani disebutkan dalam Al-Quran sebab-sebab timbulnya, cara penanggulangannya, dan cara memperoleh obatnya. Banyak juga orang meyakini bahwa Al-Quran adalah obat sempurna untuk segala penyakit hati dan tubuh, segala penyakit dunia dan akherat namun tidak memiliki kemampuan untuk menggunakannya sebagai obat. Bagi seseorang yang diberi kemampuan memahami Al-Quran akan mampu menggunakan Al-Quran sebagai obat dengan meletakkan pada bagian yang sakit disertai dengan keyakinan yang kuat dan memenuhi syarat-syaratnya dengan penuh pembenaran, keimanan dan penerimaan.
Obat penyakit hati ala Abu Bakar Al Muthawi’i adalah memandang wajah orang shalih. Caranya, Al Muthawi’i aktif dalam majelis Imam Ahmad yang aktif membacakan Al Musnad kepada putra-putri beliau. Selama dua belas tahun aktif di majelis Imam Ahmad, Al Muthawi’i bukannya mencatat hadits-hadits yang diriwayatkan hadits Nabi, namun hanya ingin memandang Imam Ahmad. Ternyata, tidak hanya Al Muthawi’i saja yang datang ke majelis hadits hanya untuk memandang Imam Ahmad. Mayoritas mereka yang hadir dalam majelis tersebut memiliki tujuan yang sama dengan Al Mathawi’i. Padahal jumlah mereka yang hadir dalam majelis Imam Ahmad saat itu lebih dari 5000 orang, namun yang mencatat hadits kurang dari 500 orang. Demikian Ibnu Al Jauzi mengisahkan (Manaqib Imam Ahmad, 210).
Virus Hati
Lain lagi ulasan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam bukunya “Zadul Ma’ad” yang menyebutkan adanya virus hati bernama Al-Isyq (Cinta). Gejolak cinta adalah jenis penyakit hati yang memerlukan penanganan khusus disebabkan perbedaannya dengan jenis penyakit lain dari segi bentuk, sebab maupun terapinya. Banyak orang meyakini bahwa cinta melahirkan kekuatan dahsyat sehingga bisa mendorong pada perbuatan buruk seperti bunuh diri bagi orang yang putus cinta atau ditolak cintanya oleh seseorang. Jika cinta menggerogoti kesucian hati manusia maka dokter sekalipun kesulitan mencarikan obat penawarnya.
Penyakit Al-isyq akan menimpa orang-orang yang hatinya kosong dari rasa mahabbah (cinta) kepada Allah, selalu berpaling dari-Nya dan dipenuhi kecintaan kepada selain-Nya. Hati yang penuh cinta kepada Allah dan rindu bertemu dengaanNya pasti akan kebal terhadap serangan virus ini, sebagaimana yang terjadi dengan Yusuf alaihis salam:
“Artinya ; Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” [Yusuf : 24].
Penyakit al-isyq terjadi dengan dua sebab, lanjut Al-Jauziyah. Pertama : Karena mengganggap indah apa-apa yang dicintainya. Kedua: perasaan ingin memiliki apa yang dicintainya. Jika salah satu dari dua faktor ini tiada niscaya virus tidak akan berjangkit. Walaupun Penyakit kronis ini telah membingungkan banyak orang dan sebagian pakar berupaya memberikan terapinya, namun solusi yang diberikan belum mengena.
Menurut Al-Jauziyah, Allah mengkisahkan penyakit ini di dalam Al-Quran tentang dua tipe manusia, pertama wanita dan kedua kaum homoseks yang cinta kepada mardan (anak laki-laki yang rupawan). Allah mengkisahkan bagaimana penyakit ini telah menyerang istri Al-Aziz gubernur Mesir yang mencintai Nabi Yusuf, dan menimpa Kaum Luth. Allah mengkisahkan kedatangan para malaikat ke negeri Luth: “Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina”. Mereka berkata: “Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?” Luth berkata: “Inilah puteri-puteri (negeri) ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)”. (Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)” [Al-Hijr: 68-72].
Bahkan Rasulullah pun sebagai seorang manusia lainnya pernah disebutkan dalam sejarah menderita penyakit hati berupa cinta pada seorang perempuan bernama Zaenab binti Jahsy. Rasulullah ketika melihat Zaenab binti Jahsy sambil berkata kagum: Maha Suci Rabb yang membolak-balik hati, sejak itu Zaenab mendapat tempat khusus di dalam hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh karena itu Beliau berkata kepada Zaid bin Haritsah: Tahanlah ia di sisimu hingga Allah menurunkan ayat [Al-Ahzab: 37] [1] yang artinya : “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni`mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni`mat kepadanya : “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi”.
Zainab binti Jahsy adalah istri Zaid ibn Harisah, sementara Zaid ibn Harisah sendiri adalah bekas budak Rasulullah yang diangkatnya sebagai anak dan dipanggil dengan Zaid ibn Muhammad. Zainab merasa lebih tinggi dibandingkan Zaid sehingga Zaid ingin menceraikannya. Zaid datang menemui Rasulullah minta saran untuk menceraikannya, maka Rasulullah menasehatinya agar tetap memegang Zainab, sementara Beliau tahu bahwa Zainab akan dinikahinya jika dicerai Zaid. Allah memberitahukannya bahwa Allah langsung yang akan menikahkannya setelah Zaid menceraikan istrinya agar Beliau menjadi contoh bagi umatnya mengenai kebolehan menikahi bekas istri anak angkat, adapun menikahi bekas istri anak kandung maka hal ini terlarang, sebagaimana firman Allah yang artinya : “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu” [Al-Ahzab: 40].
Terapi Penyakit Al-Isyq yang paling utama adalah menikah. Sebagaimana terdapat dalam sahihain dari riwayat Ibn Mas’ud Radhiyallahu, bahwa Rasulullah bersabda yang artinya : “Hai sekalian pemuda, barang siapa yang mampu untuk menikah maka hendaklah dia menikah, barang siapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran (kepada perbuatan zina)”. Hadis ini memberikan dua solusi, solusi utama, dan solusi pengganti. Solusi pertama adalah menikah, maka jika solusi ini dapat dilakukan maka tidak boleh mencari solusi lain. Ibnu Majah meriwaytkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya : “Aku tidak pernah melihat ada dua orang yang saling mengasihi selain melalui jalur pernikahan”. Inilah tujuan dan anjuran Allah untuk menikahi wanita, baik yang merdeka ataupun budak dalam firman-Nya: “Artinya : Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah” [An-Nisa : 28].
Akhirul kalam, dengan mengetahui jenis-jenis penyakit hati dapat meningkatkan kualitas keimanana segenap umat Islam, sedang virus hati berupa cinta kepada selain Allah dapat dihindari kecuali cinta kepada Allah Swt sebagai Maha Pencipta.
(Penulis, Fatmah Afrianty Gobel,Ketua Prodi Kesmas FKM UMI Makassar. Tulisan ini dimuat di harian Tribun Timur, 02 Juli 2010)

5 Agustus 2010 - Posted by | Uncategorized | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: