Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

Menimbang RUU Kesetaraan Gender

Saat ini sedang menguat wacana publik tentang Rancangan Undang-Undang (RUU) Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG). Hingga bulan April 2012, masih tahap pembahasan sejak diserahkan dari Deputi Perundang-undangan DPR RI ke Komisi VIII DPR RI pada Agustus 2011 lalu.
Berbagai suara pro dan kontra mengiringi pembahasan RUU tersebut, baik didalam internal DPR maupun ditengah masyarakat. Penolakan konsep RUU tersebut lebih banyak dari kelompok kepentingan Islam karena dianggap bertentangan dengan dasar ajaran agama Islam. Bagi pihak yang kontra, RUU KKG dianggap sangat sekuler karena dibangun diatas paradigma pemikiran tentang gender ala Barat. Peradaban Barat membuang dimensi akhirat dan dimensi ibadah dalam interaksi antara laki-laki dan perempuan.
Penyebaran paham “kesetaraan gender” saat ini telah menjadi program unggulan dalam proyek liberalisasi Islam di Indonesia. Banyak organisasi Islam yang memanfaatkan dana-dana bantuan sejumlah LSM Barat untuk menggarap perempuan-perempuan muslimah agar memiliki paham kesetaraan gender ini. Perempuan muslimah kini didorong untuk berebut dengan laki-laki di lahan publik, dalam semua bidang.
Kritik pemikir Islam seperti Dr Adian Husaini tentang pemikiran gender ala Barat seperti kegiatan sebagai ibu rumah tangga, mendidik anak-anaknya dengan baik, tidak dimasukkan ke dalam kategori ‘berpartisipasi dalam pembangunan’. Dalam pelaksanaan konsep Human Development Index (HDI), perempuan dituntut berperan aktif dalam pembangunan dengan cara terjun ke berbagai sektor publik.
Dr. Ratna Megawangi dalam bukunya “Membiarkan Berbeda?” (Bandung: Mizan, 1999), menulis bahwa agenda feminis mainstream, semenjak awal abad ke-20, adalah bagaimana mewujudkan kesetaraan gender secara kuantitatif, yaitu pria dan wanita harus sama-sama (fifty-fifty) berperan baik di luar maupun di dalam rumah. Untuk mewujudkan kesetaraan seperti itu, para feminis sampai sekarang masih percaya bahwa perbedaan peran berdasarkan gender adalah karena produk budaya, bukan karena adanya perbedaan biologis, atau perbedaan nature, atau genetis. Para feminis yakin dapat mewujudkannya melalui perubahan budaya, legislasi, atau pun praktik-praktik pengasuhan anak. Catatan lain menyebutkan bahwa pada awal Abad 20 ketika masa KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), diketahui bahwa perempuan sudah banyak aktif dalam organisasi Aisyiyah, tanpa mengangkat isu ketertindasan perempuan dan kesetaraan gender serta persamaan dalam semua hal.
Di negeri-negeri Muslim, telah berkembang pemikiran ekstrim dari para feminis. Misalnya Amina Wadud yang menulis buku “Qur’an and Woman: Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective”. Pemikir feminis sering menuduh para mufassir dan ulama fiqih laki-laki telah menyusun tafsir dan kitab fiqih yang bias gender sebab mereka berjenis kelamin laki-laki. Sebagai antitesa, pendapat para sahabat Rasulullah yang banyak digugat kaum feminis telah diterbitkan kedalam buku berjudul, “Mawsu’ah Fiqh ‘Aisyah Umm al-Mu’minin, Hayatiha wa Fiqhiha, (Dar al-Nafes, Beirut, 1993) karya Sa’id Fayiz al-Dukhayyil. Buku tersebut berupaya mengumpulkan yang ditulis pendapat-pendapat Siti Aisyah r.a. tentang masalah fiqih.
Pasal Krusial
Pasal-pasal yang dinilai krusial dalam draft RUU-Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG) seperti Pasal 1 ayat 2, menyebutkan bahwa : “Kesetaraan Gender adalah kesamaan kondisi dan posisi bagi perempuan dan laki-laki untuk mendapatkan kesempatan mengakses, berpartisipasi, mengontrol, dan memperoleh manfaat pembangunan di semua bidang kehidupan.” Pun Pasal 4 ayat 2 RUU ini menyebutkan: “perempuan berhak memperoleh tindakan khusus sementara paling sedikit 30 % (tiga puluh persen) dalam hal keterwakilan di legislatif, eksekutif, yudikatif, dan berbagai lembaga pemerintahan non-kementerian, lembaga politik dan lembaga non-pemerintah, lembaga masyarakat di tingkat daerah, nasional, regional dan internasional.”
Salah satu kritik terhadap RUU KKG adalah Pasal 1 ayat 1 yang berbunyi: “Gender adalah pembedaan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya yang sifatnya tidak tetap dan dapat dipelajari, serta dapat dipertukarkan menurut waktu, tempat, dan budaya tertentu dari satu jenis kelamin ke jenis kelamin lainnya.”
Sementara dalam pandangan pemikir Islam, pembedaan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan dalam Islam bukanlah merupakan hasil budaya, tetapi merupakan konsep wahyu. Ada riwayat pada masa Rasulullah SAW melarang seorang istri untuk keluar rumah karena dilarang suaminya meskipun untuk berziarah pada ayahnya yang meninggal dunia. Larangan Nabi itu bukanlah budaya Arab tetapi itu merupakan ajaran Islam yang berdasarkan kepada wahyu Allah SWT.
Pandangan Kesehatan dan Islam
Dari segi kesehatan, antara laki-laki dan perempuan memang dilahirkan berbeda. Temuan ilmiah perbedaan kedua jenis kelamin dapat dibuktikan misalnya dari perbedaan didalam otak. Dalam buku “The Female Brain and The Male Brain” yang ditulis oleh seorang dokter syaraf di University of California, Amerika Serikat bernama Louann Brizendine, M.D. Penelitian yang dilakukan Brizendine selama 25 tahun menemukan bahwa sejak masa kehamilan, otak laki-laki dan otak perempuan berbeda. Sel otak laki-laki memiliki kromoson Y dan otak perempuan tidak memilikinya. Hormon estrogen, progresteron, dan oksitonin didalam otak perempuan mempengaruhi sirkuit otak terhadap perilaku khas perempuan. Sedangkan laki-laki memiliki pusat otak yang lebih besar untuk tindakan yang memerlukan otot dan agresi.
Dalam pandangan keagamaan (khususnya Islam), antara perempuan dan laki-laki setara dihadapan Allah SWT, yang membedakan adalah tingkat keimanan dan amal saleh yang diperbuatnya. Dr. Katherine Bullock, seorang Doktor Filsafat Politik dari University of Toronto Kanada dalam bukunya, “Rethinking Muslim Women and The Veil, (London: The International Institute of Islamic Thought, 2002),
“the principal definition of equality was how human beings stood in relation to God.” Bullock berpendapat demikian berdasarkan temuan penelitiannya pada muslimah yang ditemuinya bahwa Al-Quran menyatakan dengan tegas antara laki-laki dan perempuan adalah “setara” (equal) di hadapan Allah.
Meski demikian, Allah mengatur peran masing-masing yang berbeda didalam urusan internal (privat) maupun urusan eksternal (publik). Setiap perempuan (muslimah) yang aktif diluar rumah (publik) tetap memiliki tanggung jawab didalam rumah, baik sebagai manajer sekaligus pelayan rumah tangga, istri bagi suami, dan ibu bagi anak-anak.
Perbedaan peran dalam rumah tangga sangat jelas dalam pandangan Islam. Rasulullah SAW dalam riwayat hadis menekankan pentingnya menghormati perempuan (ibu). Ketika seorang bertanya kepada Rasul SAW, siapa yang harus dia hormati, sebanyak tiga kali, Rasul SAW menjawab: “Ibumu!” yang keempat baru dijawab: “Ayahmu!” Begitu besar peran perempuan dalam rumah tangga sehingga penghormatan lebih tinggi pada sosok seorang ibu. Meski demikian, sosok kedua orangtua dihadapan anak tetap sama-sama mendapatkan penghormatan.
Akhirul kalam, relasi gender antara laki-laki dengan perempuan sudah tercipta secara organis berbeda. Jadi biarkanlah berbeda, baik peran dan tanggungjawabnya dalam publik karena perempuan sejati adalah seorang pendidik generasi bangsa melalui pendidikan sejak dini di institusi rumah tangga.

28 Mei 2012 - Posted by | Uncategorized | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: