Blog Yanti Gobel

Ilmu dan Amal Padu Mengabdi

Pentingnya Ilmu Psikologi Dalam Kesehatan

Secara umum kesehatan dibedakan atas kesehatan individu dan kesehatan masyarakat. Kesehatan individu tercermin dari kesehatan fisik dan kesehatan mental seseorang. Sehat secara fisik apabila seseorang merasa dirinya sehat dan dapat dibuktikan secara klinis ketika organ-organ didalam tubuh berfungsi normal. Sedangkan sehat secara mental meliputi sehat pada pikiran, emosional dan spiritual.
Kesehatan masyarakat sebagai sebuah cabang keilmuan mempelajari cara-cara pencegahan penyakit dengan mengenali faktor-faktor risiko penyakit sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara agregat. Prof. Winslow dari Yale University memberikan batasan ilmu kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, dan efisiensi melalui usaha masyarakat yang terorganisir untuk meningkatkan sanitasi lingkungan, kontrol infeksi di masyarakat, pendidikan individu tentang kebersihan perorangan, pengorganisasian pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosa dini, pencegahan penyakit dan pengembangan aspek sosial, yang akan mendukung agar setiap orang di masyarakat mempunyai standar kehidupan yang kuat untuk menjaga kesehatannya (Leavel and Clark, 1958).
Dalam disiplin ilmu kesehatan masyarakat, dipelajari Ilmu Perilaku untuk pendidikan kesehatan. Biasanya disebut Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP). Dalam disiplin ilmu tersebut, mempelajari pentingnya Psikologi dalam dunia Kesehatan menyangkut ilmu-ilmu perilaku kesehatan untuk memberikan kontribusi nyata kepada peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Pengembangan keilmuan dibidang Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku diarahkan kepada aspek konseptual dan aspek terapan, di antaranya metode dan teknologi pendidikan promosi kesehatan serta bidang ilmu perilaku kesehatan dengan mempertimbangkan dan mengapresiasi aspek-aspek sosial budaya masyarakat. Peminat cabang keilmuan psikologi kesehatan diharapkan memiliki kemampuan merumuskan, menganalisis, merencanakan, menerapkan dan mengevaluasi berbagai strategi, metode dan teknik promosi kesehatan untuk meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan masyarakat.
Pendekatan Perilaku Dalam Kesehatan Masyarakat
Kesehatan merupakan hasil perpaduan berbagai faktor yang mempengaruhi, baik secara internal maupun secara eksternal. Secara internal, kesehatan dipengaruhi oleh kesehatan fisik dan kesehatan psikis, sedangkan secara eksternal dipengaruhi oleh masalah sosial, budaya, politik, ekonomi, pendidikan, lingkungan, dan sebagainya.
Upaya penyelenggaraan kesehatan dibedakan atas tiga yakni: (1) Primary Care, sarana pemeliharaan kesehatan primer; (2) Secondary Care, sarana pemeliharaan kesehatan tingkat dua; (3) Tertiery Care, sarana pemeliharaan kesehatan tingkat tiga. Sasaran primary care seperti kepala keluarga untuk kesehatan umum, ibu hamil dan menyusui, anak usia sekolah, dan sebagainya. Sedangkan sasaran secondary care meliputi pemasyarakat tanaman obat keluarga (toga), penyuluhan cara menjaga lingkungan sehat, dan seterusnya. Sementara sasaran tertiery care adalah para penentu kebijakan bidang kesehatan, baik pada tingkat pusat maupun level daerah.
Untuk memasyarakatkan pemeliharaan kesehatan melalui pola hidup sehat, maka pendekatan ilmu perilaku sangat penting. Menurut L. Green, perilaku seseorang dipengaruhi oleh tiga faktor yakni faktor predisposisi, faktor pemungkin (enabling factors) dan faktor penguat (reinforcing factors). Faktor predisposisi meliputi pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi, dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan dan tingkat sosial-ekonomi, dan sebagainya. Faktor pemungkin mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat, misalnya ketersediaan air bersih, tempat pembuangan sampah dan tinja, ketersediaan makanan bergizi, termasuk keterjangkauan pada sarana pelayanan kesehatan seperti Puskesmas, Posyandu, Polindes, dan sebagainya. Sedangkan faktor penguat mencakup faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, perilaku petugas kesehatan, serta peraturan perundang-undangan dibidang kesehatan mulai dari undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan teknis dibidang kesehatan.
