Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

KLB Keracunan Gorontalo dan Epidemiologi Kesehatan Darurat

Puluhan peserta seminar guru yang diselenggarakan di Kecamatan Bongomeme, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo keracunan usai mengkomsumsi makanan (catering) pada saat pelaksanaan seminar Selasa (25/10/2011). Ada dua orang dilaporkan meninggal dunia dan 125 orang lainnya dirawat di Rumah Sakit Dunda Limboto, Kabupaten Gorontalo. Korban yang meninggal adalah Delima Lippy, seorang guru SMP, dan Mohamad Ismail, 14, siswa SD.
Bukan hanya peserta seminar guru yang mengalami keluhan sakit perut, muntah dan kejang-kejang, tetapi juga anak-anak para guru yang membawa pulang makanan dari seminar. Saat seminar berlangsung tidak semua peserta seminar makan ditempat, ada juga yang membawa pulang nasi kotak yang dibagikan panitia seminar sehingga beberapa korban keracunan satu keluarga.
Banyak korban keracunan makanan mendorong pemerintah daerah setempat menetapkan kondisi luar biasa (KLB) keracunan pangan. Biasanya penetapan status KLB karena jumlah warga yang terkena banyak dan terjadi dalam waktu yang relatif singkat serta pemerintah menanggung seluruh biaya pengobatan korban keracunan. Penyebab keracunan biasanya adalah virus Bacillus Cereus atau Stapyllococcus Aureus. Polisi setempat masih fokus pada investigasi asal makanan dan pihak-pihak yang menyiapkannya. Sementara pihak Dinas Kesehatan setempat belum terdengar melakukan langkah-langkah survelians epidemiologi keracunan makanan.
Langkah yang harus dilakukan Dinas Kesehatan setempat adalah melakukan surveilans Epidemiologi Keracunan Pangan di tempat pelaksanaan seminar. Surveilans berguna untuk mengetahui besar dan luasnya masalah serta gambaran epidemiologi peningkatan kasus keracunan pangan pada tempat pelaksanaan seminar. Ada beberapa tujuan khusus surveilans dilakukan seperti mengetahui distribusi kasus secara epidemiologi, mengetahui Attack Rate dan relative risk kasus keracunan pangan, mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian tersebut dan memastikan KLB keracunan pangan. Surveilans KLB keracunan pangan bisa menggunakan rancangan penelitian epidemiologi deskriptif dengan menggunakan desain cross sectional. Data primer diperoleh dengan melakukan investigasi langsung pada tempat pelaksanaan seminar.
KLB Keracunan Pangan
Kejadian keracunan makanan berhubungan dengan masalah keamanan pangan. Letusan penyakit akibat pangan (foodborne disease) dan kejadian-kejadian pencemaran pangan telah menjadi masalah global, bukan hanya terjadi di berbagai negara berkembang tetapi juga terjadi pada negara-negara maju. Di negara-negara maju, diperkirakan satu dari tiga orang penduduk mengalami keracunan pangan setiap tahunnya. Sebuah sumber menyebutkan, bahwa kasus keracunan pangan di Eropa merupakan penyebab kematian kedua terbesar setelah Infeksi Saluran Pernafasan Atas atau ISPA.
Definisi yang dikembangkan Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM-RI) tentang KLB Keracunan Pangan adalah suatu kejadian dimana terdapat dua orang atau lebih yang menderita sakit dengan gejala yang sama atau hampir sama setelah mengonsumsi pangan, dan berdasarkan analisis epidemiologi, pangan tersebut terbukti sebagai sumber penularan. Salah satu agent penyebab KLB Keracunan Pangan adalah keberadaan bakteri pathogen yang berlebihan dalam pangan. Senyawa kimia, seperti logam berat, nitrit, toksin jamur dan residu pestisida juga merupakan penyebab KLB Keracunan Pangan. Sedangkan World Health Organization (WHO) mendefinisikan Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan atau dikenal dengan istilah “foodborne disease outbreak” sebagai suatu kejadian dimana terdapat dua orang atau lebih yang menderita sakit setelah mengkonsumsi pangan yang secara epidemiologi terbukti sebagai sumber penularan.
Kejadian Luar Biasa (KLB) merupakan suatu kejadian/kasus yang menunjukkan peningkatan kejadian secara luar biasa didalam suatu kelompok. Kejadian Luar Biasa ini bisa di akibatkan dari kontaminasi suatu bahan kimia dan atau disebabkan oleh mikroorganisme. Guna menghindari kejadian luar biasa keracunan khususnya dari makanan, diperlukan suatu tindakan-tindakan baik pra kejadian, saat kejadian keracunan makanan dan pasca kejadian keracunan. Diharapkan dengan melakukan tindakan-tindakan tersebut kasus atau kejadian keracunan makanan dapat ditiadakan dan diminimalisir jumlah korban keracunan makanan.
Tanda-tanda klinik keracunan pangan dibagi atas enam kategori seperti : pertama, gejala pada saluran gastrointestinal atas berupa mual dan muntah; kedua, gejala pada saluran gastrointestinal bawah seperti kejang perut dan diare; ketiga, gejala infeksi umum seperti demam, menggigil, rasa tidak enak, letih, dan pembengkakan kelenjar limfe; keempat, gejala alergik misalnya wajah memerah, dan gatal-gatal; kelima, gejala neurologik misalnya gangguan penglihatan, perasaan melayang, dan paralisis; dan keenam, gejala sakit tenggorokan dan pernafasan (Gentina, dkk., 2007).
Prosedur standar bila terjadi KLB keracunan pangan pada tingkat Puskesmas adalah: pertama, Petugas Puskesmas setelah menerima laporan atau informasi dari masyarakat, RS, dll, segera melakukan pengecekan ke lapangan tentang kebenaran berita kasus keracunan; Kedua, memberikan pertolongan berupa pengobatan kepada penderita keracunan, dan bila diperlukan mengirim penderita ke unit pelayanan kesehatan yang lebih tinggi untuk referal sistem (Rumah Sakit); ketiga, mengambil contoh makanan/minuman yang diduga sebagai penyebab keracunan; keempat, mengirim contoh makanan/minuman ke Dinas Kesehatan Kab/Kota; kelima, melaporkan adanya kejadian keracunan makanan ke Dinas Kesehatan Kab/Kota segera (menggunakan telepon, fax, form W1, sms, dan e-mail); keenam, bergabung dengan TIM KLB Keracunan Dinas Kesehatan Kab/Kota melakukan kajian Penyelidikan Epidemiologi.
Pada tingkat Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, segera melakukan koordinasi dan pembahasan tentang kasus yang terjadi serta meneruskan contoh makanan/minuman yang diduga sebagai penyebab keracunan ke BBTKLPM/BLK/Laboratorium lain yang ditunjuk dengan menggunakan formulir Pengiriman Sampel Keracunan Makanan/Minuman. Setelah itu melakukan pengecekan ke lokasi keracunan dan memonitor kejadian keracunan serta melakukan tindakan investigasi/penyelidikan/surveilans epidemiologi untuk mengetahui attack rate, relative risk, dan lokasi/waktu kejadian keracunan. Hasil Penyelidikan Epidemiologi Tim Surveilans inilah yang digunakan Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota memberikan keterangan/ penjelasan kepada publik/ masyarakat tentang kasus yang terjadi.
Pada tingkat Dinas Kesehatan Propinsi juga memiliki porsi tanggungjawab setelah mendapat laporan/ informasi surveilans epidemiologi keracunan. Bahkan bila dianggap perlu, Dinas Kesehatan Propinsi dapat membantu Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam penyelidikan/surveilans epidemiologi kasus keracunan makanan di daerahnya dan koordinasi dengan laboratorium yang ada di Propinsi. Tanggung jawab lainnya adalah memberi bimbingan teknis dalam menyusun rencana pencegahan, penyelidikan dan penanggulangan keracunan.
Sementara pada tingkat Pemerintah Pusat yakni Kementrian Kesehatan, Ditjen PPM & PL cq. Subdit HSMM dan Subdit Surveilans melakukan koordinasi setelah mendapat laporan/informasi. Bila dianggap perlu, memberikan arahan dan bimbingan teknis dalam menyusun rencana pencegahan, penyelidikan dan penanggulangan keracunan serta memantau perkembangan dan tindak lanjut dalam kasus keracunan makanan di Daerah.
Sebagai antisipasi kasus keracunan pangan pada masa datang, maka pada sisi konsumen, masyarakat perlu meningkatkan pemahaman tentang Hygiene Sanitasi Makanan dan Minuman secara baik dan benar. Sedang pada sisi pemerintah, perlu meningkatkan supervisi pada Tempat Pengelolaan Makanan agar prinsip-prinsip Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Pemerintah juga mengemban tanggungjawab melakukan penyuluhan tentang cara mengolah, dan menyimpan makanan yang higienis.
