Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

Provinsi Jatim Status KLB Penyakit Difteri

Dunia kesehatan masyarakat Indonesia dikejutkan oleh adanya penyebaran penyakit difteri di Provinsi Jawa Timur (Jatim). Sebanyak 11 anak meninggal dunia dari 333 kasus difteri yang muncul selama tahun 2011. Karena itu, pemerintah Provinsi Jatim menetapkan KLB (Kejadian Luar Biasa) penyakit difteri sejak Jumat, 7 Oktober 2011 dan mulai berlaku 10 Oktober 2011. Penetapan status KLB dilakukan mengingat kasus ini telah tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Kasus difteri telah menjangkiti 34 kota/kabupaten, dan hanya empat daerah yang belum terjangkit seperti Ngawi, Pacitan, Trenggalek, dan Magetan. Kasus difteri yang paling parah menyerang Surabaya, Bangkalan, dan Mojokerto. Penularan penyakit difteri sudah mulai meningkat sejak 2008. Pada tahun 2010, di wilayah Jatim memang tinggi angka kesakitan akibat penyakit difteri sebanyak 304 kasus pada 32 daerah dan mengakibatkan 21 anak meninggal. Sedangkan tahun 2009, terdapat 140 kasus pada 24 daerah di Jatim dengan korban 8 orang meninggal dunia. Peristiwa KLB difteri yang terjadi di Jatim memberikan gambaran bahwa program imunisasi harus mendapat perhatian khusus.
Sejak Januari hingga Oktober 2011, korban penyakit difteri mencapai 328 orang. Pemprov Jatim-pun melakukan vaksinasi massal yang dimulai serentak (10/10/2011) pada 11 kabupaten/kota yaitu Kota Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Mojokerto, Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pamekasan, Blitar, Gresik, dan Banyuwangi dengan anggaran Rp10 miliar dari Rp13 miliar yang disediakan. Kesebelas daerah itu merupakan daerah dengan jumlah persebaran difteri terbesar. Dari 651 desa, 483 desa tanggungjawab Pemprov Jatim, 168 desa tanggungjawab kabupaten kota. Pemprov menambahkan dana sebanyak Rp10 miliar yang disalurkan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim (beritajatim.com).
Kondisi di Kota Surabaya sendiri sebagai daerah dengan tingkat migrasi yang tinggi memiliki tingkat risiko penularan yang tinggi pula. Surabaya masuk dalam wilayah yang mendapat perhatian dalam kasus penularan penyakit difteri. Penelitian di lapangan, penularan penyakit ini lebih banyak ditemukan pada bayi dan anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi. Imunisasi menjadi langkah penting dalam mencegah penularan penyakit ini.
Temuan dilapangan, penyakit difteri yang menyerang anak-anak di Jatim baik yang ditemukan tanpa gejala maupun sampai fatal. Kondisi yang sangat fatal, penderita mengalami sesak nafas dan tidak bisa bernafas. Penderita yang ditemukan kebanyakan anak-anak, dari usia 4 tahun sampai 12 tahun. Hal ini disebabkan sistem kekebalan tubuh mereka belum terbentuk sempurna. Penderita juga bisa terserang dengan gejala mata berdarah dan menyerang kulit. Untuk menangani kasus difteri ini, Pemprov Jatim telah menyediakan sebanyak 40 ribu vaksin dan telah disalurkan kepada seluruh puskesmas dan posyandu yang ada di Jawa Timur.
Bakteri Penyakit
Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae yang dapat menyebabkan sakit tenggorokan, demam, kelenjar bengkak, dan lemas. Dalam tahap lanjut, difteri bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal dan sistem saraf yang berakibat fatal dan berujung pada kematian. Penyakit difteri sangat rentan menyerang bayi mulai umur 2 bulan.
Bakteri C.diphtheriae dapat menyebar melalui tiga rute: (1) Bersin: Ketika orang yang terinfeksi bersin atau batuk, mereka akan melepaskan percikan ludah yang terkontaminasi dan memungkinkan orang di sekitarnya terpapar bakteri tersebut. (2) Kontaminasi barang pribadi: Penularan difteri bisa berasal dari barang-barang pribadi seperti gelas yang belum dicuci. (3) Barang rumah tangga: Dalam kasus yang jarang, difteri menyebar melalui barang-barang rumah tangga yang biasanya dipakai secara bersamaan, seperti handuk atau mainan (Kompas.com).
Prof. Dr. dr. Ismoedijanto, DTM&H,Sp.AK, seorang pakar penyakit tropik dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menyebutkan difteri adalah penyakit infeksi yang bisa menular dengan sangat cepat sehingga saat masuk rumah sakit, pasien difteri biasanya diisolasi. Jika infeksinya berat, maka seseorang yang tertular bisa meninggal pada hari ketiga atau keempat. Penderita rata-rata meninggal karena bakteri mengeluarkan racun yang mengganggu fungsi jantung, ginjal, atau pernapasan. Penyakit ini menular pada mereka yang belum pernah mendapat imunisasi saat bayi. Selain itu, mereka yang mendapat imunisasi tidak lengkap juga rentan tertular.
Sistem penularan penyakit difteri disebabkan oleh kuman, kontak langsung dengan penderita karena penyebarannya sangat cepat melalui udara, serta penyerangan yang disebabkan oleh droplet atau percikan ludah dari penderita kepada orang lain. Pada penderita yang parah harus dibawa ke rumah sakit dengan isolasi.
Orang yang terinfeksi namun tidak menyadarinya dikenal sebagai carier (pembawa) difteri. Carrier penyakit difteri biasanya orang dewasa atau orang tua meski tidak mendapat gejala penyakit difteri namun bisa menyebarkan kepada keluarga dan lingkungannya, terutama bagi anak-anak. Karena itu, sumber penularan penyakit difteri ini adalah manusia, baik sebagai penderita maupun sebagai carier.
Orang-orang yang berada pada risiko tertular difteri meliputi: anak-anak dan orang dewasa yang tidak mendapatkan imunisasi terbaru; orang yang hidup dalam kondisi tempat tinggal penuh sesak atau tidak sehat; orang yang memiliki gangguan sistem kekebalan; siapapun yang bepergian ke tempat atau daerah endemik difteri. Seseorang dapat terkontaminasi bakteri berbahaya tersebut apabila menyentuh orang yang sudah terinfeksi. Orang yang telah terinfeksi bakteri difteri dan belum diobati dapat menginfeksi orang nonimmunized selama enam minggu – bahkan jika mereka tidak menunjukkan gejala apapun (Kompas.com).
Pencegahan Penyakit Difteri
Penyakit difteri bisa dicegah sejak dini. Upaya pencegahan bagi serangan Difteri ini dilakukan secara dini kepada anak-anak atau balita dengan mendapatkan imunisasi DPT pada usia 2 bulan ke atas. Biasanya vaksin DPT diberikan pada kegiatan bulan imunisasi di sekolah kepada anak SD kelas 1. Pencegahan penyebaran penyakit Difteri juga dilakukan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat atau PHBS yang harus terus dilakukan seperti mencuci tangan sebelum makan. Tujuan PHBS salah satunya agar penyebaran penyakit menular itu bisa ditangkal. Lain lainnya adalah memperhatikan asupan makanan yang bergizi dan seimbang juga harus terus dijaga.
Penyakit ini dapat dicegah dengan menyuntikkan vaksin DPT. Vaksin ini melindungi anak-anak terhadap ancaman penyakit Difteri, Pertusis dan Tetanus. Jadwal pemberian vaksin yang disarankan diberikan 3 kali selang 1-2 bulan, dimulai umur 2 bulan. Pada saat anak mencapai umur 18 bulan atau paling dekat selang 6 bulan dari vaksinasi ke-3 sewaktu bayi dan sewaktu anak mencapai umur 10 tahun, harus kembali diberikan vaksin DPT. Jika vaksin DPT tidak lengkap diberikan pada anak-anak maka efek perlindungan tidak optimal dan rentan terkena difteri. Jika ada penderita penyakit difteri ditemukan pada suatu wilayah harus segera dilakukan ORI (Outbreak Respons Imunization).
Kualitas vaksin juga ditentukan oleh penyimpanan vaksin mulai dari awal pabrik dan transportasi sampai ke tempat penyuntikan. Vaksin DPT harus selalu terjaga suhu dan lingkungannya, seperti vaksin tidak boleh beku, tidak boleh terkena langsung sinar matahari, dan syarat-syarat lainnya. Vaksin yang digunakan untuk imunisasi difteri harus vaksin yang potensial yang disimpan pada suhu 4 sampai 8 derajat celsius dan tidak boleh disimpan atau dipindahkan sembarangan. Versi terbaru dari vaksin ini dikenal sebagai vaksin DTaP untuk anak-anak dan vaksin Tdap untuk remaja dan dewasa. Teknik penyuntikan juga mempunyai persyaratan tertentu yang harus dipenuhi agar efek perlindungannya terpenuhi.
Pada bulan Juni 2011, Dana Anak-anak untuk PBB (Unicef) telah menyerukan penurunan harga vaksin terkait program imunisasi global. Beberapa vaksin yang turun harga itu antara lain vaksin yang dapat membasmi lima penyakit semisal difteri, hepatitis B, dan hepatitis C. seruan Unicef mendapat tanggapan positif oleh beberapa perusahaan obat internasional terkait pengurangan harga jual vaksin di negara-negara berkembang.
Langkah antisipasi sehubungan dengan KLB penyakit difteri imunisasi secara serentak di seluruh puskesmas pada seluruh anak di bawah usia 10 tahun, baik yang terkena difteri maupun yang belum. Pemerintah juga seharunya mensosialisasikan cara pencegahan dini difteri secara terus menerus berdasarkan periode. Penyakit difteri dapat ditanggulangi secara dini pada rumah tangga melalui pengenalan gejala penyakit seperti panas tinggi, batuk disertai pilek, pembengkakan tenggorokan, dan terdapat selaput putih di tenggorokan. Gejala lainnya seperti cepat malas, kulit mudah berdarah jika dipegang, sakit mata sampai bengkak dan kotoran mata sampai berdarah. Bila menunjukkan gejala tersebut pada anak, maka segera dibawa ke dokter atau puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan. Langkah lainnya adalah pendataan dan pelacakan ke tempat atau rumah pasien untuk mengidentifikasi kontak eratnya yang berhubungan dengan penderita. Spesimen pendataan diteliti di laboratorium untuk memantau penyebaran pada kontak erat pasien, terutama yang dewasa.
Guna meningkatkan kekebalan anak-anak terhadap ancaman penyakit, ada tiga jenis vaksin imunisasi. Ketiga jenis vaksin meliputi campak, Difteri Tetanus (DT), dan Tetanus Toxoid (TT). Campak diberikan ke siswa kelas I, DT untuk kelas II, dan TT untuk kelas III dan IV. Program tersebut sudah rutin dilakukan setiap tahun serentak secara nasional sejak tahun 1998.
Kedepan, kualitas program imunisasi yang harus diperkuat. Gerakan imunisasi guna menanggulangi meluasnya penularan penyakit harus dilakukan secara berkelanjutan. Setidaknya butuh waktu tiga tahun untuk menekan kasus penularannya. Peranan pemerintah sangat penting dalam menjaga cakupan imunisasi sampai 95 % untuk anak Indonesia. Jika pemerintah mampu menjaga kesinambungan program imuniasasi, maka KLB difteri kecil kemungkinan akan terjadi karena kasus penularannya akan menurun.

26 Oktober 2011 Posted by | Uncategorized | , , , , | Tinggalkan komentar

Kebijakan Pembiayaan Kesehatan

Selama tiga hari pada akhir bulan September 2011 lalu, para peneliti kebijakan kesehatan dan pengambil kebijakan kesehatan seluruh Indonesia berkumpul di Makassar. Pertemuan rutin tahunan kali ini membahas berbagai penelitian kebijakan kesehatan terkini di Indonesia dengan fokus utama pada pelaksanaan kebijakan pembiayaan kesehatan yakni Jampersal dan BOK.
Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) diluncurkan pada tahun 2010 untuk puskesmas dan jaringannya. Selama berjalan dua tahun, BOK diragukan efektifitasnya dan keberlanjutannya karena menggunakan istilah “bantuan”. Bisa jadi pada masa datang, dana BOK sebagai dana Tugas Pembantuan (TP) untuk kesehatan dialihkan ke Dana Alokasi Khusus (DAK). Dana Tugas Pembantuan (TP) biasanya bersifat dana pelimpahan wewenang pusat ke propinsi untuk didistribusikan pada level pemerintahan lebih rendah. Kalau demikian, mengapa dana BOK tidak langsung menjadi DAK? Apakah ada motif lain dibalik peluncuran skema dana BOK agar lebih popular seperti halnya dana BOS untuk sektor pendidikan?
Selain itu, ada empat kegiatan penunjang lain yang tidak kalah pentingnya dilakukan selama tiga hari yakni mendiskusikan perkembangan keberpihakan dan ideologi kebijakan kesehatan di Indonesia; melakukan diskusi antara peneliti dan penetap keputusan (policy makers) tentang pertimbangan dalam memutuskan suatu kebijakan dan bagaimana memutuskan kebijakan tersebut; mendiskusikan metode penelitian di bidang kebijakan kesehatan, teknik penyampaian penelitian kebijakan, dan aspek etika publikasi hasil penelitian kebijakan kesehatan; serta mengembangkan jaringan kebijakan kesehatan di Indonesia.
Pembiayaan Kesehatan
Pengertian biaya kesehatan adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk menyelenggarakan dan/atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat (Azrul A, 1996). Dari defenisi di atas, ada dua pihak yang terlibat yakni penyelenggara pelayanan kesehatan (provider) dan pemakai jasa pelayanan kesehatan. Bagi penyelenggara, terkait besarnya dana untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang berupa dana investasi serta dana operasional, sedangkan bagi pemakai jasa layanan berhubungan dengan besarnya dana yang dikeluarkan untuk dapat memanfaatkan suatu upaya kesehatan.
Pembiayaan kesehatan suatu negara mempertimbangkan adanya sektor swasta selain pemerintah sebagai penyelenggaraan layanan kesehatan. Total biaya dari sisi pemerintah dihitung dari besarnya dana yang dikeluarkan oleh pemerintah (expence) untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan, bukan berdasarkan besarnya dana yang dikeluarkan oleh pemakai jasa (income pemerintah). Jadi total biaya kesehatan adalah penjumlahan biaya dari sektor pemerintah dengan besarnya dana yang dikeluarkan pemakai jasa pelayanan untuk sektor swasta.
Secara umum biaya kesehatan dibedakan atas biaya pelayanan kedokteran dan biaya pelayanan kesehatan masyarakat. Biaya pelayanan kedokteran adalah biaya untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan pelayanan kedokteran dengan tujuan utama lebih ke arah pengobatan dan pemulihan (aspek kuratif-rehabilitatif) dengan sumber dana dari sektor pemerintah maupun swasta. Sementara biaya pelayanan kesehatan masyarakat adalah biaya untuk menyelenggarakan dan/atau memanfaatkan pelayanan kesehatan masyarakat dengan tujuan utama lebih ke arah peningkatan kesehatan dan pencegahan (aspek preventif-promotif) dengan sumber dana terutama dari sektor pemerintah. Sumber pembiayaan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah (propinsi dan kabupaten/kota) berasal dari pajak (umum dan penjualan), deficit financial (pinjaman luar negeri) serta asuransi sosial. Sedang pembiayaan dari sector swasta bersumber dari perusahaan, asuransi kesehatan swasta, sumbangan sosial, pengeluaran rumah tangga serta communan self help.
Setidaknya ada empat skema pengembangan jaminan kesehatan yakni : pertama, jaminan kesehatan penerima bantuan iuran (PBI) dalam SJSN; kedua, pengembangan Jaminan Kesehatan (JK) non PBI sebagai bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN); ketiga, pengembangan jaminan kesehatan berbasis sukarela seperti asuransi kesehatan komersial atau Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) sukarela; keempat, pengembangan jaminan kesehatan sektor informal seperti jaminan kesehatan mikro/microfinancing (dana sehat) dan dana sosial masyarakat.
Dari berbagai pengalaman diberbagai negara, ada tiga model sistem pembiayaan kesehatan bagi rakyatnya yang diberlakukan secara nasional yakni model asuransi kesehatan sosial (Social Health Insurance), model asuransi kesehatan komersial (Commercial/Private Health Insurance), dan model NHS (National Health Services). Model Social Health Insurance berkembang di beberapa Negara Eropa sejak Jerman dibawah Bismarck pada tahun 1882 kemudian ke Negara-negara Asia lainnya yakni Philipina, Korea, Taiwan. Kelebihan sistem ini memungkinkan cakupan 100 persen penduduk dan relatif rendahnya peningkatan biaya pelayanan kesehatan.
Sedangkan model Commercial/Private Health Insurance berkembang di AS. Sistem ini gagal mencapai cakupan 100% penduduk sehingga Bank Dunia merekomendasikan pengembangan model Regulated Health Insurance. Amerika Serikat adalah negara dengan pengeluaran untuk kesehatannya paling tinggi (13,7% GNP) pada tahun 1997 sementara Jepang hanya 7% GNP tetapi derajat kesehatan lebih tinggi Jepang. Indikator umur harapan hidup didapatkan untuk laki-laki 73,8 tahun dan wanita 79,7 tahun di Amerika Serikat sedang di Jepang umur harapan hidup laki-laki 77,6 tahun dan wanita 84,3 tahun. Terakhir model National Health Services dirintis pemerintah Inggris sejak usai perang dunia kedua. Model ini juga membuka peluang cakupan 100% penduduk, namun pembiayaan kesehatan yang dijamin melalui anggaran pemerintah akan menjadi beban yang berat.
Kondisi Indonesia
Jaminan kesehatan sebagai amanah UU SJSN sebagai solusi untuk mengatasi masalah pembiayaan kesehatan yang semakin meningkat. Pengembangan jaminan untuk meniadakan hambatan pembiayaan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terutama kelompok miskin dan rentan. Solusi masalah pembiayaan kesehatan mengarah pada peningkatan pendanaan kesehatan untuk mendukung pembangunan kesehatan. Peningkatan biaya pemeliharaan kesehatan menyulitkan akses sebagian besar masyarakat dalam memenuhi layanan kesehatan. Banyak faktor penyebab meningkatkannya pembiayaan kesehatan seperti penggunaan teknologi kesehatan yang semakin canggih, inflasi, pola penyakit kronik dan degeneratif, dan sebagainya sementara kemampuan penyediaan dana pemerintah maupun masyarakat sangat terbatas.
Arah pencapaian kepesertaan semesta (Universal Coverage) Jaminan Kesehatan pada akhir 2014 telah ditetapkan menurut Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN). Pada RPJMN yang ditetapkan tahun 2010 itu pemerintah telah membuat kebijakan pembiayaan kesehatan terkait target Universal Coverage 2014 ketika 100 persen penduduk terjamin. Salah satu elemen target Universal Coverage, yaitu Jampersal (jaminan kesehatan persalinan). Meski penerapan UU No 40 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) masih belum maksimal diimplementasikan, target tersebut perlu didukung sebagai political will pemerintah dalam menjamin pemenuhan kesehatan masyarakat. Realitas yang ada, baru sekitar 50 persen penduduk yang terjamin asuransi kesehatan atau skema jaminan kesehatan lainnya dan sebagian besar (sekitar 75 persen) dijamin melalui anggaran pemerintah bagi warga miskin.
Anggaran kesehatan Indonesia relatif sangat kecil yakni hanya 1.7 persen dari total belanja pemerintah, baik melalui APBN maupun APBD (Propinsi dan Kabupaten Kota). Padahal UU No 36 tahun 2009 tentang kesehatan mengatur besaran anggaran kesehatan pusat adalah 5 persen dari APBN di luar gaji, sedangkan APBD Propinsi dan Kab/Kota 10 persen di luar gaji, dengan peruntukannya 2/3 untuk pelayanan publik. Meski terlihat kecil, justru ditemukan masih ada sisa anggaran yang tidak terserap di kementrian kesehatan. Kenyataan tersebut mengundang pertanyaan: apakah anggaran kesehatan sudah cukup atau masih kurang?
Masalah efektif dan efisien dari pembiayaan kesehatan adalah hal yang paling penting. Suatu kebijakan pembiayaan kesehatan yang efektif dan efesien, apabila jumlahnya mencukupi untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dengan penyebaran dana sesuai kebutuhan serta pemanfaatan yang diatur secara seksama sehingga tidak terjadi peningkatan biaya yang berlebihan. Dengan demikian, aspek ekonomi dan sosial dari kebijakan pembiayaan kesehatan dapat berdaya guna dan berhasil guna bagi seluruh masyarakat yang membutuhkannya.

1 Oktober 2011 Posted by | Uncategorized | , | Tinggalkan komentar

Ancaman Penyakit Jelang Lebaran

Bulan Ramadhan adalah bulan yang menyehatkan. Puasa merupakan metode detoksifikasi dan penyembuhan paling tua dalam sejarah pengobatan manusia. Namun jelang lebaran dan pasca Ramadhan, perilaku hidup manusia tiba-tiba berubah menjadi tidak sehat seperti kebanyakan mengonsumsi makanan berlemak, bersantan dan pemanis. Paling tragis adalah bahan makanan yang tidak steril dari ancaman bahan kimiawi yang berbahaya bagi tubuh manusia sehingga mengancam kesehatan dalam jangka panjang.
Bahan kimiawi yang paling sering dijumpai institusi pemerintah pengawas makanan (BPOM) adalah Formalin. Formalin adalah nama dagang dari campuran formaldehid, metanol dan air. Formalin memiliki bau yang sangat menyengat dan mudah larut dalam air maupun alkohol. Formalin yang beredar di pasaran mempunyai kadar formaldehid yang bervariasi, antara 20% – 40%.
Jenis bahan makanan yang sering diberi formalin adalah tahu, ikan, bakso, dan mie. Ciri-ciri tahu yang berformalin adalah tidak rusak jika disimpan sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat Celsius), bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es, tekstur tahu terlampau keras, namun tidak padat, ada bau menyengat yang berbau formalin. Demikian pula pada tempe berformalin tidak mudah rusak sampai lima hari jika disimpan pada suhu kamar (25 derajat Celsius), teksturnya sangat kenyal dan ada aroma bau menyengat ketika dimasak. Sementara pada mie berformalin kelihatan lebih mengkilap dibandingkan mie normal dan tidak lengket, tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10 derajat Celsius) serta ada bau menyengat formalin. Sedangkan pada ikan warna insang merah tua bukan merah segar, warna daging ikan putih bersih, tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat Celsius), tidak dirubung lalat dan berbau formalin yang menyengat hidung.
Sifat formalin sangat mudah larut dalam air sehingga bila dicampurkan dengan ikan maka formalin dengan mudah terserap oleh daging ikan. Kemudian, formalin akan mengeluarkan (dehydrating) isi sel daging ikan, dan menggantikannya dengan formaldehid yang lebih kaku. Hasilnya, bentuk ikan mampu bertahan dalam waktu yang lama serta daging ikan tidak akan mengalami pembusukan karena formalin mampu membunuh mikroba.
Banyak produsen makanan yang menggunakan formalin demi mencari keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan kesehatan konsumennya. Harga yang relatif murah dibanding bahan pengawet lain serta mudah didapat dan mudah digunakan membuat produsen makanan memilih formalin. Apalagi formalin dapat membentuk tampilan bahan makanan yang bagus dan teksturnya menjadi kenyal seperti bakso, kerupuk, ikan, tahu, mie dan daging ayam.
Dampak Terhadap Kesehatan
Formalin adalah bahan berbahaya yang bersifat karsinogenik yang merupakan salah satu bahan untuk pengawet mayat. Saat ini belum dapat diketahui seberapa besar kadar konsentrat formalin yang digunakan dalam suatu makanan. Dampak formalin dalam makanan yang dikonsumsi baru akan dirasakan dalam jangka waktu panjang yang menyebabkan berbagai penyakit seperti penyakit kanker dan penyakit berbahaya lainnya. Formalin merupakan cairan tidak berwarna yang digunakan sebagai desinfektan, pembasmi serangga, dan pengawet yang digunakan dalam industri tekstil dan kayu. Jadi, sesungguhnya formalin adalah racun yang sangat berbahaya bagi manusia apabila dijadikan bahan tambahan makanan. Konsentrasi tinggi racun formalin yang terkonsumsi akan mempengaruhi kerja syaraf manusia.
Meski MUI telah mengharamkan dan melarang keras penggunaan formalin untuk mengawetkan makanan karena dapat menyebabkan kesakitan hingga kematian, penyalahgunaan formalin pada makanan tidak berhenti dilakukan beberapa oknum pedagang makanan. MUI telah menjabarkan tiga jenis makanan yang haram dikonsumsi, yakni makanan yang memang haram (seperti daging babi dan daging yang penyembelihannya tanpa menyebut nama Allah), makanan yang mengandung najis, dan makanan yang menyebabkan mudharat. Makanan yang mengandung formalin masuk kategori haram karena bisa menimbulkan kemudharatan, seperti penyakit hingga kematian. Formalin sendiri tidaklah haram selama tidak digunakan untuk mengawetkan makanan. Formalin banyak dimanfaatkan dalam bidang industri kayu lapis dan tekstil. Formalin juga sering digunakan untuk penyemprotan kandang ternak unggas karena kemampuan desinfektannya.
Penggunaan formalin sudah berlangsung sejak lama diberbagai wilayah kota (supermarket atau hypermarket) dan desa (pasar tradisional) tetapi selalu luput dari pantauan penggunaannya oleh pemerintah. Keterbatasan aparat pemerintah bidang pengawasan makanan menyebabkan penggunaan formalin tidak terkontrol. Kontrol dari pemerintah atas peredaran zat berbahaya tersebut bisa berupa larangan peredaran barang agar tidak dijual bebas. Sekalipun pemerintah telah melarang penggunaannya, tetapi ketiadaan sanksi yang tegas dan jerat hukum bagi pelaku penyalahgunaan menyebabkan penyalahgunaan formalin tetap terjadi dimana-mana. Sebenarnya negara kita telah memiliki perangkat peraturan perundang-undangan yang melarang penggunaan formalin sebagai pengawet makanan seperti Undang-Undang No 7/1996 tentang Pangan dan UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, Peraturan Menteri Kesehatan No 722/1988, Peraturan Menteri Kesehatan No. 1168/Menkes/PER/X/1999, namun tumpul dalam penegakannya.
Sebuah penelitian mengidentifikasi beberapa pengaruh formalin terhadap kesehatan sebagai berikut: jika terhirup akan menyebabkan rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan, sukar bernafas, nafas pendek, sakit kepala, dan dapat menyebabkan kanker paru-paru; Jika terkena kulit akan menyebabkan kemerahan pada kulit, gatal, dan kulit seperti terbakar; Jika terkena mata akan menyebabkan mata memerah, gatal, berair, kerusakan mata, pandangan kabur, bahkan kebutaan; Jika tertelan akan menyebabkan mual, muntah-muntah, perut terasa perih, diare, sakit kepala, pusing, gangguan jantung, kerusakan hati, kerusakan saraf, kulit membiru, hilangnya pandangan, kejang, bahkan koma dan kematian.
Efek formalin bagi kesehatan dalam jangka pendek dapat menimbulkan muntah darah, diare bercampur darah, kencing darah, dan menimbulkan kematian apabila mengonsumsi formalin dalam dosis tinggi. Formalin dalam dosis tinggi dapat mengiritasi lambung. Hal ini dapat terjadi pada seseorang yang tidak sengaja meminum formalin atau seseorang yang hendak bunuh diri dengan menenggak formalin. Sedangkan efek dalam jangka waktu panjang adalah penyakit kanker. Meski kanker baru terjadi dalam jangka waktu lama, tetapi penyakit ini sangat menyiksa dan mengakibatkan kematian. Akibat mengonsumsi makanan mengandung formalin yang mengakibatkan keracunan formalin kronis, penyebab kanker.
Guna mengurangi dampak negatif penyalahgunaan formalin dan zat berbahaya lainnya pada konsumen kesehatan, maka pihak pemerintah perlu secara rutin melakukan pengawasan terhadap peredaran formalin dengan melakukan pengecekan secara rutin sasaran penjualan distributor bahan kimia tersebut. Pengawasan yang lebih ketat oleh pemerintah diharapkan dapat menekan praktek penyalahgunaan formalin.
Pemerintah juga perlu melakukan edukasi publik terus menerus kepada masyarakat agar sikap kritis muncul pada sebagian besar masyarakat sehingga bisa bertindak secara mandiri dalam memilih makanan sehat. Masyarakat perlu dijadikan target sosialisasi tentang fungsi dan dampak dari formalin yang banyak beredar di pasar. Apabila masyarakat mengerti ciri-ciri makanan berformalin maka dapat mengambil keputusan sendiri dengan cara menghindari membeli dan mengkonsumsi makanan berformalin.
Masyarakat pun diharapkan bertindak proaktif dengan cara melaporkan setiap makanan berformalin yang ditemukannya kepada pihak berwenang. Dengan cara seperti itu, masyarakat membantu pemerintah dan aparat hukum dalam memberantas penyalahgunaan formalin untuk makanan dan bahan makanan. Apabila masyarakat dapat bertindak pro-aktif, maka makanan yang tersaji diatas meja makan kita pada saat lebaran nanti dapat terbebas dari formalin.

4 September 2011 Posted by | Uncategorized | , , , | Tinggalkan komentar

Mengenal Dana Bantuan Operasional Kesehatan

Kebijakan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) mulai direalisasikan sejak pertengahan tahun 2010 untuk membantu Puskesmas dan jaringannya serta Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) dalam melaksanakan pelayanan kesehatan promotif dan preventif sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) menuju Millenium Development Goals (MDGs). Peluncuran skema BOK karena dinilai fungsi Puskesmas belum berjalan optimal seperti fungsi Puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan perorangan primer, pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer, fungsi pusat pemberdayaan masyarakat dan fungsi pusat pembangunan wilayah berwawasan kesehatan.
Pemilihan sasaran dana BOK pada Puskesmas karena Puskesmas mempunyai peran yang sangat besar dalam membangun kesehatan masyarakat. Peran tersebut terlihat dari keberhasilan puskesmas membantu pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan balita, memperbaiki status gizi bayi dan balita, serta menurunkan kejadian penyakit-penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi. Oleh karena itu pemerintah bermaksud meningkatkan peran puskesmas melalui upaya merevitalisasinya yaitu menjadikan puskesmas sebagai pusat pemberdayaan wilayah berwawasan kesehatan, sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, sebagai pusat layanan kesehatan primer, dan sebagai pusat layanan kesehatan peorangan primer.
Dana BOK dimanfaatkan sepenuhnya secara langsung oleh Puskesmas untuk pelayanan kesehatan masyarakat dan tidak dijadikan sumber pendapatan daerah sehingga tidak boleh disetorkan ke kas daerah. Pemanfaatan dana BOK harus berdasarkan hasil perencanaan yang disepakati dalam Lokakarya Mini Puskesmas yang diselenggarakan secara rutin (periodik bulanan/triwulanan). Satuan biaya setiap jenis kegiatan pelayanan kesehatan yang dibiayai BOK mengacu pada ketentuan Peraturan Daerah (Perda). Jika belum terdapat Perda yang mengatur hal itu, maka satuan biaya tersebut ditetapkan melalui Peraturan Bupati/Walikota atas usulan Dinas Kesehatan Kabupaten/kota. Pelaksanaan kegiatan di Puskesmas berpedoman pada prinsip keterpaduan, kewilayahan, efisien, dan efektif.
Tujuan umum dari BOK adalah untuk meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan kesehatan masyarakat melalui kegiatan promotif dan preventif untuk mewujudkan pencapaian target SPM bidang kesehatan dan MDGs pada tahun 2015. Secara khusus, tujuan BOK ada tiga yakni: (1) memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif kepada masyarakat; (2) menyediakan dukungan biaya untuk upaya kesehatan yang bersifat promotif dan preventif bagi masyarakat; (3) mendukung terselenggaranya proses Lokakarya Mini di Puskesmas dalam perencanaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Ada tiga kelompok besar alokasi pemakaian dana BOK di Puskesmas & jaringannya serta UKBM yakni upaya kesehatan, penyelenggaraan manajemen Puskesmas, serta upaya dukungan untuk keberhasilannya. Upaya kesehatan wajib yang dapat dibiayai dari dana BOK mencakup upaya-upaya kesehatan promotif dan preventif yang meliputi: Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan Keluarga Berencana (KB), Imunisasi, Gizi, Promosi kesehatan, Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Pemanfaatan dana BOK ini sebesar 10 persen (maksimal) untuk manajemen kabupaten atau kota, sedangkan 90 persennya untuk dana BOK Puskesmas yang digunakan untuk operasional Puskesmas (85 persen) dan pemeliharaan ringan Puskesmas (5 persen).
Bila dijabarkan lebih lanjut, jenis pelayanan kesehatan ibu dan anak berupa pemeriksaan kehamilan, pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten, pelayanan nifas, pelayanan kesehatan neonatus, pelayanan kesehatan bayi, Pelayanan kesehatan balita, Upaya kesehatan anak sekolah, Pelayanan KB, Pencegahan dan penanganan kekerasan, dan Upaya kesehatan reproduksi remaja. Jenis pelayanan Imunisasi meliputi kegiatan: Pendataan, Pelayanan di Posyandu, Pelayanan di sekolah (Bulan Imunisasi Anak Sekolah), Sweeping/kunjungan rumah/Back Log Fighting, penyuluhan, pengambilan vaksin dan logistik lainnya, serta pelacakan kasus diduga Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).
Sementara jenis pelayanan gizi meliputi perbaikan gizi dan penanggulangan gizi kurang dan gizi buruk serta Ibu Hamil KEK. Beberapa kegiatan pelayanan gizi meliputi: operasional Posyandu (pemantauan penimbangan balita, pemberian vitamin A untuk Balita), surveilans dan pelacakan gizi buruk, sweeping/kunjungan rumah, penyuluhan gizi, pemantauan garam beryodium, PMT Penyuluhan, penggerakkan Kadarzi, penggerakkan ASI Eksklusif serta kunjungan/ pendampingan bagi penderita gizi kurang/buruk.
Jenis pelayanan Promosi Kesehatan meliputi dua jenis pelayanan yakni Rumah tangga yang menerapkan PHBS,serta Pembinaan Desa Siaga dan UKBM. Kegiatan-kegiatan berupa pendataan, penyuluhan kelompok, pembinaan gerakan masyarakat, pembinaan Forum Masyarakat Desa (menjamin terlaksananya Survey Mawas Diri (SMD) dan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD), pembinaan terhadap Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM), dan pemantauan.
Jenis pelayanan Pengendalian Penyakit meliputi pelayanan penemuan kasus penyakit dan tata laksana, Penyelidikan epidemiologi KLB, Pelacakan kasus kontak, Penyelidikan vector, dan pemberantasan vector. Beberapa kegiatan pelayanan pengendalian penyakit dijabarkan sebagai berikut: pelayanan di Posyandu, kunjungan rumah, pelacakan di lapangan, kunjungan drop out obat, penyuluhan, penemuan kasus non Polio Acute Flaccid Paralysis (AFP), dan pengambilan spesimen.
Jenis pelayanan kesehatan lingkungan ada dua yakni (1) pelayanan pemeriksaan air bersih dan kualitas air minum; (2) pemeriksaan sanitasi dasar seperti jamban sehat, rumah sehat, Tempat-Tempat Umum (TTU), tempat pengolah makanan, dan sekolah. Kegiatan yang tercakup dalam pelayanan kesehatan lingkungan adalah pendataan, penyuluhan, pemantauan dan kunjungan lapangan.
Penggunaan Dana BOK dapat dimanfaatkan untuk : transport petugas kesehatan/kader kesehatan, bahan penyuluhan/bahan kontak, penggandaan materi rapat dalam rangka Lokakarya Mini, konsumsi rapat dalam rangka Lokakarya Mini, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Penyuluhan dan PMT pemulihan dengan bahan lokal, uang penginapan (untuk desa terpencil/sulit dijangkau), uang harian (untuk desa terpencil/sulit dijangkau). Pengecualian dana BOK tidak boleh digunakan untuk: upaya pengobatan dan rehabilitasi, penanganan gawat darurat, rawat inap, pertolongan persalinan, gaji/honor, investasi/belanja modal, pemeliharaan gedung atau kendaraan, operasional kantor (misal: listrik, air, Alat Tulis Kantor (ATK), fotokopi), serta pengadaan obat, vaksin dan alat kesehatan.
Pengawasan penggunaan dana BOK dilakukan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan dan BPK. Karena itu, setiap Puskesmas harus membuat laporan penggunaan uang atau pertanggung jawaban ke tingkat kabupaten, sambil melakukan evaluasi secara spesifik, untuk memilih beberapa Puskesmas yang dinilai bisa mewakili regional tertentu.
Dana BOK bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Kementerian Kesehatan RI. Bantuan dana dari pemerintah melalui Kementerian kesehatan dalam membantu pemerintahan kabupaten/kota untuk melaksanakan pelayanan kesehatan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) kesehatan menuju MDGs. Besarnya alokasi dana BOK per Kabupaten/Kota ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan. Selanjutnya Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota akan menetapkan alokasi dana BOK per Puskesmas di daerahnya. Dana BOK merupakan dukungan Pemerintah, bukan merupakan dana utama operasional Puskesmas. Oleh karena itu Pemerintah Daerah tetap berkewajiban menyediakan dana operasional yang tidak terbiayai melalui BOK melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
BOK pada dasarnya merupakan subsidi pemerintah pada sektor kesehatan. Subsidi ini ditujukan untuk membiayai operasional pelayanan kesehatan yang selama ini masih dirasa kurang memadai. BOK ini akan diperuntukkan guna meningkatkan pelayanan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) agar kesenjangan pelayanan kesehatan antara puskesmas dan rumah sakit terutama pelayanan preventif kesehatan semakin tipis. Peruntukan dana BOK bukan untuk pengadaan barang/jasa, melainkan untuk operasional saja, misalnya operasional audit maternal perinatal, pemantauan wilayah setempat untuk gizi dan kesehatan ibu anak, imunisasi, rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat, penanganan penyakit MDGs seperti HIV/AIDS, tuberculosis, malaria, serta kesehatan lingkungan, promosi kesehatan, pencegahan penyakit dan pembinaan kesehatan berbasis masyarakat. Operasional puskesmas meliputi seluruh kegiatan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelaksanaan program yang direncanakan. Tiap puskesmas harus membuat perencanaan kegiatan rutin bulanan dan tahunan serta menetapkan target program yang hendak dicapai dalam jangka waktu tertentu. Selain itu, pelaksanaan program yang direncanakan juga akan dievaluasi keberhasilannya dengan melihat capaian indikator keberhasilan program. Dengan bantuan dan berbagai mekanisme ini, diharapkan dapat menghidupkan kembali peran puskesmas dan posyandu.
Berdasarkan surat keputusan Menteri Kesehatan Nomor 551/2010 tertanggal 5 Mei 2010, pada tahun 2010 setiap puskesmas mendapat Rp 10 juta dari sekitar 8.500 puskesmas. Pengecualian bagi puskesmas yang berada sekitar 300 puskesmas di tujuh kabupaten yang ada di wilayah Jawa, Bali. Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Maluku, dan Papua, pemerintah akan memberikan bantuan operasional kesehatan Rp 100 juta. Puskesmas-puskesmas di tujuh wilayah tersebut dijadikan uji coba untuk mengetahui berapa banyak dana operasional yang dibutuhkan puskesmas agar kegiatannya optimal. Pada tahun 2011-2014, pemerintah akan berupaya untuk memberikan BOK bagi seluruh puskesmas secara bertahap sesuai kebutuhannya.
Pada tahun 2010, jumlah dana BOK yang disalurkan sebesar Rp 226 miliar pada 8737 unit puskesmas. Pada tahun 2011 meningkat menjadi Rp 904,5 miliar yang disalurkan langsung kepada pemerintah daerah pada bulan Februari untuk selanjutnya dibagi pada tiap-tiap puskesmas. Besaran alokasi tiap puskesmas diserahkan pada Kabupaten/Kota. Saat ini jumlah puskesmas yang ada di seluruh wilayah Indonesia sebanyak 8967 unit.
Dana BOK tahun 2011, seluruh Puskesmas di Indonesia mendapatkan dana Bantuan Operasional Kesehatan atau BOK untuk menunjang akses pelayanan kesehatan. Dana BOK yang diterima itu berkisar Rp 75-250 juta. Dana BOK tidak lagi langsung diberikan ke puskesmas tapi dikelola Dinkes kabupaten dan kota yang disesuaikan kondisinya. Pada akhir bulan Februari 2011, dana tersebut sudah berada di pemkab atau pemkot. Sosialisasi keberadaan BOK di Kabupaten dan Kota dengan menggunakan dana yang ada. Kemudian persentase pemanfaatan dana BOK ini adalah 10 persennya diperuntukan manajemen kesehatan di kabupaten atau kota, dan 90 persennya diperuntukan kebutuhan Puskesmas dengan pembagian operasional Puskesmas dengan proporsi 85 persen dan pemeliharaan ringan Puskesmas sebesar 5 persen.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Litbang Depkes didapatkan alokasi dana BOK untuk tahun 2011 mengalami peningkatan yaitu: (1) Sumatera ada sekitar 2.271 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 75 juta; (2) Jawa-Bali ada sekitar 3.617 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 75 juta; (3) Kalimantan ada sekitar 836 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 100 juta; (4) Sulawesi ada sekitar 1.126 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 100 juta; (5) Maluku ada sekitar 256 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 200 juta; (6) Nusa Tenggara ada sekitar 458 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 250 juta; dan (7) Papua ada sekitar 403 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 250 juta.
Pada sejumlah Puskesmas masih diliputi rasa takut menggunakan dana BOK. Padahal Kementerian Kesehatan telah memberikan kelonggaran pemanfaatannya sesuai dengan petunjuk teknis BOK. Misalnya apabila dana bantuan (BOK) habis sebelum waktunya, Kementerian Kesehatan memperbolehkan Puskesmas menggunakan dana Jaminan Kesehatan Masyarakat untuk digunakan pada pencegahan sekunder dan manajemen.

15 Agustus 2011 Posted by | Uncategorized | , , , | Tinggalkan komentar

Puasa Dapat Menyembuhkan Penyakit Maag

Benarkah puasa dapat menyebuhkan penyakit maag atau gastritis? Bukankah orang berpenyakit maag justru enggan berpuasa karena takut sakit maagnya kambuh kembali? Mungkin sederet pertanyaan demikian yang sering muncul dibenak apabila dikaitkan puasa dengan penyakit maag. Namun pada beberapa kasus, penderita sakit maag justru tidak membutuhkan obat-obatan untuk mengatasi sakit maag ketika melaksanakan puasa Ramadhan karena dengan berpuasa membuat pencernaan lebih sehat.
Fakta bahwa puasa menyembuhkan penyakit maag sebagaimana dilansir sebuah penelitian yang dilakukan seorang pakar kesehatan. Hasil penelitian itu menyebutkan bahwa pada minggu pertama puasa orang normal akan mengalami peningkatan asam lambung setelah siang hari dan kadang-kadang keadaan ini menimbulkan rasa perih. Kondisi tersebut berangsur stabil setelah minggu kedua dan naik turun asam lambung akan kembali normal 1 minggu paska puasa Ramadhan. Adanya peningkatan asam lambung ini tidak akan merusak dinding lambung bagi orang yang berpuasa. Bagi penderita sakit maag, dianjurkan untuk berpuasa karena puasa akan menyembuhkan sakit maagnya.
Penyakit maag terjadi akibat adanya gangguan pada lambung akibat tingginya kadar asam dalam lambung yang mengakibatkan luka. Tingginya kadar asam lambung disebabkan oleh produksi asam yang berlebihan sedangkan proses penghancuran asam berjalan lambat. Kadar asam yang tinggi dipicu oleh adanya kelainan saraf atau infeksi bakteri. Gejalanya merupakan kumpulan dari beberapa gejala seperti nyeri di ulu hati, mual, muntah, lemas, perut kembung, dan perut terasa penuh. Gangguan pada lambung terkait karena tingkat keasaman (pH) pada lambung penderita maag bisa sampai 1 pH (sangat asam) sementara pada orang sehat umumnya sekitar 4-5 (pH). Penyakit maag kronis bisa mengakibatkan komplikasi berupa iritasi atau luka pada lambung pada satu atau banyak tempat sekaligus. Luka ini menyebabkan rasa perih sebelum atau sesudah makan.
Sakit maag didahului dengan adanya gangguan pada lambung. Terjadinya gangguan pada lambung akibat tingginya kadar asam dari jenis makanan yang dikonsumsi, selain faktor keterlambatan makan atau faktor stress. Jamie Koufman, MD, dan Jordan Stern, MD, penulis buku In Dropping Acid: The Reflux Diet Cookbook & Cure, menyebutkan beberapa jenis makanan yang berpotensi meningkatkan asam lambung seperti cokelat, minuman bersoda, makanan yang digoreng, minuman beralkohol, produk olahan susu yang tinggi lemak, daging berlemak dan kafein.
Gejala penyakit maag biasanya berupa sakit perut yang hebat, kembung, panas, sering bersendawa, nafsu makan berkurang, sering muntah, tubuh lemah, dan terkadang terjadi diare kronis. Gejala lainnya adalah gangguan fungsi lambung berupa feses (tinja) mengeras lantaran pencernaan kurang baik. Dalam keadaan kronis, gangguan ini dapat menyebabkan perdarahan yang menyebabkan darah atau tinja berwarna hitam.
Beberapa ahli penyakit dalam memperbolehkan penderita sakit maaf berpuasa dengan catatan sakit maag yang dideritanya sebatas gangguan fungsional saja. Gangguan fungsional yang dimaksud biasanya terkait dengan ketidakteraturan waktu makan atau konsumsi makanan yang pedas atau berlemak sepanjang hari. Dengan berpuasa, maka jadwal makan lebih teratur selama dua kali pada saat sahur dan berbuka puasa. Karena itu penderita sakit maag fungsional dapat berkurang sakit maag yang dideritanya dengan berpuasa.
Menurut Dr dr Ari Fahrial SYAM SpPD-KGEH, (spesialis penyakit dalam RSUP Cipto Mangunkusumo) secara garis besar sakit maag dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu sakit maag fungsional dan sakit maag organik. Pada penderita sakit maag fungsional, diketahui apabila pada pemeriksaan dengan endoskopi (teropong saluran pencernaan atas) tidak didapatkan kelainan secara anatomi. Sementara pada maag organik, biasanya didapatkan kelainan secara anatomi, misalnya luka dalam atau luka lecet pada kerongkongan, lambung, usus dua belas jari, serta kanker pada organ pencernaan tersebut. Khusus pada penderita sakit maag organik yang belum diobati terutama jika mengalami gejala seperti berat badan turun, anemia/pucat, muntah darah, BAB hitam, dan tidak bisa menelan, tidak dianjurkan untuk melakukan puasa.
Sedang Prof Dr Made Astawan membagi dua jenis kelainan pada maag yang dapat menyebabkan penyakit adalah dispepsia fungsional dan organik. Dispepsia fungsional hanya ditandai oleh kelainan minimal, seperti kemerahan pada alat pencernaan. Kelainan organik memiliki gejala-gejala yang lebih parah, yaitu berupa luka dalam di lambung, usus besar, atau kerongkongan. Pada tahap yang lebih akut, kelainan organik terkadang juga disertai polip serta tanda-tanda keganasan. Tingkat keparahan maag tidak dapat dideteksi hanya dengan mengamati gejalanya. Hal ini disebabkan oleh sensitivitas dan psikis yang dimiliki setiap orang berbeda. Ada beberapa orang yang lambungnya hanya kemerahan sedikit saja, tapi merasakan sakit yang luar biasa. Sebaliknya, ada yang tetap dapat bekerja dan menjalankan aktivitasnya seperti biasa, padahal lambungnya telah terluka parah.
Penyakit maag banyak terkena pada tingkat usia produktif. Merujuk pada hasil survei yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), sekitar 60 persen penduduk Jakarta yang termasuk dalam usia produktif sudah terkena maag. Sementara 27 persen yang mengidap sakit maag adalah anak-anak. tingginya angka kejadian penyakit maag pada anak-anak muda karena persepsi masyarakat yang masih menganggap sepele risiko penyakit maag meski dapat menggganggu produktifitas bekerja dan aktifitas belajar.
Faktor Risiko
Disiplin ilmu kesehatan masyarakat mengidentifikasi beberapa faktor risiko yang menyebabkan terjadinya sakit maag. Faktor risiko penyakit maag adalah pola makan yang tidak teratur, stres berat, konsumsi alkohol, dan minum kopi berlebihan. Karena itu, seseorang yang sudah terkena penyakit maag, maka pantang baginya mengonsumsi makanan yang pedas, asam, bersantan, serat tinggi, dan daging kambing karena dapat meningkatkan produksi asam lambung.
Stres berat dapat menyebabkan penyakit maag karena dapat mendorong lambung menghasilkan asam secara berlebihan. Sakit maag juga disebabkan makan tidak teratur atau sering terlambat makan, sering mengonsumsi minuman beralkohol atau berkafein. Kesemuanya itu menyebabkan gangguan fungsi lambung. Untuk mengatasinya, biasanya dokter akan meresepkan obat anti gangguan lambung berupa antasida dan magasida yang sifatnya meringankan serangan sakit maag tapi tidak menghilangkan penyebab gangguan fungsi lambung. Namun bila konsumsi obat-obatan terus-menerus dapat memicu munculnya batu pada saluran kemih.
Lambung memproduksi asam lambung secara teratur untuk membantu mencerna makanan. Prinsip pola makan teratur dapat mengurangi gangguan lambung sambil mengurangi asupan lemak, dan rutin berolahraga. Jadwal makan yang tidak teratur menyebabkan lambung sulit beradaptasi sehingga mengakibatkan terjadi iritasi dinding mukosa pada lambung. Ketika tubuh membutuhkan asupan makanan, maka produksi asam lambung akan meningkat. Jika asam lambung terproduksi secara berlebih maka akan menyebabkan masalah serius pada lambung. Jenis makanan yang patut dikurangi adalah makanan yang merangsang asam lambung, seperti durian, kopi, keju, makanan yang terlalu pedas, dan yang banyak mengandung gas.
Sebenarnya ada cara alami mengatasi gangguan sakit lambung dengan cara mengonsumsi cumi-cumi atau ikan mas atau produk makanan yang mengandung keduanya. Cangkok cumi-cumi mengandung kalsium fosfat, kalium karbonat, dan natrium karbonat yang berfungsi untuk meredakan gangguan lambung. Namun tidak semua cangkok cumi-cumi dapat dipakai, hanya yang berwarna putih dan cangkok yang besar, bukan yang berwarna kekuning-kuningan atau kebiru-biruan. Dalam pengobatan tradisional China (TCM), cangkok cumi-cumi disebut ha pian siau.
Al Quran mengajarkan untuk makan hanya pada saat lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Lihat Surat Al A’raf ayat 31 yang berbunyi, “Makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” Bulan Ramadhan adalah bulan penyembuhan bagi penderita penyakit maag karena nafsu makan terkendalikan. Jadwal makan jadi teratur dan nafsu makan dibatasi oleh waktu yakni hanya pada malam hari sehingga nafsu ingin makan berlebihan disiang hari tidak terpenuhi. Ajaran Islam memang menganjurkan untuk mengendalikan makan agar sehat dengan membagi atas tiga isi perut: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiganya untuk bernafas. (Dimuat harian FAJAR, Makassar, Senin, 1 Agustus 2011).

1 Agustus 2011 Posted by | Uncategorized | , , , , | Tinggalkan komentar

Mengenal Dana Bantuan Operasional Kesehatan

Kebijakan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) mulai direalisasikan sejak pertengahan tahun 2010 untuk membantu Puskesmas dan jaringannya serta Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) dalam melaksanakan pelayanan kesehatan promotif dan preventif sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) menuju Millenium Development Goals (MDGs). Peluncuran skema BOK karena dinilai fungsi Puskesmas belum berjalan optimal seperti fungsi Puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan perorangan primer, pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer, fungsi pusat pemberdayaan masyarakat dan fungsi pusat pembangunan wilayah berwawasan kesehatan.
Pemilihan sasaran dana BOK pada Puskesmas karena Puskesmas mempunyai peran yang sangat besar dalam membangun kesehatan masyarakat. Peran tersebut terlihat dari keberhasilan puskesmas membantu pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan balita, memperbaiki status gizi bayi dan balita, serta menurunkan kejadian penyakit-penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi. Oleh karena itu pemerintah bermaksud meningkatkan peran puskesmas melalui upaya merevitalisasinya yaitu menjadikan puskesmas sebagai pusat pemberdayaan wilayah berwawasan kesehatan, sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, sebagai pusat layanan kesehatan primer, dan sebagai pusat layanan kesehatan peorangan primer.
Dana BOK dimanfaatkan sepenuhnya secara langsung oleh Puskesmas untuk pelayanan kesehatan masyarakat dan tidak dijadikan sumber pendapatan daerah sehingga tidak boleh disetorkan ke kas daerah. Pemanfaatan dana BOK harus berdasarkan hasil perencanaan yang disepakati dalam Lokakarya Mini Puskesmas yang diselenggarakan secara rutin (periodik bulanan/triwulanan). Satuan biaya setiap jenis kegiatan pelayanan kesehatan yang dibiayai BOK mengacu pada ketentuan Peraturan Daerah (Perda). Jika belum terdapat Perda yang mengatur hal itu, maka satuan biaya tersebut ditetapkan melalui Peraturan Bupati/Walikota atas usulan Dinas Kesehatan Kabupaten/kota. Pelaksanaan kegiatan di Puskesmas berpedoman pada prinsip keterpaduan, kewilayahan, efisien, dan efektif.
Tujuan umum dari BOK adalah untuk meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan kesehatan masyarakat melalui kegiatan promotif dan preventif untuk mewujudkan pencapaian target SPM bidang kesehatan dan MDGs pada tahun 2015. Secara khusus, tujuan BOK ada tiga yakni: (1) memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif kepada masyarakat; (2) menyediakan dukungan biaya untuk upaya kesehatan yang bersifat promotif dan preventif bagi masyarakat; (3) mendukung terselenggaranya proses Lokakarya Mini di Puskesmas dalam perencanaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Ada tiga kelompok besar alokasi pemakaian dana BOK di Puskesmas & jaringannya serta UKBM yakni upaya kesehatan, penyelenggaraan manajemen Puskesmas, serta upaya dukungan untuk keberhasilannya. Upaya kesehatan wajib yang dapat dibiayai dari dana BOK mencakup upaya-upaya kesehatan promotif dan preventif yang meliputi: Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan Keluarga Berencana (KB), Imunisasi, Gizi, Promosi kesehatan, Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Pemanfaatan dana BOK ini sebesar 10 persen (maksimal) untuk manajemen kabupaten atau kota, sedangkan 90 persennya untuk dana BOK Puskesmas yang digunakan untuk operasional Puskesmas (85 persen) dan pemeliharaan ringan Puskesmas (5 persen).
Bila dijabarkan lebih lanjut, jenis pelayanan kesehatan ibu dan anak berupa pemeriksaan kehamilan, pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten, pelayanan nifas, pelayanan kesehatan neonatus, pelayanan kesehatan bayi, Pelayanan kesehatan balita, Upaya kesehatan anak sekolah, Pelayanan KB, Pencegahan dan penanganan kekerasan, dan Upaya kesehatan reproduksi remaja. Jenis pelayanan Imunisasi meliputi kegiatan: Pendataan, Pelayanan di Posyandu, Pelayanan di sekolah (Bulan Imunisasi Anak Sekolah), Sweeping/kunjungan rumah/Back Log Fighting, penyuluhan, pengambilan vaksin dan logistik lainnya, serta pelacakan kasus diduga Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).
Sementara jenis pelayanan gizi meliputi perbaikan gizi dan penanggulangan gizi kurang dan gizi buruk serta Ibu Hamil KEK. Beberapa kegiatan pelayanan gizi meliputi: operasional Posyandu (pemantauan penimbangan balita, pemberian vitamin A untuk Balita), surveilans dan pelacakan gizi buruk, sweeping/kunjungan rumah, penyuluhan gizi, pemantauan garam beryodium, PMT Penyuluhan, penggerakkan Kadarzi, penggerakkan ASI Eksklusif serta kunjungan/ pendampingan bagi penderita gizi kurang/buruk.
Jenis pelayanan Promosi Kesehatan meliputi dua jenis pelayanan yakni Rumah tangga yang menerapkan PHBS,serta Pembinaan Desa Siaga dan UKBM. Kegiatan-kegiatan berupa pendataan, penyuluhan kelompok, pembinaan gerakan masyarakat, pembinaan Forum Masyarakat Desa (menjamin terlaksananya Survey Mawas Diri (SMD) dan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD), pembinaan terhadap Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM), dan pemantauan.
Jenis pelayanan Pengendalian Penyakit meliputi pelayanan penemuan kasus penyakit dan tata laksana, Penyelidikan epidemiologi KLB, Pelacakan kasus kontak, Penyelidikan vector, dan pemberantasan vector. Beberapa kegiatan pelayanan pengendalian penyakit dijabarkan sebagai berikut: pelayanan di Posyandu, kunjungan rumah, pelacakan di lapangan, kunjungan drop out obat, penyuluhan, penemuan kasus non Polio Acute Flaccid Paralysis (AFP), dan pengambilan spesimen.
Jenis pelayanan kesehatan lingkungan ada dua yakni (1) pelayanan pemeriksaan air bersih dan kualitas air minum; (2) pemeriksaan sanitasi dasar seperti jamban sehat, rumah sehat, Tempat-Tempat Umum (TTU), tempat pengolah makanan, dan sekolah. Kegiatan yang tercakup dalam pelayanan kesehatan lingkungan adalah pendataan, penyuluhan, pemantauan dan kunjungan lapangan.
Penggunaan Dana BOK dapat dimanfaatkan untuk : transport petugas kesehatan/kader kesehatan, bahan penyuluhan/bahan kontak, penggandaan materi rapat dalam rangka Lokakarya Mini, konsumsi rapat dalam rangka Lokakarya Mini, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Penyuluhan dan PMT pemulihan dengan bahan lokal, uang penginapan (untuk desa terpencil/sulit dijangkau), uang harian (untuk desa terpencil/sulit dijangkau). Pengecualian dana BOK tidak boleh digunakan untuk: upaya pengobatan dan rehabilitasi, penanganan gawat darurat, rawat inap, pertolongan persalinan, gaji/honor, investasi/belanja modal, pemeliharaan gedung atau kendaraan, operasional kantor (misal: listrik, air, Alat Tulis Kantor (ATK), fotokopi), serta pengadaan obat, vaksin dan alat kesehatan.
Pengawasan penggunaan dana BOK dilakukan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan dan BPK. Karena itu, setiap Puskesmas harus membuat laporan penggunaan uang atau pertanggung jawaban ke tingkat kabupaten, sambil melakukan evaluasi secara spesifik, untuk memilih beberapa Puskesmas yang dinilai bisa mewakili regional tertentu.
Dana BOK bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Kementerian Kesehatan RI. Bantuan dana dari pemerintah melalui Kementerian kesehatan dalam membantu pemerintahan kabupaten/kota untuk melaksanakan pelayanan kesehatan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) kesehatan menuju MDGs. Besarnya alokasi dana BOK per Kabupaten/Kota ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan. Selanjutnya Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota akan menetapkan alokasi dana BOK per Puskesmas di daerahnya. Dana BOK merupakan dukungan Pemerintah, bukan merupakan dana utama operasional Puskesmas. Oleh karena itu Pemerintah Daerah tetap berkewajiban menyediakan dana operasional yang tidak terbiayai melalui BOK melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
BOK pada dasarnya merupakan subsidi pemerintah pada sektor kesehatan. Subsidi ini ditujukan untuk membiayai operasional pelayanan kesehatan yang selama ini masih dirasa kurang memadai. BOK ini akan diperuntukkan guna meningkatkan pelayanan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) agar kesenjangan pelayanan kesehatan antara puskesmas dan rumah sakit terutama pelayanan preventif kesehatan semakin tipis. Peruntukan dana BOK bukan untuk pengadaan barang/jasa, melainkan untuk operasional saja, misalnya operasional audit maternal perinatal, pemantauan wilayah setempat untuk gizi dan kesehatan ibu anak, imunisasi, rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat, penanganan penyakit MDGs seperti HIV/AIDS, tuberculosis, malaria, serta kesehatan lingkungan, promosi kesehatan, pencegahan penyakit dan pembinaan kesehatan berbasis masyarakat. Operasional puskesmas meliputi seluruh kegiatan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelaksanaan program yang direncanakan. Tiap puskesmas harus membuat perencanaan kegiatan rutin bulanan dan tahunan serta menetapkan target program yang hendak dicapai dalam jangka waktu tertentu. Selain itu, pelaksanaan program yang direncanakan juga akan dievaluasi keberhasilannya dengan melihat capaian indikator keberhasilan program. Dengan bantuan dan berbagai mekanisme ini, diharapkan dapat menghidupkan kembali peran puskesmas dan posyandu.
Berdasarkan surat keputusan Menteri Kesehatan Nomor 551/2010 tertanggal 5 Mei 2010, pada tahun 2010 setiap puskesmas mendapat Rp 10 juta dari sekitar 8.500 puskesmas. Pengecualian bagi puskesmas yang berada sekitar 300 puskesmas di tujuh kabupaten yang ada di wilayah Jawa, Bali. Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Maluku, dan Papua, pemerintah akan memberikan bantuan operasional kesehatan Rp 100 juta. Puskesmas-puskesmas di tujuh wilayah tersebut dijadikan uji coba untuk mengetahui berapa banyak dana operasional yang dibutuhkan puskesmas agar kegiatannya optimal. Pada tahun 2011-2014, pemerintah akan berupaya untuk memberikan BOK bagi seluruh puskesmas secara bertahap sesuai kebutuhannya.
Pada tahun 2010, jumlah dana BOK yang disalurkan sebesar Rp 226 miliar pada 8737 unit puskesmas. Pada tahun 2011 meningkat menjadi Rp 904,5 miliar yang disalurkan langsung kepada pemerintah daerah pada bulan Februari untuk selanjutnya dibagi pada tiap-tiap puskesmas. Besaran alokasi tiap puskesmas diserahkan pada Kabupaten/Kota. Saat ini jumlah puskesmas yang ada di seluruh wilayah Indonesia sebanyak 8967 unit.
Dana BOK tahun 2011, seluruh Puskesmas di Indonesia mendapatkan dana Bantuan Operasional Kesehatan atau BOK untuk menunjang akses pelayanan kesehatan. Dana BOK yang diterima itu berkisar Rp 75-250 juta. Dana BOK tidak lagi langsung diberikan ke puskesmas tapi dikelola Dinkes kabupaten dan kota yang disesuaikan kondisinya. Pada akhir bulan Februari 2011, dana tersebut sudah berada di pemkab atau pemkot. Sosialisasi keberadaan BOK di Kabupaten dan Kota dengan menggunakan dana yang ada. Kemudian persentase pemanfaatan dana BOK ini adalah 10 persennya diperuntukan manajemen kesehatan di kabupaten atau kota, dan 90 persennya diperuntukan kebutuhan Puskesmas dengan pembagian operasional Puskesmas dengan proporsi 85 persen dan pemeliharaan ringan Puskesmas sebesar 5 persen.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Litbang Depkes didapatkan alokasi dana BOK untuk tahun 2011 mengalami peningkatan yaitu: (1) Sumatera ada sekitar 2.271 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 75 juta; (2) Jawa-Bali ada sekitar 3.617 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 75 juta; (3) Kalimantan ada sekitar 836 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 100 juta; (4) Sulawesi ada sekitar 1.126 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 100 juta; (5) Maluku ada sekitar 256 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 200 juta; (6) Nusa Tenggara ada sekitar 458 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 250 juta; dan (7) Papua ada sekitar 403 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 250 juta.
Pada sejumlah Puskesmas masih diliputi rasa takut menggunakan dana BOK. Padahal Kementerian Kesehatan telah memberikan kelonggaran pemanfaatannya sesuai dengan petunjuk teknis BOK. Misalnya apabila dana bantuan (BOK) habis sebelum waktunya, Kementerian Kesehatan memperbolehkan Puskesmas menggunakan dana Jaminan Kesehatan Masyarakat untuk digunakan pada pencegahan sekunder dan manajemen.

31 Juli 2011 Posted by | Uncategorized | , , , | Tinggalkan komentar

Membaca Al Quran, Menyibak Ilmu Pengetahuan

Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar akan menjadi tuan rumah perhelatan akbar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Mahasiswa Nasional XII berasal dari 99 Perguruan tinggi se-Indonesia pada tanggal 10-15 Juli 2001. Kegiatan MTQ Mahasiswa meliputi berbagai kegiatan utama yaitu Musabaqah Tilawatil Quran, Musabaqah Tartilil Quran, Musabaqah Hifzhil Quran 1 juz dan 2 juz, Musabaqah Qira’ah Sab’ah (warasy dan qalun), Musabaqah Fahmil Quran, Musabaqah Syarhil Quran, Musabaqah Khathil Quran, Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Quran, Musabaqah Debat Ilmiah kandungan Al-Quran dalam bahasa Arab dan Musabaqah Debat Ilmiah Kandungan Al-Quran dalam bahasa Inggris.
Rangkaian kegiatan dalam MTQ Mahasiswa Tingkat Nasional XII sebagaimana tertulis dalam buku panduan sebagai upaya untuk meningkatkan dan mendorong para mahasiswa untuk mencintai Al-Quran, mendorong untuk memahami isinya, dan merealisasikan pemahaman tersebut di dalam kehidupannya. MTQ Mahasiwa Tingkat Nasional ini merupakan momentum yang baik dalam melakukan upaya mendekatkan dan mendidik mahasiswa dan civitas akademika ke arah kehidupan yang mulia. Melalui kegiatan ini diharapkan mahasiswa senantiasa bangga akan nilai-nilai Al-Quran yang digalinya, baik keindahannya maupun nilai ajarannya.
Ayat Qauliyah
Sebenarnya tujuan utama membaca ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) dalam Al Quran adalah untuk mengenal Allah (ma’rifatullah) secara lebih mendalam. Ketika sudah mengenal Allah dengan baik dan mendalam maka semakin bertambah keimanan kita serta meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Swt. Allah Swt berfirman dalam Surat Al-Anfal: 2, “Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, penulis buku “Terapi Penyakit Hati” berkata: “Apabila Anda memperhatikan apa yang diserukan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk direnungkan, hal itu akan mengantarkan kamu pada ilmu tentang Rabb, tentang keesaan-Nya, sifat-sifat keagungan-Nya dan kesempurnaan-Nya, seperti qudrat, ilmu, hikmah, rahmat, ihsan, keadilan, ridha, murka, pahala dan siksa-Nya. Begitulah cara Dia memperkenalkan diri kepada hamba-hamba-Nya dan mengajak mereka untuk merenungi ayat-ayat-Nya.”
Membaca kitab suci Al Quran adalah membaca ayat-ayat qauliyah yakni ayat-ayat yang Allah firmankan dalam kitab-kitab-Nya. Allah Swt telah memerintahkan kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW) “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS Al-‘Alaq: 1-5). Ayat tersebut memerintahkan untuk membaca (iqra’) ayat-ayat qauliyah dalam kitab suci Al Quran dan ayat-ayat kauniyah berupa segenap ciptaan Allah Swt di alam semesta.
Meski diturunkan ratusan tahun yang lalu ketika belum ada penelitian-penelitian ilmiah, sekarang para ilmuwan pengkaji Al-Qur’an telah menemukan beberapa ayat-ayat qauliyah yang memaparkan proses penciptaan manusia, proses penciptaan alam semesta, keadaan langit, bumi, gunung-gunung, laut, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya. Karena itu, adalah kewajiban setiap muslim untuk men-tadabburi Al Quran dengan membacanya sambil berusaha untuk memahami kandungannya dan merenungi maknanya. Allah berfirman dalam QS Muhammad ayat 24: “Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”
Ayat Kauniyah
Selain ayat-ayat qauliyah, dikenal pula ayat-ayat kauniyah yakni ayat-ayat dalam bentuk segala ciptaan Allah Swt seputar alam semesta dan semua yang ada didalamnya seperti angin dan hujan, tentang bumi, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya yang meliputi segala macam ciptaan Allah, baik itu yang kecil (mikrokosmos) ataupun yang besar (makrokosmos). Ayat-ayat qauniyah merupakan kandungan ilmiah dari ayat-ayat qauliyah dalam Al Quran. Tentang ayat-ayat kauniyah, sebagaimana termaktub dalam QS Fushshilat ayat 53: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala penjuru bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
Dalam Al-Qur’an Allah Swt mengajak hamba-hamba-Nya untuk merenungi ayat-ayat kauniyah untuk berpikir dan memperhatikan bukti-bukti kekuasaan dan kemahabesaran Allah Swt. Anjuran untuk memperhatikan ayat-ayat kauniyah juga dalam QS Adz-Dzariyat ayat 20-21: “Dan di bumi terdapat ayat-ayat (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” Pada ayat lainnya surah Al-Ghasyiyah:17-20, Allah berfirman: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan.” Ayat-ayat tersebut memerintahkan untuk mengkaji apa saja yang diciptakan Allah di alam semesta (ath-thabi’ah, nature).
Perintah yang sama untuk memperhatikan alam semesta ciptaan Allah Swt dalam QS Yusuf ayat 109, Allah berfirman: “Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka?” Pada ayat lain surah Ar-Ruum:20: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak”. Perintah Allah Swt sarat mengandung pengkajian tentang sejarah penciptaan manusia dan hal ihwal manusia (at-tarikh wal-basyariyah) di muka bumi ini.
Orang-orang yang berakal (ulul albab) adalah orang-orang yang selalu melakukan tafakkur dan tadabbur terhadap ayat-ayat kauniyah dan qauliyah. Golongan ini adalah insan cendekia yang banyak berhimpun didalam perguruan tinggi sekarang ini. Dalam QS Ali ‘Imran ayat 190 – 191, Allah berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka mentafakkuri (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi (lalu berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Saat ini dikalangan ilmuwan seperti ilmuwan LIPI sedang berkembang penafsiran seputar ayat-ayat yang berkenaan dengan alam yang disebut ayat-ayat kauniyah. Perkembangan ilmu pengetahuan seputar alam terus berkembang sehingga membutuhkan penafsiran-penafsiran baru terhadap ayat-ayat Al Quran. Misalnya penafsiran tentang kata-kata “zarrah” yang diartikan biji sawi. Para ulama menafsirkan zarrah sebagai biji sawi karena benda tersebut yang menggambarkan makna “zarrah”. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, biji sawi tidak lagi dianggap menjadi benda yang terkecil yang dapat mengukur kecilnya zarrah, tetapi ada yang disebut dengan molekul.
Penafsiran baru lainnya adalah surat al-zalzalah ayat 2 yang artinya “Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya.” Para ilmuwan menafsirkan ayat tersebut tentang “beban-beban berat yang dikandungnya” adalah terjadinya gempa bumi, tsunami dan sebagainya karena saat terjadi gempa bumi, tsunami, letusan gunung artinya bumi mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya. Jadi surat al-zalzalah dalam Al Quran bukan hanya tentang hari kiamat tetapi juga berbicara tentang fenomena berupa bencana alam yang dapat terjadi setiap saat.
Tafsiran baru seperti itu akan terus berkembang seiring berkembangnya ilmu pengetahuan untuk menafsirkan dan memaknai kata-kata al-Qur’an agar tetap kontekstual. Semestinya pelaksanaan MTQ Mahasiswa tidak sebatas kegiatan pembacaan kitab Al Quran, tetapi diperluas pada pengkajian isi Al Quran sehingga memungkinkan ada pertemuan para ilmuwan perguruan tinggi yang mengkaji dan menafsirkan temuan-temuan baru berdasarkan hasil penelitian berkenaan dengan ayat-ayat kauniyah. (Dimuat di Harian FAJAR, Sabtu, 9 Juli 2011)

9 Juli 2011 Posted by | Uncategorized | , , , , , | Tinggalkan komentar

Pengembangan Sains Islam: Refleksi Milad UMI Makassar

Setiap tanggal 23 Juni, civitas akademika Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar memperingati Milad perguruan tinggi yang didirikan pada tahun 1954. Dalam rentang waktu yang panjang, telah menempatkan UMI sebagai perguruan tinggi swasta terbesar di Kawasan Timur Indonesia dalam hal kuantitas mahasiswanya. Namun, untuk ukuran kualitas mahasiswa dan alumninya belumlah dapat menduduki posisi terbaik di KTI.

Ukuran kualitas sebuah perguruan tinggi berdasarkan pemeringkatan yang dilakukan beberapa lembaga internasional seperti Webometrics, JiaTong dan 4ICU. Kampus yang terbaik diukur dari kiprah civitas akademikanya maupun kampus sebagai institusi dalam memberikan kontribusinya ke publik. Kampus-kampus yang sudah cukup mapan dan terkenal relatif memiliki posisi terbaik dalam pemeringkatan perguruan tinggi.

Lembaga 4ICU melakukan pemeringkatan terhadap 10 ribu perguruan tinggi di 200 negara. 4ICU membuat sebuah sistem pemeringkatan perguruan tinggi seperti Webometrics, ataupun JiaTong yang merupakan sistem pemeringkatan popularitas Perguruan Tinggi di dunia Internet. Peringkat popularitas perguruan tinggi didunia maya diukur berdasarkan tiga parameter yaitu Google pagerank, inbound link Yahoo, dan web traffic berdasarkan Alexa. Semakin tinggi tingkat kekayaan produk akademik dan kontribusi dari perguruan tinggi tersebut akan semakin banyak orang mengakses sebuah situs perguruan tinggi di dunia Internet.

Data yang dilansir 4ICU edisi Juli 2010, UMI Makassar masih jauh dari daftar 10 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia di dunia maya. UMI masih berada jauh dibawah perguruan tinggi swasta yang berada diperingkat kelima dari daftar 10 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia di dunia maya yakni Universitas Gunadarma yang menempati urutan kelima. Sebelumnya, pada Januari 2010 Universitas Gunadarma hanya menduduki urutan kesembilan. Hanya ada dua perguruan tinggi swasta yang bisa mengimbangi popularitas perguruan tinggi negeri (PTN) seperti ITB, UI, UGM dan Institut Teknologi Sepuluh November yang berada pada urutan pertama hingga keempat yakni Universitas Bina Nusantara (peringkat enam) dan Universitas Kristen Petra (peringkat tujuh). Kemudian tiga perguruan tinggi negeri pada urutan delapan, sembilan dan sepuluh besar yakni Universitas Sebelas Maret, Universitas Sumatera Utara, dan Universitas Negeri Malang.

Pada tahun 2011, pemeringkatan 4ICU memasukkan empat perguruan tinggi di Kota Makassar dalam 151 perguruan tinggi di seluruh Indonesia yang disurveinya. Peringkat UMI masih berada pada urutan ke 126 dari 151 perguruan tinggi di Indonesia diranking oleh 4ICU. Peringkat Universitas Muhammadiyah Makassar masih lebih baik dari UMI dengan berada pada posisi 118. Sementara perguruan tinggi negeri yang berada di Makassar seperti Universitas Hasanuddin berada pada ranking ke 26 dan Universitas Negeri Makassar berada pada ranking ke 47.

Pemeringkatan 4ICU berdasarkan website resmi perguruan tinggi masing-masing. Di Makassar terdapat beberapa perguruan tinggi terbesar dalam jumlah mahasiswa yang tidak masuk pemeringkatan 4ICU adalah UIN Alauddin, Universitas 45, dan Universitas Indonesia Timur. Demikian pula perguruan tinggi swasta yang berada di bawah Kopertis wilayah IX Sulawesi sejumlah 347 perguruan tinggi, hanya dua yang masuk pemeringkatan 4ICU (UMI dan Unismuh).

Bila melakukan pencarian di dunia maya menggunakan mesin pencari google dengan keyword “Universitas Muslim Indonesia”, pada halaman pertama masih berita positif yang ditampilkan website resmi perguruan tinggi swasta tertua di KTI tersebut dan beberapa situs lainnya. Namun berbeda dengan halaman kedua google, ada satu berita negatif tentang tawuran mahasiswa yang diberitakan Tribun Timur. Demikian pula pada halaman lima, ada tiga berita negatif tentang UMI dari liputan6.com SCTV, kaskus dan hileud.com. Namun secara keseluruhan, berita positif tentang UMI lebih mendominasi pada halaman satu hingga lima di situs Google sebagai mesin pencari nomor satu didunia.

Basis Keilmuan

Sebagai perguruan tinggi swasta yang berbasis agama, UMI Makassar dapat memperkuat basis keilmuan peserta didiknya dengan kemampuan sains Islam. Apalagi pimpinan Kampus UMI sejak kepemimpinan Prof Dr. Abdurrahman Basalamah (alm) telah menanamkan dasar-dasar penciptaan kampus Islami pada kampus UMI Makassar. Islamisasi kampus UMI berpusat pada tiga hal dilandasi semangat kebangsaan dan ke-UMI-an yakni Islamisasi kelembagaan, Islamisasi kondisi lingkungan dan Islamisasi proses belajar/kuliah.

Untuk memperkuat basis sains Islam, memerlukan kajian sejarah pengemban sains Islam pada masa-masa emas kebangkitan Islam pada beberapa abad sebelumnya. Salah satu buku yang dapat menjadi referensi adalah buku yang ditulis Dr Ing Fahmi Amhar yang menulis kisah-kisah penelitian dan pengembangan sains dan teknologi pada masa peradaban Islam dengan judul “TSQ Stories”.

Dalam bidang matematika, tersebutlah nama Al-Khawarizmi (780-850 M). Beliau memberikan kontribusi besar pada ilmu aljabar melalui bukunya “Kitab al-jabar wa al-muqabalah” yang mengulas pertama kali tentang dasar-dasar al jabar yang namanya hingga kini masih digunakan pada dunia ilmu komputer dengan nama “algoritma”. Al-Khawarizmi juga memperkenalkan system persepuluhan dengan menggunakan angka Arab. Awal ketertarikan Al-Khawarizmi menekuni aljabar dilandasi oleh sistem pembagian waris dalam Islam yang tergolong rumit. Sebagai agama yang menjunjung tinggi keadilan, termasuk didalam rumah tangga, pembagian hak waris dalam Islam harus adil sehingga pembagiannya harus dihitung secara rinci.

Pada bidang ilmu astronomi, terdapat nama-nama ilmuan muslim dalam sejarah seperti al-Biruni, al-Battani, Ibnu Rusyid, al-Balkhi, al-Sijzi, al-Qazwini dan al-Shirazi. Mereka berhasil mengoreksi pemikiran Ptolomeus yang menganggap bumi sebagai pusat alam semesta (geosentris) dalam model astronominya. Al-Biruni menyumbangkan teorinya tentang galaksi bimasakti sebagai kumpulan dari gugusan bintang yang berdiri sendiri yang pergerakannya lepas dari bumi atau matahari.

Dalam bidang ilmu fisika, salah satu nama yang terkenal adalah Ibn al Haytsam (al-Hazen) yang telah menerbitkan bukunya pada tahun 1021. Ibn al Haytsam dikenal sebagai pioneer optika modern dengan pemikiran bahwa proses melihat adalah jatuhnya cahaya ke mata. Al Haytsam juga berhasil menunjukkan berbagai cara untuk membuat teropong dan kamera sederhana (camera obscura). Penemuan al Haytsam (eksperimen optiknya) itu didapatkan ketika berada dalam rumah tahanan akibat gagal memenuhi tugas seorang amir Mesir untuk membendung Sungai Nil. Dari penemuannya itu, al Haytsam baru dilepas oleh sang amir karena dianggap setara dengan investasi yang dikeluarkan sang amir.

Dalam bidang aeronautika, ada satu nama yang terkenal yakni Ibnu Firnas. Sejarawan Philip K Hitti dalam bukunya History of the Arabs mencatat namanya sebagai penemu pertama dalam bidang ini. Pada tahun 875 M, Ibnu Firdas melakukan percobaan terbangnya sejenis ornithopter di Cordoba. Ornithopter adalah alat terbang yang menggunakan prinsip kepakan saya seperti pada burung, kelelawar atau serangga. Kini namanya diabadikan di Sevilla, Spanyol pada sebuah jembatan besar dengan nama Abbas ibnu Firdas Bridge. Demikian pula di Irak, namanya diabadikan pada sebuah lapangan terbang di Bagdad Utara bernama Ibnu Firdas Airport.

Dibidang kesehatan dan kedokteran, dalam sejarah Islam dikenal beberapa tokoh penemu. Ibnu Sina (980-1037 M) atau dikenal di Barat dengan nama Avicenna adalah tokoh yang paling terkemuka atas karya monumentalnya “Qanun fit Al-Thib” (The Canon of Medicine), sebuah ensiklopedia pengobatan (pharmacopedia) yang berisi satu juta kata. Ibnu Sina memberi sumbangan pada Bakteriologi yakni Ilmu yang mempelajari kehidupan dan klasifikasi bakteri. Ibnu Sina juga digelari Bapak Kedokteran Modern atas rekomendasinya pada tujuh aturan dasar dalam uji klinis atas suatu obat. Selama dua abad (Abad ke-15 dan Abad ke-16) karya tersebut dicetak ulang sebanyak 35 kali dan menjadi rujukan kedokteran Eropa dan dunia hingga abad ke-18.

Kajian singkat sejarah penemuan ilmuan Muslim diberbagai bidang ilmu pengetahuan diuraikan diatas dengan harapan dapat menjadi pelecut semangat para civitas akademika Universitas Muslim Indonesia untuk bangkit dan aktif melakukan riset-riset ilmiah dan menelorkan hasil-hasil riset yang dapat berguna bagi umat dan bangsa Indonesia, serta menghasilkan karya-karya ilmiah lainnya yang membuat nama UMI makin dikenal luas di dunia luar oleh karena prestasinya, dan bukannya dikenal karena hal-hal negatif tentangnya. Selamat Milad UMI Makassar yang ke-57!

27 Juni 2011 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Senyum, Kunci Hidup Sehat Dan Bahagia

Benarkah senyum itu sehat dan menyehatkan? Senyum merupakan terapi mental dan kejiwaan. Sekalipun terlilit dalam kesedihan dan kesusahan, apabila tersenyum akan dapat terlepas dari tekanan psikis dan jiwapun menjadi sehat. Senyum mendorong diri untuk keluar dari tekanan psikis dan mengobati mental. Senyum merupakan kunci dari segala kebaikan dan penutup dari segala kejahatan.
Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah engkau sekali-kali meremehkan suatu kebaikan, walaupun itu hanya sekadar untuk menemui saudaramu dengan wajah ceria”(HR. Muslim). Hadits ini menyiratkan bahwa wajah ceria adalah wajah yang selalu tersenyum. Dengan tersenyum, wajah nampak ceria tanda kebesaran jiwa dan kelapangan hati. Keceriaan wajah mengesankan ekspresi simpatik dan menyenangkan kepada siapa saja. Suasana hangat, akrab dan penuh keharmonisan akan terbangun dengan wajah ceria sambil tersenyum.
Menurut David Song, MD, FACS., ahli bedah plastik Universitas Chicago Hospital, saat tersenyum, otot mata mengerut, dua otot sudut bibir tertarik, otot di sekitar hidung juga, dua otot disudut mulut bergerak naik, dan dua otot lagi membuat bibir melebar. Kalau dihitung, ada 12 otot wajah yang bergerak saat seseorang tersenyum. Saat merengut, otot yang bergerak hanya sebelas. Sementara senyuman palsu hanya menggerakan dua otot yaitu di sudut bibir.
Senyum itu memiliki kekuatan penyembuh dan pengobat rasa sakit. Terapi senyum dapat menjadi pengobat bagi diri sendiri dan penyemangat bagi orang lain. Kebiasaan tersenyum dapat wajah lebih menyenangkan dan menghangatkan bagi orang-orang disekeliling. Berlatih senyum memerlukan waktu dan pembiasaan dengan filosofi tertentu.
Seorang bayi menandakan ia sehat ketika tersenyum. Sekalipun bayi belum bisa berbicara dan mengutarakan perasaannya, senyum bayi adalah tanda kesenangan dan kebahagiaannya. Meski senyum bayi mengandung ribuan makna yang membutuhkan waktu untuk memahami maknanya. Sebaliknya bayi yang kehilangan senyum, pertanda ada masalah yang tidak mengenakkan pada tubuhnya atau perasaannya. Apalagi bila bayi menangis sebagai pertanda ketidaknyamanan yang dialaminya.
Benarkah senyum itu bahagia dan membahagiakan? Konon, perempuan lebih bahagia daripada lelaki karena perempuan akan tersenyum dalam kondisi apapun, sekalipun kondisi cemas dan tidak menyenangkan. Mengapa? Karena perempuan akan senantiasa kelihatan cantik apabila selalu tersenyum. Kecantikan seorang perempuan adalah kebahagiaan dan cermin jiwa kewanitaan yang sempurna. Kekalutan dan kegelisahan akan segera berlalu bila wajah tersenyum.
Senyum menebarkan kebahagiaan dan keceriaan di sekeliling kita. Wajah terlihat semakin tampak bersinar dan indah dipandang bila senyum melekat dibibir. Senyuman adalah kunci kebahagiaan hati dan juga simbol cinta dan kasih sayang. Senyum menjadikan seseorang memiliki jati diri sebagai seorang berkepribadian yang baik. Sebaliknya wajah tanpa senyum akan terlihat suram dan kusam sehingga menampakkan jati diri yang berkepribadian jelek. Senyum yang ikhlas merupakan cerminan hati yang bahagia.
Psikolog Tika Bisono mengemukakan bahwa senyum termasuk proses penting bagaimana seseorang itu mampu menerima kehidupannya. Berawal dari senyum semua hal akan terasa lebih ringan, sebab senyum dapat menstimuli seseorang berpikiran positif dan menghadirkan sikap yang lebih tulus dalam mengerjakan sesuatu. Kemampuan tersenyum itu juga terkait dengan kadar kematangan seseorang dalam menyikapi problema kehidupan. Ketidakmampuan seseorang menerima keadaan dan selalu berpikir negatif merupakan faktor penyebab susah tersenyum.
Benarkah senyum itu sedekah? Sering kita mendengar Hadits “Senyumanmu di hadapan saudaramu adalah sedekah” (HR. Tirmidzy). Sebenarnya selengkapnya hadits tersebut adalah: Dari Abu Dzarr radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, engkau memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan merupakan sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah” (HR. At-Tirmizi no. 1956 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 517).
Senyum tidak membuat kita kehilangan harta karena tidak mengeluarkan rupiah, dollar atau dirham. Bahkan senyum dapat mendatangkan uang. Hampir semua perusahaan mengharuskan pegawainya yang berhubungan langsung dengan masyarakat atau pelanggannya diharuskan untuk selalu tersenyum. Senyum dari staf marketing atau pelayan masyarakat lainnya akan memuaskan pelanggan atau konsumennya serta menciptakan sebuah kesuksesan. Sebuah pengalaman dari perusahaan di Paris, Perancis memiliki pekerja yang sedang menuntut kenaikan gaji. Para pekerja itu sepakat untuk melakukan mogok senyum kepada para pelanggan sebagai reaksi dari sikap pemilik perusahaan. Aksi ini telah menimbulkan turunnya pemasukan perusahaan pada minggu pertama sebesar 60% dari penghasilan minggu-minggu sebelumnya.
Seorang psikolog di Universitas Michigan bernama Prof. James V. McConnell mengatakan bahwa, “Orang yang tersenyum cenderung mampu mengatasi, mengajar, dan menjual dengan lebih efektif, serta mampu membesarkan anak-anak yang lebih bahagia. Ada jauh lebih banyak informasi tentang senyuman daripada sebuah kerut di kening. Karena senyum itulah yang mendorong semangat, alat pengajar yang jauh lebih efektif daripada hukuman.”
Benarkah senyum itu menarik simpati? Seseorang yang selalu tersenyum menyebabkan orang-orang yang berada di sekitarnya menjadi nyaman dan damai. Kedamaian dan kenyamanan menarik simpati orang-orang disekeling kita. Ketika senyum hilang dari wajah kita, maka lingkungan menjadi tidak nyaman meski sebenarnya tidak ada masalah dilingkungan itu. Dengan tersenyum, maka dapat menyelesaikan masalah sekalipun terdapat penghalang besar sebesar tembok raksasa Cina. Kekuatan senyum diibaratkan mampu mengalahkan kekuatan bom atom atau bom nuklir sekali pun.
Senyum membuat wajah kelihatan cantik dan gagah. Walau wajah tidak gagah atau cantik, dengan ekspresi tersenyum seseorang akan kelihatan gagah dan cantik. Kecerahan dan keceriaan wajah oleh senyum adalah aktualisasi perasaan kecantikan dan kegagahan seseorang. Senyum juga membuat suasana beku menjadi mencair, suasana cemas menjadi hangat, suasana ragu-ragu menjadi harmonis.
Senyum merupakan perkara sederhana tapi butuh pembiasaan. Senyum itu mudah dan murah namun kadang terasa sulit karena deraan masalah duniawi berupa permasalahan hidup yang kompleks. Sikap mental positif akan mampu menghadapi tekanan permasalahan hidup. Sikap mental yang positif juga mampu menghasilkan senyum yang tulus dari hati terbuka. Senyum yang tulus dari hati dan perasaan akan memancarkan kehangatan dan kepercayaan diri.
Agar senyum menjadi sebuah kekuatan, ingatan kita selalu dilekatkan pada senyum orang-orang terkasih seperti ayah, ibu, istri, suami, anak-anak atau orang-orang terdekat lainnya. Senyumpun harus dilakukan dengan ketulusan hati, bukan senyum palsu atau senyum kepura-puraan. Kekuatan senyum bisa dimulai dari pagi hari ketika bangun tidur, maka akan terasa energy positif sepanjang hari. Senyuman adalah kekuatan yang mengalirkan energi positif bagi siapa saja yang menyadarinya. Banyak cerita seputar the power of smile yang memiliki kekuatan yang bisa merubah suasana hati dan emosi. Senyum memiliki kekuatan universal untuk menimbulkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Tips untuk menghadirkan senyum diwajah ketika hati sedang dirundung sedih dan gundah adalah latihan pernafasan. Latihan ini dengan tujuan untuk melancarkan peredaran darah sebagai penghambat tekanan batin (stress). Pertama adalah menarik napas dan menahannya sekitar sepuluh detik kemudian menghembuskannya kembali. Kedua, mengatur pikiran dengan sikap ikhlas. Ketiga berserah diri dan memasrahkan diri pada Sang Pencipta dengan berdoa.

27 Juni 2011 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

Epidemiologi Penyakit Tropik

Sebagai seseorang akademisi pada bidang ilmu kesehatan masyarakat, maka kategori yang Paling Indonesia adalah studi tentang epidemi penyakit-penyakit khas Indonesia sebagai daerah tropis. Dalam ilmu kesehatan dikenal istilah penyakit tropik (tropical medicine atau trop med) pada wilayah-wilayah beriklim panas didaerah lintas garis khatulistiwa. Istilah ini diperkenalkan para peneliti kesehatan dari Barat (Eropa dan Amerika) yang berbeda dibanding daerah asalnya.
Citra sebagai penyakit tropik sebenarnya berkonotasi negatif yang berhubungan dengan cara hidup yang tidak sehat seperti sanitasi buruk, hygiene yang jelek, penyakit menular yang berbahaya. Penggolongan penyakit tropik dengan maksud menghindarkan penyakit para kolonialis Barat yang kala itu banyak melakukan pendudukan wilayah-wilayah di daerah tropis. Dalam rangka pendudukan itu, keperluan riset kesehatan ditujukan untuk menghindari penyakit tropik dengan mengetahui penyebab dan faktor-faktor risikonya.
Di Indonesia, selama masa penjajahan Belanda dikenal organisasi ilmiah yang aktif melakukan riset dibidang kesehatan bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en weten schappen. Organisasi ini selama seratus enam puluh empat tahun melakukan riset tentang penyakit tropik untuk kepentingan pemerintah kolonial Belanda dalam membantu kelancaran sistem politik-ekonomi kolonial dalam penguasaan sumber-sumber kekayaan negara jajahan.
Dalam perkembangan penelitian kesehatan, didapatkan data bahwa penyakit tropik bukanlah jenis penyakit yang aneh dan mengerikan seperti yang mereka sangkakan sebelumnya. Bahkan beberapa dari kategori penyakit tropik itu bisa pula didapatkan pada wilayah yang beriklim sedang, hanya berbeda pada manifestasi dan frekuensinya saja. Perbedaan manifestasi dan frekuensi dipengaruhi beberapa faktor seperti iklim, demografi, sosial-ekonomi dan faktor genetic/ras. Pemahaman ini berkembang setelah sarana perhubungan lalu lintas antar benua semakin cepat tanpa batas yang dimulai pada saat pasca Perang Dunia kedua. Karena itu, pusat perhatian pengkajian penyakit tropik adalah penyakit infeksi yang menular yang berkaitan dengan kondisi daerah tropis.
Ragam Penyakit Tropik
Menurut Dr dr Umar Zein, ada beberapa macam penyakit tropik yang sudah dikenal sejak masa penjajahan Belanda, ratusan tahun lalu seperti penyakit cacar, polio, frambusia (puru), malaria, kolera, tuberkulosis, kusta dan elefantiasis (kaki gajah). Kategori penyakit tropik lainnya adalah malaria, demam berdarah, tifus, sepsis, hepatitis dan TBC. Meski telah dikenal dan diteliti ratusan tahun yang lalu, ragam penyakit tersebut masih tetap terjadi dan menular pada kelompok masyarakat tertentu didalam wilayah Indonesia. Berbagai penelitian dengan dana yang tergolong besar untuk mencari metode pencegahan dan pengobatan penyakit tropik tetap tidak bisa dihilangkan karena berkaitan dengan cara hidup masyarakat.
Kecenderungan pola hidup yang tidak sehat pada masyarakat yang tergolong status sosial ekonomi rendah rawan terjangkit penyakit tropik seperti kusta, frambusia , tuberculosis, kaki gajah, dan kala-azar. Khusus penyakit kala-azar hanya ditemukan di wilayah tropik di Asia Selatan yakni India, Nepal dan Bangladesh. Jenis penyakit tropik seperti yang disebutkan diatas masih kerap terjangkiti pada masyarakat miskin dan marginal, utamanya yang bermukim di pedesaan. Sementara penyakit tropik lainnya seperti cacar dan polio telah dapat dieliminasi melalui tindakan vaksinasi, meski penyakit tersebut dapat muncul kembali (re-emerging infectious diseases).
Pemerintah Indonesia pernah menyatakan bahwa dalam 10 tahun terakhir telah berhasil menurunkan angka penderita penyakit kusta sebesar 371.000, diantaranya sejumalh 1.722 penderita mengalami kecacatan permanen. Klaim keberhasilan tersebut menyebabkan menurunnya kampanye dan sosialisasi faktor risiko penyakit kusta di tengah masyarakat sehingga penderita kusta tidak kunjung terselesaikan. Bahkan setiap tahun tercatat sekitar 20.000 kasus baru penderita penyakit kusta berdasarkan laporan dari dinas-dinas kesehatan yang tersebar pada seluruh pelosok Indonesia. Peningkatan kasus kusta sejalan dengan penurunan status sosial-ekonomi masyarakat.
Demikian halnya dengan penyakit frambusia yang tergolong penyakit langka namun masih mengjangkiti penduduk Indonesia. berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia bersama India dan Timor Leste adalah tiga negara yang memiliki penderita frambusia tertinggi. Di Indonesia, tercatat jumlah penderita frambusia sekitar 5.000 orang. Salah satu daerah yang masyarakatnya masuk kategori stadium 1 frambusia akut adalah di Sumba, Kecamatan Bepepoli, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penyakit frambusia muncul terkait erat dengan pola hidup yang jauh dari kebersihan seperti jarang mandi, jarang menggunakan sabun pembersih, menggunakan air kotor untuk kebutuhan sehari-hari, dan system sanitasi rumah tangga yang jelek. Karena itu penderita penyakit frambusia berkonotasi pada kemiskinan dan kebodohan yang belum mengadopsi pola hidup sehat.

30 Mei 2011 Posted by | Uncategorized | , , , | Tinggalkan komentar