Untuk mempengaruhi perilaku masyarakat agar menerapkan pola hidup sehat, pendekatan pendidikan kesehatan mutlak dilakukan. Karena pada dasarnya, Pendidikan adalah sebuah proses sosialisasi ilmu dan nilai untuk mempengaruhi orang lain secara individu atau kelompok agar mau mengikuti ilmu dan nilai yang diajarkan seorang pendidik kesehatan. Unsur-unsur dalam pendidikan kesehatan untuk mempengaruhi perilaku seseorang adalah unsur input dan unsur output. Unsur input seperti sarana pendidikan dan tenaga pendidik sedang unsur output yakni proses pendidikan yang dilakukan sebagai upaya untuk mempengaruhi orang lain agar melakukan tindakan sesuai yang diharapkan petugas pendidik.
Studi Kasus Perilaku Merokok
Berbagai penelitian kesehatan tentang dampak rokok sudah banyak dilakukan para ahli kesehatan masyarakat. Namun meski telah banyak dilakukan penelitian dan sudah terbukti berdampak buruk bagi kesehatan, jumlah perokok tidak kunjung turun, utamanya dinegara-negara berkembang termasuk Indonesia. Untuk itu, dibutuhkan pendekatan perilaku dalam promosi kesehatan tentang bahaya rokok.
Publikasi terbaru hasil penelitian tentang rokok dirilis pada 6 Februari 2012 dalam jurnal Archives of General Psychiatry, yang dilakukan Severine Sabia dan rekan-rekannya dari University College London. Penilaian fungsi mental para responden dilakukan selama tiga kali selama kurun waktu 10 tahun. Sedangkan penilaian status merokok responden dilakukan enam kali dalam kurun waktu 25 tahun. Usia rata-rata responden adalah sekitar 56 tahun ketika penilaian pertama dilakukan.
Hasil analisis data sekitar 5.100 pria dan lebih dari 2.100 wanita terkait fungsi mental, seperti memori, pembelajaran, dan pengolahan pikiran. Peneliti menemukan bahwa di kalangan kaum pria, merokok berhubungan dengan merosotnya kemampuan otak yang lebih cepat. Selain itu, penurunan yang lebih massif terjadi pada pria yang terus merokok selama masa penelitian. Peneliti menemukan bahwa pria yang berhenti merokok dalam 10 tahun sebelum penilaian pertama dilakukan ternyata masih berisiko mengalami penurunan mental, terutama terkait fungsi “eksekutif” pada otak. Namun, mereka yang telah berhenti merokok dalam jangka waktu lama, cenderung mengalami penurunan fungsi otak lebih lambat.
Dalam riset tersebut, Severine Sabia dan rekan-rekannya tidak menemukan hubungan antara efek merokok dan penurunan fungsi mental pada kaum wanita. Alasan untuk perbedaan jenis kelamin ini belum terungkap dengan jelas. Tetapi, hal itu mungkin berkaitan dengan fakta bahwa pria umumnya cenderung merokok lebih banyak ketimbang wanita.
Untuk merubah perilaku merokok, maka beberapa teori perilaku bisa menjadi rujukan seperti Teori Kurt Lewin, Teori Festinger, dan sebagainya. Menurut Kurt Lewin (1970), perilaku manusia adalah suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong (driven forces) dan kekuatan-kekuatan penahan (restining forces). Pada teori Kurt Lewin, melakukan perubahan perilaku dengan cara melakukan ketidakseimbangan antara kedua kekuatan didalam diri seseorang sehingga ada tiga kemungkinan terjadinya perubahan pada diri seseorang.
Ketiga kemungkinan tersebut adalah pertama, kekuatan-kekuatan pendorong meningkat; adanya stimulus yang mendorong untuk terjadinya perubahan-perubahan perilaku, seperti penyuluhan kesehatan dan bentuk-bentuk promosi kesehatan lainnya. Kedua, kekuatan-kekuatan penahan menurun; adanya stimulus yang memperlemah kekuatan penahan seperti anggapan bahwa merokok tidak mengganggu kesehatan. Anggapan yang keliru tersebut dapat memperlemah driven forces. Ketiga, kekuatan pendorong meningkat sedang kekuatan penahan menurun; kondisi inilah yang memungkinkan terjadinya perubahan perilaku, termasuk perilaku merokok.
Dari studi kasus perilaku merokok, maka bisa dilihat hubungan erat pentingnya Ilmu Psikologi dalam dunia kesehatan. Apalagi Ilmu Kesehatan Masyarakat yang memiliki pendekatan preventif dan promotif, maka penggunaan Psikologi sangat penting dan relevan dalam upaya-upaya pencegahan ancaman terjangkit penyakit.

Iklan

28 Mei 2012 Posted by | Uncategorized | , , , | Tinggalkan komentar

Dampak Video Mesum Bagi Kesehatan Masyarakat

Video mesum yang melibatkan seseorang yang mirip dengan Ariel Peterpan, Luna Maya dan Cut Tary beredar secara massif ditengah masyarakat. Peredarannya melalui ponsel pribadi dan internet sehingga menjadi tontonan masyarakat mulai dari anak remaja hingga nenek, dari pencukur rambut hingga pegawai di kampus. Demam pornografi pun merebak di tengah masyarakat akibat ulah pembuat dan peng-upload pertama video itu di facebook.
Demam pornografi sangat besar dampak negatifnya bagi kesehatan masyarakat. Para penikmat pornografi akan cenderung berperilaku seksual menyimpang atau memperbesar praktek kekerasan seksual. Akibatnya pelecehan seksual mudah terjadi di tempat-tempat umum seperti yang terjadi di dalam bus Transjakarta baru-baru ini, dan banyak tempat lainnya yang tidak terungkap oleh media. Bahan-bahan pornografi sekarang relatif mudah diakses seperti melalui internet, video, film dan buku-buku.
Selain pelecehan seksual, hamil diluar nikah pada sebagian remaja putri adalah bentuk lain dari efek negatif pornografi. Usia remaja adalah masa awal kematangan organ reproduksi. Bila remaja usia didik hamil diluar nikah, maka pendidikannyapun akan terancam karena banyak sekolah tidak mentolerir adanya siswi hamil dalam masa sekolah. Resikonya, remaja putri yang hamil diluar nikah akibat demam pornografi akan terganggu masa depannya akibat pemutusan masa pendidikan di sekolah. Belum lagi sanksi sosial berupa cemoohan masyarakat hingga pengucilan dari pergaulan dilingkungan sekitar.
Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan Kanada, remaja pengkonsumsi pornografi sangat permisif terhadap seks bebas dan kegiatan ekstra marital (hubungan diluar nikah). Sebuah studi di AS menyebutkan bahwa remaja yang mengonsumsi pornografi menyebutkan bahwa 31 persen dari laki-laki dan 18 persen dari perempuan mengaku meniru beberapa adegan seksual yang mereka lihat dari pornografi dalam beberapa hari setelah melihat. Sementara itu, dua pertiga dari laki-laki dan 40 persen perempuan ingin mencoba beberapa perilaku yang mereka saksikan.
Demikian halnya di Kanada yang memfokuskan penelitian dampak pornografi bagi anak-anak. Peter Stock dari Canadian Institute for Education on the Family, pada 2004, melakukan penelitian mengenai pornografi anak mengatakan bahwa masyarakat Kanada telah menjadi masyarakat yang semakin pornografi dalam beberapa dekade terakhir yang berimplikasi mengganggu anak-anak yang dibesarkan di dalamnya. Sejumlah studi ilmiah telah menunjukkan korelasi kuat antara paparan pornografi dan perilaku seksual yang menyimpang oleh anak-anak. Ada pula penelitian yang menyatakan bahwa pornografi merugikan anak-anak. Alasannya perkembangan seksual seorang anak terjadi secara bertahap dari masa kanak-kanak. Paparan terhadap pornografi membentuk perspektif seksual anak dengan menyediakan informasi mengenai aktivitas seksual. Namun, jenis informasi yang diberikan oleh pornografi tidak dengan perspektif seksual yang normal (tempointeraktif.com).
Seorang dosen di School of Social Work Université de Montréal, Kanada bernama Simon Louis Lajeunesse pernah melakukan penelitian pada akhir 2009 mengenai pengaruh pornografi pada pria usia dua puluhan tahun. Lajeunesse memulai penelitian dengan mencari sampel pria usia dua puluhan yang tidak pernah mengkonsumsi pornografi. Setelah itu kandidat doctor itu mewawancarai 20 mahasiswa laki-laki heteroseksual yang mengkonsumsi pornografi. Hasil riset Lajeunesse menyimpulkan bahwa 90 persen pornografi dikonsumsi di Internet, sedangkan 10 persen berasal dari toko video. Rata-rata, pria lajang menonton pornografi tiga kali seminggu selama 40 menit. Lajeunesse menemukan kebanyakan anak laki-laki mencari materi pornografi pada usia 10 tahun (ScienceDaily, 1 Desember 2009).
Jenis Penyimpangan Seksual
Serbuan pornografi secara massif akan mendatangkan efek massal pada kesehatan masyarakat berupa praktek penyimpangan seksual di tengah masyarakat. Penyimpangan seksual dapat terjadi pada semua orang yang demam pornografi meski secara ragawi terlihat seperti orang-orang normal pada umunya. Perbedaannya terletak pada aspek kejiwaan yang tidak wajar dalam menjalani kebutuhan biologisnya.
Penyimpangan seksual menurut Dr. A.N. Farag dalam bukunya “Dasar-dasar Seksologi” (Galeri Wacana, 2003) ada beberapa macam atau bentuk. Diantaranya yang popular adalah perilaku homoseksual, sadomasokisme, dan ekshibisionisme. Homoseksual adalah perilaku seksual menyimpang akibat kelainan kejiwaan dengan menyukai sesama jenis kelamin (gay untuk laki-laki, lesbian untuk perempuan). Sementara sadomasokisme adalah perilaku seksual menyimpang yang memperlakukan pasangan seksual dengan cara menyakiti secara fisik untuk mendapatkan kenikmatan seks. Berbeda dengan sadomasokisme, ekshibisionisme adalah perilaku seksual menyimpang yang mendapatkan kenikmatan seksual dengan mempertontonkan alat kelamin kepada orang lain dengan harapan orang lain meresponnya dengan rasa takjub, jijik, takut atau terkejut.
Perilaku seksual menyimpang lainnya adalah sodomi, pedophilia dan incest. Sodomi adalah kelainan seksual khusus bagi pria yang suka melakukan kegiatan seks melalui dubur pasangan seks baik pasangan sesama jenis (homo) maupun dengan pasangan perempuan. Sementara pedophilia adalah kelainan seksual orang dewasa yang menyukai anak-anak dibawah umur untuk dijadikan sasaran kontak seksual. Lain halnya dengan incest yakni suatu hubungan seksual yang dilakukan oleh sesama anggota keluarga sendiri seperti antara ayah dan anak perempuan dan ibu dengan anak laki-lakinya.
Bentuk-bentuk seks menyimpang lainnya yang jarang diberitakan terjadi di Indonesia adalah Fetishisme, Voyeurisme, dan Frotteurisme. Fetishisme adalah suatu penyimpangan seksual yang gemar menyalurkan hasrat libido seksnya pada benda-benda mati seperti celana dalam, BH, pakaian, bando, selendang sutra, handuk, kaus kaki, dan sebagainya sambil melakukan masturbasi/onani. Sedangkan Voyeurisme adalah perilaku kelainan seks untuk mencari kepuasan seks dengan cara melihat atau mengintip orang lain yang sedang melakukan hubungan suami isteri, sedang mandi, sedang telanjang, dan seterusnya. Frotteurisme adalah penyimpangan seksual khusus laki-laki kepada tubuh perempuan dengan jalan menggesek-gesek/menggosok-gosok alat kelaminnya untuk mendapatkan kenikmatan seks di area publik seperti di dalam bis, kereta, diatas pesawat, dan tempat umum lainnya.
Demikian halnya dengan bentuk seksual menyimpang seperti Necrophilia, Zoophilia, dan Bestially. Necrophilia adalah seseorang yang mendapatkan kenikmatan seksual dengan cara melakukan hubungan seks dengan orang yang sudah mati (mayat). Zoophilia adalah seseorang yang terangsang organ seksualnya ketika melihat hewan melakukan kontak seks dengan sesama hewan. Sedang Bestially adalah suatu penyimpangan seksual yang gemar melakukan hubungan seks dengan binatang seperti anjing, ayam, bebek, kambing, kerbau, kucing, kuda, sapi, dan sebagainya.
Pencegahan dan Pengobatan
Salah satu cara mencegah penyimpangan seksual secara massal adalah dengan cara membendung arus deras pornografi, sedangkan secara individu adalah cara pendidikan seks dengan pendekatan agama. Pendidikan seks yang benar didalam lingkungan keluarga dilakukan sejak anak masih kecil. Ketika beranjak remaja, anak-anak diberi informasi tentang seks seperti kebiasaan masturbasi yang diharamkan oleh agama.
Sementara pengobatan bagi anak-anak yang terlanjur suka melakukan masturbasi dengan gejala-gejala abnormal. Gejala abnormal biasanya menyebabkan munculnya gangguan jiwa seperti gangguan kepribadian neurosa, perversi maupun psikosa. Pendekatan psikoterapi terhadap penderita penyimpangan seksual untuk menciptakan suasana agar penderita dapat menumpahkan semua masalahnya tanpa ditutup-tutupi. Pendekatan Hypnoterapi diterapkan pada penderita dengan kelainan seksual kompulsif dengan mengekspose pikiran bawah sadar penderita.
Terakhir adalah pendekatan farmakoterapi terhadap penderita penyimpangan seksual berupa pengobatan dengan estrogen (eastration), pengobatan dengan neuroleptik, dan pengobatan dengan transquilizer. Pengobatan Estrogen dapat mengontrol dorongan-dorongan seksual yang tadinya tidak terkontrol menjadi lebih terkontrol. Pengobatan dengan neuroleptik untuk memperkecil dorongan seksual dan mengurangi kecemasan. Pengobatan Diazepam dan Lorazepam berguna untuk mengurangi gejala-gejalan kecemasan dan rasa takut dengan diberikan secara hati-hati karena dalam dosis besar dapat menghambat fungsi seksual secara menyeluruh.

(Dimuat di Tribun Timur, Jumat, 16 Juli 2010)

17 Juli 2010 Posted by | Uncategorized | , , , | Tinggalkan komentar

Puasa Itu Sehat

Bagi umat Islam, berpuasa adalah kewajiban pada bulan Ramadhan dalam kalender hijriyah. Berpuasa berarti menahan lapar dan haus pada siang hari dengan tidak mengonsumsi apapun ke dalam tubuh. Disamping mengandung manfaat bagi rohani, berpuasa juga berfaedah secara jasmaniah. Sabda Nabi Muhammad SAW, ”Berpuasalah kamu, maka kamu akan menjadi sehat.”
Dalam perspektif kesehatan, puasa mengandung banyak manfaat. Di negara-negara maju, puasa dijadikan salah satu bentuk terapi (fasting therapy) untuk penyembuhan beberapa jenis penyakit, utamanya yang terkait dengan kelebihan makan. A. Setiono Mangoenprasodjo dalam bukunya “Detoksifikasi – Terapi Puasa Menuju Sehat”, puasa merupakan metode detoksifikasi dan penyembuhan paling tua dalam sejarah pengobatan manusia. Pada tahap awal puasa, tubuh membuang sejumlah besar ampas dan sisa-sisa pencernaan. Tahap kedua, tubuh akan membersihkan kerak (mukus/lendir yang mengeras), lemak, sel-sel sakit dan haus, dan zat-zat bersifat racun lainnya. Puasa berlanjut, proses pembersihan akan terjadi lebih menyeluruh. Proses detoksifikasi efektif jika puasa dilakukan dengan cara yang benar, dengan pola makan seimbang dan banyak mengonsumsi buah dan sayur.
Dalam jurnal Islamic Medical Asosociation of South Africa, Dr. Farouk Haffejee memperkenalkan petunjuk berpuasa yang sehat dan nyaman. Karena perut dibiarkan kosong selama beberapa jam, akan lebih baik jika mengkonsumsi makanan yang lunak dan mudah dicerna termasuk makanan yang kaya serat saat sahur dibanding mengkonsumsi makanan keras. Makanan lunak akan bertahan lama di perut sampai delapan jam sementara makanan keras hanya mampu bertahan sekitar tiga sampai empat jam. Makanan yang bisa dicerna lambat oleh pencernaan sehingga kadar gula dalam tubuh naik secara perlahan selain lebih banyak mengandung serat dan vitamin.
Menurut Haffejee, jenis makanan yang termasuk karbohidrat kompleks bisa kita dapatkan dari jenis biji-bijian seperti gandum, buncis, tepung kaya protein, beras, semolina (gandum yang banyak digunakan untuk membuat pasta). Sedangkan makanan yang cepat dicerna tubuh adalah makanan yang termasuk jenis karbohidrat simpleks yang merupakan karbohidrat yang cepat diserap tubuh, karena banyak mengandung glukosa dan siap diserap. Yang termasuk didalamnya antara lain gula, susu, permen, dan cookies. Makanan kaya serat terdiri dari gandum utuh, butir dan bibit yang berisi bekatul, sayur seperti buncis hijau, kacang polong, sumsum, mealies, bayam, daun umbi bit (kaya zat besi), buah-buahan yang bisa dimakan beserta kulitnya, buah-buahan kering terutama aprikot, ara dan buah prem kering dan kacang almon. Seperti halnya makanan yang kita konsumsi setiap hari, selama bulan puasa usahakan tetap mengkonsumsi makanan dengan komposisi seimbang, karbohidrat, daging/ayam/ikan, roti/sereal serta produk olahan susu. Batasi konsumsi makanan yang digoreng, karena makanan yang digoreng menyebabkan gangguan pencernaan, problem jantung, serta masalah berat badan.
Temuan Ilmiah
Berdasarkan data penelitian, berpuasa bisa meningkatkan kolesterol baik (HDL) sebanyak 25 titik dan menurunkan lemak trigliserol sekitar 20 titik. Lemak trigliserol merupakan bahan pembentuk kolesterol jahat (LDL). Sehingga berpuasa sangat baik dilakukan bagi penderita stroke dan jantung karena penderita penyakit ini kadar kolesterolnya dalam darah sangat tinggi yang dalam jangka panjang mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah, penyumbutan pada otak (stoke) maupun penyumbatan pada jantung (penyakit jantung).
Puasa juga dapat mengurangi produksi senyawa oksigen yang mengandung racun (radikal bebas oksigen). Bila radikal bebas oksigen berlebihan dalam tubuh, maka akan mengurangi aktifitas kerja enzim, kerusakan dinding sel dan menyebabkan terjadinya mutasi. Senyawa radikal bebas dapat memperparah sekitar 50 penyakit degeratif, termasuk penyakit stroke, penyakit jantung dan kanker.
Penderita penyakit diabetes pun akan sangat merasakan manfaat bila melakukan puasa. Pada saat berpuasa, konsumsi kalori akan berkurang sehingga mengurangi sirkulasi hormon insulin dan kadar gula darah. Sebaliknya, berpuasa akan meningkatkan sensitifitas hormon insulin dalam menormalkan kadar gula darah. Dengan gula darah yang terkontrol dengan baik akan mencegah datangnya penyakit diabetes tipe-2.
Meski puasa menyehatkan, gangguan penyakit dapat saja terjadi bila makan berlebihan yang menyebabkan terjadi gangguan pencernaan. Biasanya, saat berbuka puasa terlalu banyak mengonsumsi makanan berlemak dan gorengan, makanan pedas, dan makanan yang memicu produksi gas buangan, seperti telur dan kubis. Untuk mencegahnya, seharusnya banyak mengkonsumsi jus buah dan air mineral serta mengurangi minuman mengandung soda. Selain gangguan pencernaan, konstipasi (sembelit) juga sering dialami ketika berpuasa. Sembelit (susah buang air besar) dapat menyebabkan ambein, rasa nyeri pada saluran anal dan perut terasa kembung. Untuk mencegahnya, sebaiknya mengkonsumsi makanan tinggi serat (biji-bijian dan buah-buahan), makanan yang mengandung karbohidrat seperti roti atau gandum yang mengandung bekatul serta minum air putih yang banyak.
Salah Kaprah
Dalam menjalankan amalan di bulan puasa, sebagian umat Islam di Indonesia masih menganggap berbuka puasa dengan mengonsumsi makanan yang manis dianggap “sunnah”, bertolak dari kebiasaan Rasulullah Muhammad ketika berbuka puasa dengan kurma yang mengandung rasa manis. Sementara kurma yang dikonsumsi orang Indonesia bukanlah kurma segar seperti yang dikonsumsi Rasulullah karena sudah diberi gula agar dapat bertahan selama pengiriman dari wilayah Timur Tengah ke Indonesia. Nabi Muhammad Saw berkata : “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.”
Kurma mengandung karbohidrat kompleks (complex carbohydrate), sedang makanan atau minuman yang mengandung gula adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate) sehingga jelas berbeda kandungan gizinya. Menurut ahli gizi, berbuka puasa dengan makanan/minuman manis yang mengandung gula (karbohidrat sederhana) justru dapat merusak kesehatan. Mengapa demikian? Ketika menjalankan puasa, kadar gula darah dalam tubuh menurun. Apabila mengonsumsi makanan/minuman yang manis, kadar gula darah akan melonjak naik secara langsung, sementara bila mengonsumsi kurma (utamanya dalam kemasan yang masih segar) maka naiknya berlangsung perlahan. Untuk menjadi glikogen, kurma yang mengandung karbohidrat kompleks perlu proses yang memakan waktu.
Berbicara tentang gula dalam darah maka kita akan menyinggung tentang glycemix index (GI). GI secara sederhana dipahami sebagai laju perubahan makanan diubah menjadi gula dalam tubuh. Bila dalam makanan makin tinggi glikemik indeks maka makin cepat makanan itu diubah menjadi gula menyebabkan makin cepat menghasilkan respons insulin. Sementara itu makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin banyak menimbun lemak. Sementara penimbunan lemak dalam tubuh tidak baik bagi kesehatan.
Bagi yang berpuasa, bila seharian perut kosong dan langsung mengisi perut dengan makanan/minuman yang mengandung glikemiks indeks tinggi, maka respon insulin dalam tubuh melonjak naik. Respon insulin dalam tubuh akan cepat merespon untuk menimbun lemak. Mengonsumsi kurma pun perlu dibatasi karena kurma yang sampai ke Indonesia adalah jenis “manisan kurma”, bukan kurma asli sebagaimana yang biasa dikonsumsi Rasulullah.
Cara sehat untuk berbuka puasa adalah dengan cara meneguk segelas air putih sebelum menunaikan shalat maghrib. Setelah shalat maghrib, kemudian makan nasi. Nasi mengandung karbohidrat kompleks yang memakan waktu untuk diproses dalam tubuh sehingga respon insulin dalam tubuh tidak melonjak naik. Respon insulin yang rendah menyebabkan tubuh menabung lemak dalam kadar rendah pula. Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud).
Tidak mengherankan bila pada sebagaian masyarakat Muslim pada saat usai Ramadhan justru mengalami bentuk tubuh yang lebih berisi karena ketika berpuasa dijejali makanan/minuman manis yang mengandung korbohidrat sederhana. Bentuk tubuh yang berisi karena terjadi penimbunan lemak pada daerah-daerah tertentu pada tubuh seperti pada perut, pinggang, pipi, paha, bokong, dan belakang lengan. Penimbunan lemak terjadi karena otot yang mengecil akibat berpuasa justru dibanjiri dengan insulin melalui konsumsi makanan yang mengandung kadar gula yang tinggi. Sehingga tidak mengherankan bila pada orang yang berpuasa tubuhnya lemas, sering mengantuk atau tubuh bertambah gemuk karena kebanyakan konsumsi makanan yang manis-manis.
(Tulisan ini telah dimuat di harian Fajar, 09 September 2009. Penulis, Fatmah Afrianty Gobel adalah Ketua Prodi Kesmas FKM UMI Makassar)

6 September 2009 Posted by | Uncategorized | , | Tinggalkan komentar