Dari kasus KLB keracunan pangan di Gorontalo, Dinas Kesehatan setempat perlu melakukan Pelatihan Asisten Epidemiologi Lapangan (PAEL) pada petugas dinas kesehatan, Pelatihan/Kursus Hygiene Sanitasi Makanan dan Minuman serta Pelatihan Hazard Analisys Critical Control Point (HACCP).

9 November 2011 Posted by | Uncategorized | , , , , | Tinggalkan komentar

Tsunami Jepang dan Epidemiologi Bencana

Gempa berkekuatan 8,9 Skala Richter pada 11 Maret 2011 pada pukul 14.46 waktu setempat di pantai timur Jepang menyebabkan terjadinya gelombang tsunami yang memporak-porandakan sebagian wilayah Jepang. Gempa Jepang tepatnya di daerah Hyuga-nada terjadi di 31,8 LU dan 132,0 BT, berkedalaman 10 kilometer di bawah laut. Korban gempa dan tsunami berdasarkan sumber Badan Kepolisian Nasional Jepang hinga Rabu (23/3) mencapai total 24.124 orang dengan rincian sebanyak 9.408 orang telah dikonfirmasi tewas, sedangkan 14.716 resmi terdaftar sebagai hilang dan 2.746 orang lainnya terluka.
Gempa 11 Maret 2011 di Jepang merupakan bencana alam paling dahsyat sejak gempa besar Kanto pada 1923. Gempa Kanto 1923 menelan korban kematian sebanyak 142 ribu orang, sementara korban yang masih hidup sebanyak ratusan ribu orang terpaksa mengungsi dan berlindung di berbagai fasilitas evakuasi yang disediakan pemerintah setempat ketika itu. Pihak lain mengatakan bahwa gempa 11 Maret 2011 itu adalah gempa kelima terbesar di Jepang sejak 1900-an.
Di kawasan pantai Miyagi, gelombang tsunami setinggi 4 meter. Akibat gempa, dilaporkan terjadi kebakaran kilang minyak di Ichihara. Di sepanjang pantai timur Pulau Honshu, dilaporkan (13 Maret 2011) sekitar 12.250 rumah dan bangunan lainnya hancur dan rusak akibat gempa dan sedikitnya 2.400 rumah tersapu oleh tsunami, sementara lebih dari 100 rumah lagi terbakar serta 60 kasus tanah longsor. Korban selamat kini berada di pengungsian yang tersebar di sekitar 2.300 tempat penampungan sekitar lebih dari 315.000 orang.
Penanganan Korban
Sebagai negara yang telah memiliki prosedur tetap dalam penanganan bencana, ketika terjadi gempa 11 Maret lalu, Pemerintah Jepang melalui Perdana Menteri Naoto Kan mengambil langkah cepat dalam merespon gempa-tsunami dengan langsung memerintah delapan pesawat militer segera terbang ke wilayah gempa.
Untuk melindungi masyarakat dari dampak bencana dan meminimalisir jatuhnya korban, pemerintah Jepang pun segera menghentikan kegiatan di kilang minyak, mematikan operasi pembangkit tenaga nuklir, fasilitas transportasi publik dihentikan seperti menutup dua bandara di Tokyo yakni Narita dan Haneda serta perjalanan kereta dihentikan. Penumpang yang sedang dalam perjalanan diminta keluar, dievakuasi serta diminta mengamankan diri.
Meski pemerintah Jepang sudah mematikan operasi pembangkit tenaga nuklir pasca gempa dan tsunami, reaktor nuklir no 4 Fukushima Daichi dilaporkan (16 Maret 2011) meledak dan menyebarkan radiasi nuklir. Kekhawatiran Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada Desember 2008 lalu terhadap gempa dan keamanan reaktor nuklir di Jepang akhirnya menjadi kenyataan.
NHK mengabarkan, ada 56 pasien ini tersebar di rumah sakit di Iwate, Miyagi dan Fukushima. Ketiga wilayah ini merupakan wilayah yang terkena gempa dan tsunami terparah. Survei NHK menyebutkan, di Tagajo, kota di Miyagi, ditemukan 13 pasien dari sekitar 80 pasien akhirnya meninggal di rumah sakit. Sedangkan di rumah sakit di kota Kamaishi, Iwate, sedikit 12 jiwa juga meninggal karena pneumonia. Akibat minimnya perawatan medis di lokasi pelayanan kesehatan korban gempa dan tsunami Jepang, sedikitnya 56 pasien akhirnya meninggal dunia.
NHK, Kamis (17/3/2011) melansir dari sumber kepolisian setempat, akibat bencana gempa bumi dan tsunami di wilayah timur laut Jepang, sedikitnya 5.583 orang tewas dan 9.594 orang masih dikabarkan hilang. Di Prefektur Miyagi, 3.158 orang telah tewas dan 2.243 hilang, sedang di Prefektur Iwate telah mengkonfirmasi 1.824 warga meninggal dunia, dan 3.853 orang masih belum diketahui kabar nasibnya. Sementara di Fukushima, 546 orang meninggal dunia dan lebih dari 3.491 orang hilang. Jumlah orang hilang yang dimaksud hanya mencerminkan jumlah sebenarnya yang terdaftar pada data polisi. Banyak korban tewas karena minimnya fasilitas perawatan kesehatan darurat, keterlambatan pasokan peralatan kesehatan dan juga pemadaman listrik yang berkepanjangan.
Seorang dokter yang bekerja untuk perawatan darurat didaerah bencana yang diliput NHK mengatakan sebagian besar pasien terpaksa harus dipindahkan ke rumah sakit lainnya atas minimnya fasilitas rumah sakit. Dokter itu juga merekomendasikan staf khusus medis harus dikirim ke daerah untuk membantu rumah sakit lokal untuk merawat para pasien. Ini bertujuan agar tidak banyak lagi pasien yang meninggal karena keterbatasan peralatan, perlengkapan dan bantuan medis di rumah sakit.
Epidemiologi Bencana
Disiplin ilmu kesehatan yang kerap digunakan dalam penanganan pasca bencana adalah epidemiologi bencana. Pendekatan epidemiologi bencana menggunakan data-data lapangan didaerah bencana untuk dapat menjadi bahan pelajaran dalam prosedur penanganan korban sebagai faktor risiko. Pasca bencana, epidemiologi lapangan berperan mengklasifikasi para korban cidera dan meninggal serta dapat mengestimasi angka kematian dari total korban bencana.
Dari hasil studi epidemiologi lapangan, dapat diketahui faktor risiko yang berhubungan dengan bencana gempa dan tsunami. Misalnya seberapa besar orang yang berada pada bangunan bertingkat terhadap risiko cidera atau meninggal dengan Odds ratio. Demikian pula dapat dibandingkan antara seberapa besar orang yang berada dalam bangunan kayu terhadap risiko cidera atau meninggal dibandingkan dengan orang yang berada didalam bangunan batu, dan sebagainya.
Biasanya dari hasil studi Epidemiologi Bencana, akan didapatkan pelajaran dari suatu kasus bencana sehingga dapat dilakukan pencegahan dengan mengetahui faktor risikonya. Apabila faktor risikonya adalah bangunan batu atau bangunan kayu, maka cara pencegahan adalah perencanaan konstruksi bangunan yang diestimasi tahan terhadap gempa dan tsunami, pembuatan aturan perencanaan bangunan gedung, atau berbagai formulasi perencanaan teknis konstruksi lainnya.

31 Maret 2011 Posted by | Uncategorized | , , , , | 1 Komentar

Teror Gas Elpiji dan Kesehatan Darurat

Akhir-akhir ini kejadian ledakan akibat gas elpiji kerap terjadi diberbagai wilayah Indonesia. Dalam rentang empat bulan antara April hingga Juli 2010, setidaknya 10 anak telah mengalami luka-luka akibat ledakan tabung gas. Menurut Ketua KPAI Hadi Supeno, kondisi tersebut telah melahirkan suasana ancaman bagi anak, situasi yang menakutkan, tidak nyaman, karena khawatir sewaktu-waktu ada tabung gas meledak dan melukainya. Jumlah korban langsung sebanyak 10 orang anak sangat signifikan karena dalam perspektif pelindungan anak, setiap anak berhak mendapat perlindungan. Belum dengan korban orang dewasa yang jumlahnya lebih dari 35 orang. Berarti, banyak anak yang berpotensi hidup sebagai yatim dan piatu (detikcom, 20/7/2010).
KPAI meminta pemerintah menarik kembali semua tabung gas dan regulatornya untuk memastikan supaya tidak ada korban baru. Kedua, KPAI meminta dilakukan sosialisasi masif agar masyarakat bisa menggunakan kompor beserta tabung gas dengan benar sebelum mereka menggunakan kembali. Ketiga, Pertamina harus menanggung semua biaya pengobatan dan pendidikan anak korban kompor gas. Keempat, polisi harus memproses hukum pihak terkait, termasuk kemungkinan menghukum setingkat menteri yang telah melakukan kelalaian sehingga menyebabkan penderitaan seseorang.
Namun dilihat dari konteks kesehatan, kecelakaan terhadap anak-anak bisa kapan saja terjadi dengan beragam faktor risiko, termasuk dari gas elpiji. Hal yang penting adalah mengetahui faktor-faktor risiko kecelakaan terhadap anak dirumah tangga dan cara-cara pencegahannya serta langkah-langkah tindakan cepat apabila terjadi kecelakaan rumah tangga.
Kesehatan Darurat
Dalam konteks epidemiologi, kejadian ledakan gas elpiji tergolong kesehatan darurat. Seorang pakar kesehatan darurat yang sangat langka di negeri ini, Prof Dr Najib Bustan MPH, dalam bukunya yang terkenal “Epidemiologi Kesehatan Darurat” (2000), membagi atas tiga epidemiologi kecelakaan (accident) yakni kecelakaan rumah tangga, kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan di tempat-tempat umum.
Dalam konteks kecelakaan rumah tangga, faktor tempat memiliki peran tertentu. Tempat-tempat dalam rumah mempunyai kepekaan sebagai tempat kecelakaan rumah tangga kebetulan semuanya berawalan dengan huruf “C” dalam bahasa Spanyol: Casa (rumah), Cuna (keranda bayi), cama (tempat tidur), cuarto (kamar), cocina (dapur), calle (jalanan), dan campo (halaman). Dalam mengingatkan terhadap ancaman terjadinya kecelakaan rumah tangga, Orang Spanyol mengatakan : “Cuicado con las C” (Hati-hati terhadap C).
Cicana (dapur) adalah tempat yang menjadikan beberapa anak terkena ledakan tabung gas elpiji. Pada tempat inilah, biasanya berisi kompor, alat memasak, dan alat-alat dapur lainnya yang berbahaya seperti pisau. Perhatian lebih para ibu rumah tangga dan pembantu rumah tangga layaknya dialamatkan pada area dapur sebagai salah satu sumber ancaman terjadinya kecelakaan rumah tangga.
Cidera (injury) adalah bentuk paling umum terjadi sebagai akibat dari gangguan kesehatan darurat. Akibat dari cidera, bisa mendatangkan gangguan fisik, gangguan mental dan gangguan sosial bila kejadiannya bersifat massal. Cidera adalah bentuk keterpaparan seseorang yang terkena peristiwa kesehatan darurat, mulai dari cidera ringan, hingga cidera berat.
Secara teoritis, ada tiga komponen utama terjadinya cidera (trias cidera) yakni korban (victim), faktor risiko dan lingkungan. Korban adalah seseorang yang menjadi terpapar akibat kecelakaan disengaja maupun tidak disengaja sehingga mengakibatkan terjadinya cidera. Sedang faktor risiko berhubungan dengan risiko situasi (risk situation) dan risiko kelompok atau komunitas (risk group). Sementara lingkungan sebagai penyebab ada berbagai macam seperti gas elpiji, alat-alat listrik, alat-alat dapur, kembang api, korek api, senapan burung, alat-alat permainan anak, alat-alat pertanian, dan sebagainya.
Pada portal Doctor’s Library, cidera yang umum terjadi dalam kecelakaan rumah tangga adalah luka bakar, luka memar, luka parut (laserasi), luka teriris/terpotong. Luka Bakar yang terjadi di area rumah tangga biasanya disebabkan oleh terkena percikan api, tersiram air panas, minyak panas, sampai kuah masakan didapur yang panas. Luka bakar dibedakan atas, luka bakar kering umumnya karena api, sengatan listrik, logam panas; luka bakar karena cairan panas, air mendidih, uap panas, minyak panas, dll; luka bakar karena zat kimia, asam pekat, alkali pekat, dll.
Tanda-tanda luka bakar sesuai tingkat keparahannya, yakni luka bakar ringan rasa panas dan nyeri, kemerah-merahan pada bagian yang terkena panas, kadang-kadang ada pembengkakan. Luka bakar sedang cirinya bagian yang terkena lebih dalam dari permukaan kulit, rasa panas dan nyeri lebih hebat, selain kemerahan juga timbul gelembung yang berisi cairan. Luka bakar berat cirinya jaringan yang terkena lebih dalam sampai jaringan di bawah kulit, tampak ada jaringan yang mati (kehitaman). Hal yang perlu diperhatikan selain kedalaman luka bakar juga luas permukaan kulit yang terkena trauma panas. Semakin luas permukaan kulit yang terkena semakin membahayakan jiwa korban.
Tindakan Luka Bakar
Dalam konteks kecelakaan akibat ledakan tabung gas elpiji yang banyak mendatangkan korban bagi anak-anak maupun orang dewasa, tindakan yang perlu diketahui oleh orang-orang disekeliling para korban adalah mengetahui secara sederhana tentang kategori luka bakar ringan, lukan bakar sedang dan luka bakar berat.
Pada Luka Bakar ringan, derajat ringan jika luas kurang dari 50% atau derajat sedang dengan dengan luas kurang dari 15 % atau derajat berat kurang dari 2%. Bagian yang terkena panas dikompres dengan air dingin atau dialiri air dingin. Bila terlalu luas segera rujuk kerumah sakit. Bagian yang melepuh jangan dipecah, tetapi ditutupi. Tidak dianjurkan mengolesi luka bakar dengan odol/kamfer, keadaan ini justru akan memperberat kondisi luka bakar dan akan menambah penderitaan, sebab saat membersihkan akan terasa sakit.
Sementara pada Luka Bakar Sedang, derajat ringan dengan luas lebih dari 50%, derajat sedang dengan luas 15-30%, atau derajat berat dengan luas lebih dari 2 % perlu segera dirujuk ke rumah sakit dengan menutupi bagian yang terkena panas. Demikian halnya dengan Luka bakar berat lebih parah dan lebih luas dari kondisi luka bakar sedang, segera rujuk ke rumah sakit yang lengkap. Obat-obatan yang diperlukan pada luka bakar, terutama bila permukaan kulit terbuka, adalah anti infeksi yang diberikan secara oles/topikal untuk mencegah kemungkinan terinfeksi. Hal lain yang perlu diperhatikan karena dapat mengancam korban luka bakar adalah kehilangan cairan tubuh (dehidrasi), karena permukaan kulit yang rusak, infeksi, cacat tubuh karena adanya jaringan parut akibat luka bakar (kontraktur). Untuk luka bakar karena zat kimia perlu penatalaksanaan khusus, secara umum luka bakar dialiri air dingin lebih lama ( 20 – 30 menit ), tutup dengan kain halus, dan rujuk ke rumah sakit.

Penulis, Fatmah Afrianty Gobel,Ketua Prodi Kesmas FKM UMI Makassar. Dimuat di Harian Fajar, Kamis, 22 Juli 2010)

4 Agustus 2010 Posted by | Uncategorized | , , , | 1 Komentar

Gempa 30 September dan Kesehatan Darurat

Gempa kembali mengguncang wilayah Indonesia berkekuatan 7,6 skala Richter (SR) pada Rabu 30 September 2009 (disingkat Gempa 30 September-G30S) pukul 17.16 WIB . Kali ini giliran Padang, Sumatera Barat dan Jambi serta sebagian Bengkulu selang sehari berikutnya diguncang gempa tektonik. Ratusan rumah, gedung, serta pusat perbelanjaan hancur. Berbagai perguruan tinggi di kota tersebut juga mengalami rusak berat. Beberapa bagian dari perguruan tinggi tersebut yakni Universitas Putra Indonesia, Universitas Andalas, dan Universitas Negeri Padang bahkan runtuh. Informasi tentang gempa terkini disajikan BMKG 5 menit pasca kejadian dalam bentuk singkat.
Hingga tulisan ini dibuat, data resmi dari Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB), sebagaimana yang dirilis di situsnya pada 1 Oktober pukul 23.02 WIB, jumlah korban tewas yang tercatat adalah 390 orang. Data itu disebutkan berasal dari Satkorlak PB Provinsi Sumbar, serta merupakan angka yang tercatat hingga Kamis pukul 21.00 WIB. Rinciannya, sebanyak 197 orang tercatat tewas di Kota Padang, 21 orang di Kota Pariaman, 154 orang di Kabupaten Padang Pariaman, 7 orang di Kabupaten Pesisir Selatan, 7 orang di Kota Bukittinggi, serta 4 orang di Kota Solok (Fajar, 02/09/09).
Informasi tentang kejadian gempa yang mendetail berasal dari USGS NEIC (National Earthquake Information Center), yang menyajikan informasi magnitude: mulai dari moment magnitude, body-wave magnitude hingga surface magnitude, posisi episentrum dan kedalaman hiposentrum serta jarak episenter dengan kota-kota penting yang berdekatan, juga menyajikan prediksi intensitas getaran dalam skala MMI pada berbagai jarak dan dampak gempa terhadap populasi dalam bentuk PAGER.
Menurut analisa seorang pakar, gempa Padang ini secara energetika 63 kali lipat lebih kuat daripada Gempa Yogya pada 2006 dan jika disetarakan gempa Padang ini melepaskan energi sebesar 3,78 megaton TNT atau setara dengan 190 butir bom Hiroshima yang diledakkan secara bersama-sama. Gempa disebabkan oleh patahnya segmen batuan seluas 50 x 25 km persegi yang menjadi bagian lempeng Australia pada kedalaman 80 km. Pematahan kemudian diikuti dengan pergerakan segmen sejauh (rata-rata) 8,5 meter. Seluruh proses ini terjadi dalam 3 menit dan itulah yang dirasakan sebagai getaran gempa. Setelah proses ini usai kemudian diikuti konsolidasi segmen tersebut sehingga muncullah gempa-gempa susulan. Beruntung bahwa segmen batuan yang terpatahkan hanyalah yang ada di lempeng Australia saja, bukan dibatas kontak (interface) antara lempeng Australia dan Eurasia dalam zona subduksi.
Jika gempa Padang terjadi di zona subduksi, ia akan mengakibatkan terjadinya dislokasi dasar laut hingga naik setinggi 6 meter dari semula dan olakan ini akan mengakibatkan terbentuknya tsunami yang mematikan, yang membawa energi 2 kiloton TNT dan menyapu pantai Padang dengan gelombang berketinggian 1,5 meter. Namun dibalik keberuntungan itu, masih terselip satu potensi ancaman yang mengkhawatirkan : berarti interface lempeng Australia dan Eurasia tidak banyak terpengaruh dan ini berarti monster gempa megathrust dengan magnitude ~ 9 skala Richter yang tertimbun di bawah segmen Kepulauan Mentawai masih ada dan belum terbangunkan. Tesis Danny Hilman Natawidjaja menyebutkan bahwa banyak segmen dalam patahan besar ini yang sudah “matang” karena sudah lama sekali tidak bergeser dalam kurun waktu 1 abad terakhir. Sementara tiap segmen mempunyai kemampuan membangkitkan gempa dengan magnitude 6 – 7 Skala Richter.
Kesehatan Darurat
Sebagai negara yang rawan bencana alam, manajemen kesehatan darurat dapat menjadi perhatian pada penyelenggara negara sehingga bisa membangun model Health Disaster Planning. Apalagi PBB pernah menyatakan pada decade 1990-an sebagai International Decade for Natural Disaster Reduction (IDNDR). Faktanya selama ini, manajemen kesehatan darurat tidak berjalan maksimal, padahal pada setiap daerah telah terbentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah disamping Pusat Pengendalian Krisis (PPK) di tingkat pusat dibawah Departemen Kesehatan.
Oleh Prof Dr Muh Najib Bustan, MPH, seorang pakar kesehatan darurat yang sangat langka di negeri ini menyebutkan bahwa masalah kesehatan masyarakat dianggap bersifat darurat jika mempunyai karakteristik berupa: musibah bersifat massal (mengenai masyarakat luas), memberikan gangguan berat, kejadiannya mendadak, cenderung meluas (musibah demi musibah), memberikan dampak sosial dan atau ekonomi serta memerlukan tindakan khusus segera (emergency).
Dalam bukunya Epidemiologi Kesehatan Darurat yang terbit pada 2000, kesehatan darurat merujuk pada masalah kesehatan masyarakat yang bersifat mendesak (emergensi) dan mengenai masyarakat secara luas. Kesehatan darurat berbeda dengan masalah kesehatan masyarakat biasa dan yang sudah umum dikenal. Kesehatan darurat ditandai dengan keberlangsungannya yang bersifat krisis yang memberikannya sifat kedaruratan. Keadaan krisis dapat terjadi setiap waktu yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat.
Secara teoritis, ditinjau dari segi kejadian epideminya, masalah kesehatan darurat dapat digolongkan kedalam empat bentuk utama: letupan penyakit (outbreak), pandemi, penyakit baru (new/emerging diseases) dan kiamat. Sedang kedaruratan dapat dilihat dari tiga sudut yakni: pertama, bila krisis terjadi sebagai perubahan mendadak dari suatu keadaan yang selama ini berlangsung normal dan mendadak berubah menjadi buruk; kedua, krisis bisa merupakan perubahan terbalik dari segala upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang sedang dibangun; dan ketiga, krisis bisa terbentuk sebagai akibat dari perubahan lingkungan yang mengubah keseimbangan alamiah yang ada.
Manajemen Kesehatan Darurat
Berdasarkan praktek-praktek terbaik tentang penanganan kesehatan darurat di berbagai negara, setidaknya ada lima langkah yang harus dilakukan pemerintah dalam menangani bencana sehingga tidak selalu terulang kejadian mismanajemen dalam penanganan korban bencana, termasuk bencana gempa bumi (tektonik, vulkanik atau gempa buatan).
Langkah pertama adalah survailans aktif berupa active morbidity/mortality surveillance. Meskipun bencana gempa sering datang mendadak, namun antisipasi berupa penulusuran data dari kejadian gempa sebelumnya sudah harus dipersiapkan direncanakan. Pencatatan dan pelaporan terhadap segala sesuatu yang berhubungan secara langsung atau tidak langsung dengan kejadian kesehatan darurat sudah harus dikerjakan oleh badan terkait (misalnya Pusat Pengendalian Krisis, Depkes). Bila situasinya mendesak, maka rapid assessment harus segera dilakukan. Dari hasil surveilans bisa menghasilkan status kesehatan selama kejadian berlangsung.
Langkah kedua adalah menelusuri riwayat kejadian musibah (natural history of disaster). Penelusuran riwayat kejadian musibah memerlukan waktu yang panjang dan memerlukan proses tersendiri. Berdasarkan pada waktu kejadian (event), maka bisa dibagi atas tiga event yakni pre-event, event dan post event sehingga dapat menghasilkan kajian komprehensif suatu kejadian musibah karena senantiasa memperhatikan sebelum dan sesudah kejadian.
Langkah ketiga adalah perencanaan kesehatan darurat (health disaster planning) yang mencakup perencanaan, manajemen dan organisasi penanganan bencana. Hal-hal yang senantiasa harus diperhatikan dalam perencanaan adalah defenisi initial case, hipotesis dari keadaan dan kecenderungan epidemi, bentuk dan tujuan investigasi, strategi pengendalian, penentuan tanggung jawab personil dari tim dan penjadwalan penugasan, mobilisasi sumberdaya internal dan eksternal serta pengaturan/koordinasi dukungan tenaga kesehatan dan rumah sakit tempat penanganan korban.
Langkah keempat adalah upaya rehabilitasi (relief effort). Biasanya pada post-event justru banyak masalah kesehatan terjadi. Berbagai wabah penyakit menjangkiti masyarakat korban setelah kejadian bencana, seperti penyakit ISPA, demam, diare, dan semacamnya. Selain masalah kesehatan, pada post-even juga terjadi masalah-masalah non-kesehatan seperti masalah ekonomi (kehilangan harta benda), masalah sosial (situasi di pengungsian), dan psikologi yang bisa berdampak langsung atau tidak langsung pula pada kesehatan korban (kesehatan jiwa).
Langkah kelima adalah penelitian khusus. Biasanya suatu wabah memerlukan investigasi tersendiri untuk mengetahui penyebab suatu wabah yang terjadi pasca bencana. Suatu penelitian cepat (rapid health assessment) biasanya diperlukan untuk mengetahui kebutuhan mendesak para korban bencana.
Jadi pada dasarnya, pada tahap pre-event masyarakat yang berada pada daerah rawan bencana diajak untuk meningkatkan kepedulian (alert sign). Bila kepedulian sudah terbentuk, maka dilanjutkan pada peningkatan perhatian terhadap tanda siaga (warning sign). Terakhir adalah tindakah segera terhadap bahaya bencana (alarm sign).
(Tulisan ini dimuat di Harian Fajar, 07/10/2009)

8 Oktober 2009 Posted by | Uncategorized | , | 1 Komentar