Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

Relevansi Teori Keperawatan Pada Perawatan Pasien TB

Relevansi Teori Keperawatan Pada Perawatan Pasien TB.
Judul : Model Integrasi Self Care dan Family Centrered Nursing, Studi Kasus Keperawatan TB di Makassar
Penulis: Elly Lilianty Sjattar
Penerbit: Pustaka Timur-CEPSIS
Tahun : 2012
Tebal : 180 hal + xii
Ilmu Keperawatan sebagai bagian dari Ilmu Kesehatan telah semakin berkembang pesat. Seperti halnya dengan Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran, ilmu keperawatan memiliki obyek kajian tersendiri. Misalnya, buku yang ditulis oleh seorang dosen Jurusan Keperawatan dari Universitas Hasanuddin, Elly Lilianty Sjattar yang menguji relevansi teori keperawatan self care dan family-centered nursing dengan praktek keperawatan.
Mengutip pendapat Widodo (2003), perkembangan ilmu keperawatan terus berjalan seiring dengan perkembangan jaman. Tuntutan akan pelayanan keperawatan yang bermutu, telah memotivasi pakar-pakar keperawatan melakukan berbagai penelitian untuk menemukan sebuah konsep keperawatan dalam rangka memberikan pelayanan keperawatan yang professional dengan memandang bahwa kebutuhan manusia adalah holistik yang mencakup bio, psiko, sosial, spiritual dan kultural serta memperhatikan bahwa manusia adalah makhluk yang unik. Untuk menyikapi fenomena peningkatan kasus TB dan DO akibat kurangnya pengetahuan pasien TB dan keluarga tentang tindakan pencegahan penularan dan efek samping obat.
Mengacu pada Taylor, (2006) dan Pender dkk, (2001), teori keperawatan (self care dan family-centered nursing) masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu sulit diterapkan secara sendiri-sendiri jika harus diaplikasikan pada keluarga. Sehingga perlu diintegrasikan kedua model tersebut sebelum diterapkan kepada keluarga. Fokus utama dari model konseptual self care adalah perawat bekerja untuk meningkatkan kemampuan pasien agar dapat merawat dirinya sendiri (pasien centered/berorientasi pada pasien). Berdasarkan teori ini peran perawat dan pasien saling melengkapi, yaitu setiap hal dilakukan bersama untuk mencapai perawatan diri yang maksimal.
Sedangkan Friedman dkk, (2003) berpendapat bahwa Family-centred nursing adalah kemampuan perawat memberikan asuhan keperawatan keluarga, sehingga memandirikan anggota keluarga agar tercapai peningkatan kesehatan seluruh anggota keluarganya dan keluarga mampu mengatasi masalah kesehatan (family centered/berorientasi pada keluarga).
Menurut Elly Sjattar, penerapan model keluarga untuk keluarga: integrasi teori keperawatan self care dan family-centered nursing dengan sistem keperawatan edukasi suportif merupakan salah satu intervensi keperawatan yang mendukung keluarga pasien TB untuk meningkatkan pengetahuan dan kemandirian keluarga merawat anggota keluarganya yang menderita TB. Penurunan angka kesembuhan TB belum optimal dikarenakan tidak adanya supervisi yang rutin ke rumah pasien oleh perawat komunitas. Pelaksanaan home care oleh perawat masih terbatas sehingga keluarga dan penderita TB masih kurang mendapatkan pendidikan kesehatan. Kurangnya pengetahuan yang adekuat tentang penyakit dan pengobatan mengakibatkan kurang termotivasi dalam pengobatannya.
Friedman dkk (2003), menyebutkan bahwa perawat komunitas/kesehatan masyarakat (perkesmas) melalui perannya dapat meningkatkan peran serta masyarakat melalui pemberdayaan dan membuat masyarakat dapat mengungkapkan kebutuhan, keinginan dan memikirkan strategi untuk terlibat dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan pencegahan dan penanganan penyakit TB. Peran perawat di komunitas sangatlah besar dalam mencegah individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang beresiko terhadap penularan penyakit TB, memberikan suport dan edukasi pada keluarga bagaimana cara menjadi PMO yang cakap, memberikan informasi pada keluarga seputar pengetahuan, pencegahan dan perawatan pada pasien TB. Pelayanan keperawatan komunitas dapat dilakukan melalui upaya pencegahan primer, sekunder dan tertier dengan berbagai terapi modalitas dan rehabilitasi yang dapat diterapkan melalui pemberdayaan masyarakat.
Buku hasil penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui penerapan model integrasi teori keperawatan self care dan family centre nursing melalui model program keluarga untuk keluarga (KUK) dengan sistem keperawatan edukasi suportif terhadap kemandirian keluarga merawat anggota keluarga yang menderita TB Paru. Penelitian quasi eksperimen dengan rancangan yang digunakan adalah pre-test and post-test with control group design. Intervensi dalam penelitian ini adalah penerapan model KUK dengan pemberian edukasi suportif terhadap keluarga pasien TB pada awal (< 3 bulan) masa pengobatan dan diobservasi tingkat kemandirian keluarga dalam merawat pasien TB pada saat post test. Sampel kelompok kontrol dan kelompok intervensi 1 : 1 (kelompok kontrol 40 keluarga dan kelompok intervensi 40 keluarga) sehingga total sampel adalah 80 keluarga pasien.
Pendekatan model self care dapat dipahami misalnya keberhasilan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit. Penelitian Biggs (2008) keluarga (care giver) dapat merawat anggota keluarga yang menjelang ajal (akibat penyakit Alzeimer, Diabetes dan Osteoporosis) dirumah karena dapat mengurangi biaya RS. Demikian pula Badaruddin dkk (2002) dalam penelitiannya menyatakan pendidikan kesehatan meningkatkan pola hidup pasien diabetes dalam mengontrol gula darah dengan baik. Hal serupa dilakukan oleh Palestin (2010) menyatakan bahwa pendidikan kesehatan meningkatkan pengetahuan individu dan keluarga dalam mengelola penyakit diabetes. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model self care dari Orem, berorientasi pada pasien (pasien centered). Namun menurut Elly Sjattar, penelitian-penelitian yang berkembang dengan menggunakan model self care belum pernah diterapkan pada penyakit infeksi, sehingga perlunya mengintegrasikan model self care dengan model family-centered nursing, yang berfokus pada peningkatan kesehatan seluruh anggota keluarga melalui pencegahan terhadap penyakit (family-centered).
Model keluarga untuk keluarga, yaitu integrasi dari model self care dan family-centered nursing, yang bertujuan meningkatkan kesehatan keluarga melalui perawatan pasien TB yang ada di keluarga dan pencegahan penyakit TB pada anggota keluarga, yang dilakukan oleh care giver yang telah di berikan pendidikan kesehatan oleh perawat. Sampai saat ini belum ada penelitian yang menggunakan model integrasi tersebut pada agregat yang berisiko terkena penyakit TB. Model self care (Orem) ditujukan untuk memandirikan care giver dalam mendampingi pasien minum obat dan memonitoring efek samping OAT, sedangkan pembinaan care giver yang difokuskan pada peningkatan kesehatan seluruh anggota keluarga, sehingga tercapai kemandirian keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya khususnya pencegahan penyakit TB menggunakan model family-centered nursing.
Elly berpendapat bahwa fokus pengkajian peneliti pada family-centered nursing ditujukan untuk mendapatkan informasi, sejauhmana peran keluarga (care giver) dalam mencegah dan merawat anggota keluarganya yang menderita TB khususnya terait fungsi terhadap kesehatan di masyarakat. Pengkajian yang dilakukan adalah untuk melihat kemampuan keluarga melakukan pencegahan penularan TB terhadap anggota keluarga yang lain. Sedangkan fokus pengkajian pada self care ditujukan untuk mendapatkan informasi sejauhmana peran keluarga (care giver) mengetahui tanda dan gejala penyakit TB, memotivasi pasien minum OAT, dan kemampuannya merawat anggota keluarga yang menderita TB, sebagai kegiatan utama yang dilakukan keluarga (care giver).
Elly Sjattar menguraikan hasil uji Wilcoxon signed rank test membuktikan ada perbedaan yang bermakna pada pengetahuan, keterampilan melakukan pencegahan dan perawatan pada pasien TB, serta kemandirian keluarga merawat anggota keluarga yang menderita TB antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p=0.000). Dapat disimpulkan bahwa penerapan model keluarga untuk keluarga: integrasi teori dan konsep keperawatan self care dan family centre nursing dengan metode edukasi suportif yang diberikan pada keluarga pasien TB, sangat berpengaruh terhadap kemandirian keluarga merawat anggota keluarga yang menderita TB dibandingkan pada kelompok kontrol.
Buku ini direkomendasikan untuk menjadi bahan bacaan dan dimiliki oleh perawat komunitas, peneliti bidang keperawatan, dan mahasiswa ilmu keperawatan serta aparat pada Puskesmas dan Dinas Kesehatan.

29 Januari 2012 - Posted by | Uncategorized | , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: