Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

Epidemiologi Penyakit Tropik

Sebagai seseorang akademisi pada bidang ilmu kesehatan masyarakat, maka kategori yang Paling Indonesia adalah studi tentang epidemi penyakit-penyakit khas Indonesia sebagai daerah tropis. Dalam ilmu kesehatan dikenal istilah penyakit tropik (tropical medicine atau trop med) pada wilayah-wilayah beriklim panas didaerah lintas garis khatulistiwa. Istilah ini diperkenalkan para peneliti kesehatan dari Barat (Eropa dan Amerika) yang berbeda dibanding daerah asalnya.
Citra sebagai penyakit tropik sebenarnya berkonotasi negatif yang berhubungan dengan cara hidup yang tidak sehat seperti sanitasi buruk, hygiene yang jelek, penyakit menular yang berbahaya. Penggolongan penyakit tropik dengan maksud menghindarkan penyakit para kolonialis Barat yang kala itu banyak melakukan pendudukan wilayah-wilayah di daerah tropis. Dalam rangka pendudukan itu, keperluan riset kesehatan ditujukan untuk menghindari penyakit tropik dengan mengetahui penyebab dan faktor-faktor risikonya.
Di Indonesia, selama masa penjajahan Belanda dikenal organisasi ilmiah yang aktif melakukan riset dibidang kesehatan bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en weten schappen. Organisasi ini selama seratus enam puluh empat tahun melakukan riset tentang penyakit tropik untuk kepentingan pemerintah kolonial Belanda dalam membantu kelancaran sistem politik-ekonomi kolonial dalam penguasaan sumber-sumber kekayaan negara jajahan.
Dalam perkembangan penelitian kesehatan, didapatkan data bahwa penyakit tropik bukanlah jenis penyakit yang aneh dan mengerikan seperti yang mereka sangkakan sebelumnya. Bahkan beberapa dari kategori penyakit tropik itu bisa pula didapatkan pada wilayah yang beriklim sedang, hanya berbeda pada manifestasi dan frekuensinya saja. Perbedaan manifestasi dan frekuensi dipengaruhi beberapa faktor seperti iklim, demografi, sosial-ekonomi dan faktor genetic/ras. Pemahaman ini berkembang setelah sarana perhubungan lalu lintas antar benua semakin cepat tanpa batas yang dimulai pada saat pasca Perang Dunia kedua. Karena itu, pusat perhatian pengkajian penyakit tropik adalah penyakit infeksi yang menular yang berkaitan dengan kondisi daerah tropis.
Ragam Penyakit Tropik
Menurut Dr dr Umar Zein, ada beberapa macam penyakit tropik yang sudah dikenal sejak masa penjajahan Belanda, ratusan tahun lalu seperti penyakit cacar, polio, frambusia (puru), malaria, kolera, tuberkulosis, kusta dan elefantiasis (kaki gajah). Kategori penyakit tropik lainnya adalah malaria, demam berdarah, tifus, sepsis, hepatitis dan TBC. Meski telah dikenal dan diteliti ratusan tahun yang lalu, ragam penyakit tersebut masih tetap terjadi dan menular pada kelompok masyarakat tertentu didalam wilayah Indonesia. Berbagai penelitian dengan dana yang tergolong besar untuk mencari metode pencegahan dan pengobatan penyakit tropik tetap tidak bisa dihilangkan karena berkaitan dengan cara hidup masyarakat.
Kecenderungan pola hidup yang tidak sehat pada masyarakat yang tergolong status sosial ekonomi rendah rawan terjangkit penyakit tropik seperti kusta, frambusia , tuberculosis, kaki gajah, dan kala-azar. Khusus penyakit kala-azar hanya ditemukan di wilayah tropik di Asia Selatan yakni India, Nepal dan Bangladesh. Jenis penyakit tropik seperti yang disebutkan diatas masih kerap terjangkiti pada masyarakat miskin dan marginal, utamanya yang bermukim di pedesaan. Sementara penyakit tropik lainnya seperti cacar dan polio telah dapat dieliminasi melalui tindakan vaksinasi, meski penyakit tersebut dapat muncul kembali (re-emerging infectious diseases).
Pemerintah Indonesia pernah menyatakan bahwa dalam 10 tahun terakhir telah berhasil menurunkan angka penderita penyakit kusta sebesar 371.000, diantaranya sejumalh 1.722 penderita mengalami kecacatan permanen. Klaim keberhasilan tersebut menyebabkan menurunnya kampanye dan sosialisasi faktor risiko penyakit kusta di tengah masyarakat sehingga penderita kusta tidak kunjung terselesaikan. Bahkan setiap tahun tercatat sekitar 20.000 kasus baru penderita penyakit kusta berdasarkan laporan dari dinas-dinas kesehatan yang tersebar pada seluruh pelosok Indonesia. Peningkatan kasus kusta sejalan dengan penurunan status sosial-ekonomi masyarakat.
Demikian halnya dengan penyakit frambusia yang tergolong penyakit langka namun masih mengjangkiti penduduk Indonesia. berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia bersama India dan Timor Leste adalah tiga negara yang memiliki penderita frambusia tertinggi. Di Indonesia, tercatat jumlah penderita frambusia sekitar 5.000 orang. Salah satu daerah yang masyarakatnya masuk kategori stadium 1 frambusia akut adalah di Sumba, Kecamatan Bepepoli, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penyakit frambusia muncul terkait erat dengan pola hidup yang jauh dari kebersihan seperti jarang mandi, jarang menggunakan sabun pembersih, menggunakan air kotor untuk kebutuhan sehari-hari, dan system sanitasi rumah tangga yang jelek. Karena itu penderita penyakit frambusia berkonotasi pada kemiskinan dan kebodohan yang belum mengadopsi pola hidup sehat.

30 Mei 2011 - Posted by | Uncategorized | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: