Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

Ragam Penyakit Akibat Abu Vulkanik Merapi

Sejak mulai erupsi pada 26 Oktober 2010 lalu, abu vulkanik Gunung Merapi yang terletak di Kabupaten Sleman, Yogyakarta telah menyebar melintasi propinsi hingga ke Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kabupaten Purworejo, Magelang, Klaten, dan Boyolali adalah beberapa wilayah yang terkena dampak abu vulkanik di Wilayah Jawa Tengah. Gunung yang berada pada ketinggian 2.068 meter di atas permukaan air laut itu juga memuntahkan abu vulkanik hingga ke Bandung, Cimahi, Padalarang, Garut, Cianjur, Bogor dan Depok di Jawa Barat. Di Kota Magelang yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, abu vulkanik terlihat memenuhi jalan-jalan serta halaman dan genteng rumah penduduk dengan ketebalan satu hingga dua sentimeter.

Kepala Bagian Hukum dan Hubungan Masyarakat Rumah Sakit Umum Daerah dr Sardjito, Heru Trisno Nugroho mengatakan bahwa hampir mayoritas korban awan panas letusan Gunung Merapi yang dirawat di rumah sakit tersebut mengalami trauma inhalasi karena saluran pernapasan terbakar. Mereka kesulitan bernapas, sehingga membutuhkan alat bantu pernapasan (ventilator).

Efek Abu Vulkanik

Pada umumnya, gunung berapi yang mengalami erupsi akan menyemburkan uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), asam klorida (HCl), asam fluorida (HF), dan abu vulkanik ke angkasa. Belum lagi kemungkinan keluarnya suhu panas dan gas-gas beracun yang mungkin ikut menyembur bersama abu vulkanik. Abu vulkanik mengandung silika, mineral, dan bebatuan. Unsur yang paling umum adalah sulfat, klorida, natrium, kalsium, kalium, magnesium, dan fluoride, sementara unsur lain dalam konsentrat rendah adalah seperti seng, kadmium, dan timah.

Hujan abu vulkanik mengandung unsur kimia dan senyawa yang membahayakan kesehatan. Material vulkanik ini mengandung silika atau kaca. Ini mengakibatkan mulai iritasi kulit, mata (konjugtivitis), sesak napas, hingga efek jangka panjangnya adalah kanker paru-paru. Efek abu vulkanik bila terkena kulit atau mata, dalam jangka waktu lama dampaknya akan merusak jaringan kulit hingga iritasi (liputan6.com).

Akumulasi silika dalam paru-paru bisa mengakibatkan silikosis yang menyebabkan kerusakan pada paru-paru bila terpapar silika konsentrasi tinggi dalam jangka waktu yang lama. Keterpaparan dalam intensitas tinggi menyebabkan bulu-bulu hidung tidak cukup kuat menahan serangan partikel polutan berbahaya itu. Selain korban letusan gunung berapi, orang yang berprofesi sebagai pekerja tambang paling rentan terkena Silikosis,. Para korban yang terpapar silika intensitas tinggi dan memiliki daya tahan tubuh rendah sangat rentan dengan silikosis apalagi jika para korban bencana gunung merapi yang mengungsi tersebut dalam keadaan kurang istirahat, kurang mendapat asupan makanan bergizi, bahkan mengalami stress. Konsentrat silika berbahaya bila melebihi batas yang direkomendasikan yakni lebih dari 50 mikrogram per meter kubik.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), paparan abu vulkanik sangat membahayakan warga yang mengirupnya. Ancaman paling umum adalah gangguan pernapasan. Berdasarkan paparan WHO saat terjadi letusan Gunung Eyjafjallajökull di Islandia lalu, abu vulkanik gunung berapi umumnya terdiri dari partikel fragmen batuan halus, mineral, dan kaca dengan karakter keras, kasar, korosif dan tidak larut dalam air. Partikel abu sangat kecil sehingga mudah tertiup angin hingga ribuan kilometer. Yang paling berpotensi merusak tubuh adalah partikel abu terkecil yang mencapai kurang dari 1/100 milimeter. Ini berbahaya karena mudah menembus masker kain dan masuk ke paru-paru (Vivanews.com).

Abu vulkanik mengandung partikel batu (tephra) dan silika (bahan seperti kaca) yang berukuran sangat kecil kurang dari 1 mm. partikel tersebut berbentuk runcing, tajam dan keras sehingga dapat merusak permukaan-permukaan yang lunak. Efek dari abu vulkanik bagi manusia sangat berpotensi mendatangkan berbagai macam jenis penyakit, mulai dari penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), gangguan pada kulit hingga menyebabkan iritasi mata. Kandungan material dari abu vulkanik yang berbahaya adalah pasir kuarsa (S102) yang kerap digunakan untuk membuat gelas. Bila dilihat melalui mikroskop, pasir kuarsa berbentuk runcing ujungnya.

Beberapa keluhan yang sering dilaporkan oleh orang-orang yang terpapar abu vulkanik, seperti gangguan napas sehingga rasa tidak nyaman, hidung meler karena terjadi iritasi pada hidung, sakit tenggorokan disertai dengan batuk kering karena terjadi iritasi pada tenggorokan dan terserang batuk pada penderita asma karena produksi dahak bertambah. Keluhan tersebut sebenanya adalah gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sementara keluhan orang yang terserang iritasi mata akibat abu vulkanik adalah mata merah atau gatal, kornea mata lecet atau bahkan tergores, mata terasa pedih dan sensitif terhadap cahaya, mata terasa kering, dan mata kelilipan. Sedangkan kulit yang terkena abu vulkanik dapat menyebabkan kulit gatal-gatal, bahkan kulit bisa terbakar.

Abu vulkanik dapat melekat di saluran pernapasan dan hanya dapat dinetralisasi dalam aliran darah jika jumlahnya tidak terlalu banyak. Ada beberapa faktor yang menyebabkan korban letusan berapi terserang penyakit akibat abu vulkanik seperti pernafasan akut (ISPA), yakni frekuensi dan lamanya terpapar, konsentrasi partikel di udara yang lebih dari 10 mikron dalam diameter, cuaca buruk, serta kondisi kesehatan korban letusan. Cara menghindari paparan abu vulkanik adalah penggunaan masker dan mengungsi ke tempat yang aman sejauh beberapa radius kilometer dari wilayah erupsi gunung berapi.

Terkait dengan penggunaan masker, menurut Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Prof Faisal Yunus, MD, PhD, FCCP, masker bedah yang terbuat dari kertas atau kain yang banyak beredar sebenarnya hanya menutupi area sekitar hidung. Masker jenis itu memiliki keterbatasan filtrasi karena ada celah di sekitar hidung dan mulut yang memungkinkan tetap masuknya kuman dan polutan yang ada di udara. Respirator lebih memberi perlindungan ketimbang masker bedah. Respirator lebih melindungi dan menyaring partikel berukuran satu mikron. Alat ini terpasang pas di wajah dan berfungsi mencegah kebocoran. Ada sembilan jenis respirator yang direkomendasikan berdasarkan kemampuan menyaring partikel dengan ukuran 0,3 mikron atau satu per 1.000 milimeter, yaitu respirator 95 persen, 99 persen, dan 100 persen, serta kemampuan filtrasi terhadap minyak, yaitu tipe N (Non-resistant to oil), R (Resistant to oil), dan P (oil Proof).

Sementara masker yang beredar di kalangan pengungsi Merapi adalah jenis masker bedah. Masker jenis ini belum memenuhi standar keamanan tubuh manusia. Masker yang paling aman pada situasi erupsi Merapi adalah masker jenis N95 yakni masker yang mirip untuk pasien isolasi flu burung, namun masker tersebut mahal harganya. Bila masyarakat belum memiliki respirator N95, maka masyarakat dapat menggunakan kacamata yang dapat menutup rapat sekeliling mata seperti kacamata goggle. Sebaiknya menggunakan kacamata yang bening, bukan kacamata berwarna gelap agar tidak mempengaruhi penglihatan dan jarak pandang. Bila tidak memiliki masker dan kacamata, maka bisa menggunakan masker kain, seperti sapu tangan, pakaian atau kain lainnya yang dapat menyaring partikel abu yang lebih besar.

Bagi yang tidak memiliki masker respirator N95, sebaiknya menghindari melakukan aktivitas di luar rumah/gedung untuk mencegah abu vulkanik yang mengandung asam sulfat atau belerang yang dapat menembus paru-paru.

29 November 2010 - Posted by | Uncategorized | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: